
Naura dan anaknya Evano telah sampai terlebih dahulu ditaman kota, dia memarkirkan motornya terlebih dahulu.
Evano yang terlihat sangat riang dan bahagia sekali pun segera turun dari motor matic kesayangan Naura.
Evano segera melepas helm yang berada dikepalanya, lalu diletakkan di atas jok motor matic itu, kemudian dia langsung berlari kearah lain.
"Evano!" teriak Naura dengan keras bahkan itu terdengar bukan hanya teriakkan biasa, tetapi sudah sebuah bentakkan.
Kemudian Evano pun berhenti mendengar teriakan Naura yang begitu keras, Naura sampai lupa dia berada di keramaian, mungkin bila dikatakan urat malu Naura telah hilang.
Tidak dipungkiri Naura bukan lah seorang ibu yang baik, sesabar-sabarnya dia, dia juga akan terlihat seperti ibu yang kejam karena dia belum bisa menjadi seorang ibu yang lemah lembut terhadap anaknya, sesekali dia akan membentak anaknya atau pun sedikit melayangkan tangannya mencubit daging anaknya, hingga anaknya kesakitan jika Evano sudah tidak bisa di beritahu baik-baik.
Naura pun dengan cepat mengejar Evano, lalu menjewer telingga Evano dengan kesalnya.
"Aduh maaa, sakiitttt!" Evano mengaduh sakit ketika tangan Naura sudah berada ditelingganya.
"Mama, sudah peringatkan kamu dari sebelum kita jalan, jangan main lari-lari saja ditempat umum tanpa izin mama, Evano!" Naura mengeluarkan suaranya dengan nada pelan tetapi sangat menekan. Dia pun berjongkok untuk mensejajarkan tinggi dengan Evano.
"Ma-af ma, Evano terlalu bahagia berada disini!" jawab Evano dengan menunduk.
"Kamu kalau enggak mau dengarkan mama, kamu mending enggak usah ikut mama saja" Naura berkata dengan kesalnya.
__ADS_1
"Ma-af ma!"
Naura terdiam sesaat, kemudian mengambil nafas dalam kemudian menghembuskan kembali.
"Evano, maaf mama bentakin kamu di keramaian ini, mama hanya tidak ingin kamu terluka dengan berlari begitu ditempat baru untuk mu, lihat disitu jalan raya, kita parkir tidak jauh dari jalan raya, jika kamu tertabrak sepeda motor atau pun mobil bagaimana?"
"Itu yang enggak mau mama, jika terjadi sama kamu" membayangkannya saja Naura masih sangat trauma.
Naura sempat bergetar tubuhnya ketika meneriaki Evano, dia sangat takut jika Evano harus sampai terluka.
"Mama juga tidak ingin kamu jauh-jauh dari mama karena mama tidak ingin kamu hilang, jika kamu jauh dari mama, maka pengawasan dari mama akan berkurang!" Terang Naura pada anaknya.
Evano hanya terdiam menunduk mendengarkan mamanya berbicara, tidak berani melawan mamanya, karena ini memang sudah salah bagi Evano.
"Janji ya enggak boleh gitu lagi!" Naura berucap kepada anaknya.
"Janji ma"
"Sayang mama"
"Mama juga sangat menyayangi mu"
__ADS_1
"Bolehkah aku menyayangi mu juga" ucap pelan seorang pria yang berada dibelakang Naura.
Tetapi Naura sangat mengenal suara pria yang barusan berucap, walau pelan, tetapi kata-katanya tidak jelas bagi Naura.
"Yuno!" seru Naura yang langsung berbalik kan kepalanya kebelakang dengan diikut setengah tubuhnya.
Dan ini kali pertamanya bagi Evano melihat mamanya mempunyai teman seorang pria. Evano menatap pria itu dalam kebinggungan. Tetapi tangannya Evano tetap berada dalam genggaman Naura.
"Apa yang kamu barusan katakan, aku tidak dengar jelas, suara mu terbawa angin!" Naura berkata sambil membetulkan posisi anaknya yang berada disamping menjadi kedepan.
"Apakah ini anakmu?" Yuno yang sudah memperhatikan anak laki-laki yang bersama Naura sedari tadi menatapnya.
"Iya" jawab Naura singkat.
"Hai nama kamu siapa, kenalin aku Yuno, kamu bisa panggil om Yuno!" Yuno pun berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Evano. Yuno juga mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan semula Naura.
Evano menatap kearah Naura yang sedang berdiri, dengan isyarat mata, Naura memberikan kode, bahwa 'iya'.
"Aku Evano om!" Jawab Evano dengan suara khas anak-anak tentunya.
"Kamu anak baik, pintar!" jawab Evano sambil mengelus kepala Evano.
__ADS_1
Naura selalu mengajarkan Evano untuk bersikap manis, baik, ramah, apa lagi dengan orang yang lebih tua, harus penuh sopan santun. Tetapi tetap waspada pada orang lain yang tidak dikenal yang tampak mencurigakan.