
Hampir satu jam menunggu, keluarlah seorang dokter wanita yang tentunya memakai jas putih, jas yang menyatakan dia seorang dokter, disebelah kanan dada bajunya tertuliskan nama dokter Nia. Didampingi oleh seorang perawat yang membawa kertas yang sudah
Mama Vina, Raymond dan Naura pun ikut berdiri.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya mama Vina dengan cepat.
"Bu, pak" ucap dokter Nia.
"Bu Rini terkena kanker serviks stadium tiga jika tidak diatasi kemungkinan terburuknya akan menyebar ke organ lainnya jika sudah masuk stadium lanjut" terang dokter tersebut.
"Apa dok?" tanya mama Vina yang sangat terkejut.
Tentu Raymond dan Naura pun sangat terkejut.
"Bu Rini harus dilaksanakan operasi pengangkatan rahim bu" terang dokter Nia.
"Bagaimana bisa dok, anak saya belum mempunyai anak" ucap mama Vina dengan lirihnya.
Tentu sebagai seorang ibu, dia sangat mengkhawatirkan anak perempuannya ini.
"Apa tidak ada cara lain dok?" tanya Naura yang juga merasa cemas, bagaimana pun bagi Naura ini kakak iparnya, walau pernah berbuat jahat terhadap dia.
"Hanya obat-obatan tetapi juga tidak dapat menghambat penyebaran" terang dokter Nia.
"Apa sekarang kakak saya sudah sadar dok?" tanya Raymond.
"Sudah pak!" Jawab dokter Nia.
Mama Vina pun segera memasuki ruangan anaknya. Meninggalkan Raymond dan Naura bersama dokter Nia.
"Ma" panggil Rini dengan suara lemah.
__ADS_1
"Aku kenapa?" tanya Rini.
"Nak, ka-mu" ucap mama Vina terputus.
"Katakan ma" lirih Rini.
"Kamu terkena kanker serviks, kamu harus operasi pengangkatan rahim" ucap mama Vina.
"Enggak ma, enggak mungkin aku terkena penyakit seperti itu" teriak Rini sambil memukul-mukul sendiri bagian bawah perutnya.
"Ini bisa sembuh nak" ucap mama Vina pilu.
"Tapi ma, aku ingin punya anak" tangis Rini pun pecah.
Rini sangat sedih atas kejadian ini, dia merasa dunianya hancur.
"Ma, apa suami ku sudah tahu?" tanya Rini.
"Mama yakin dia sangat mengkhawatirkan mu nak" ucap mama Vina lagi.
"Ma, aku takut jika Zack akan mencampakkan ku" tangis Rini.
"Aku, aku sangat ingin mempunyai anak" lirih Rini.
"Mengapa ini terjadi pada ku" ucap Rini sangat lemah.
"Tenang nak, yang penting suami mu akan selalu bersama mu saja, anak kalian bisa mengadopsi, mama yakin Zack akan selalu bersama mu" ucap mama Vina menenangkan anaknya.
"Aku enggak tau ma" jawab Rini dengan tatapan mata kosong, lurus ke depan.
"Mama yakin, Zack tidak akan meninggalkan mu! Dia begitu menyayangi mu" ucap mama Vina.
__ADS_1
"Mama mau memberitahu jika kamu berada dirumah sakit"
"Iya ma" jawab Rini.
Beberapa saat kemudian Naura dan Raymond pun memasuki ruangan rawat.
"Kak, sabar ya!" ucap Naura turut prihatin tentang penyakitnya mantan kakak iparnya yang kini menjadi kakak ipar lagi.
"Sabar kata mu?" jawab Rini dengan sinisnya.
"Kau tau apa yang aku rasa, aku sudah enggak bisa punya anak" ucap Rini dengan kasar.
"Kak" bentak Raymond.
"Kau ini tidak tau berada dimana sekarang dan posisi mu dalam keadaan seperti ini masih saja bisa berbicara begitu terhadap Naura" jawab Raymond.
Raymond merasa tidak habis pikir, sifat kakaknya bisa begitu buruk.
"Ini adalah buah hasil perbuatan kakak terhadap Naura" ucap Raymond.
"Ray, bisa tidak kamu tidak membela wanita ini" ucap mama Vina yang merasa saat ini tersudutkan.
"Ma, ini lah hasil kalian, kalian sudah harusnya sadar" jawab Raymond.
"Ray, sudah" ucap Naura pelan menenangkan Raymond.
Raymond hanya menggenggam tangan Naura yang berada atas bahu Raymond saat dia berucap tadi.
"Ini kesialan yang di bawa wanita itu, gara-gara kau kembali padanya, aku jadi begini" ucap Rini sambil menunjuk Naura.
"Kak cukup, aku tidak mau kau menyalahkan Naura atas hal ini, ini semua salah mu sendiri" jawab Raymond.
__ADS_1
Kali ini Raymond akan terus membela Naura, tidak akan membiarkan Naura terus dijatuhkan oleh mama dan kakaknya lagi.