
Kenzie sangat emosi ketika mama Vina masih belum mau membuka mulutnya untuk mengakui perbuatannya.
"Ma" bentak Kenzie dengan mata yang menyala tajam.
Semenjak dia hadir sebagai Kenzie tidak pernah sekali pun dia berlaku kasar kepada mamanya, dia bahkan sayang menyayangi mamanya, termasuk juga sayang terhadap kakaknya.
"Kenzie berani sekali kamu membentak mama" teriak Rini kepada Kenzie.
"Panggil aku Raymond kak, aku tau aku ini Raymond" suara tinggi dari Kenzie dengan di iringi tatapan tajam.
"Kamu Kenzie nak" jawab mama Vina.
"Sudah ma, aku sudah dengar pembicaraan kalian barusan, kalian tidak usah banyak berbohong lagi" teriak Kenzie.
"Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian bodoh-bodohi" bentak Kenzie.
"Mama sangat sayang sama kamu, mama enggak mau kehilangan kamu nak" tangis mama Vina, air mata palsu yang benar-benar dipaksa untuk keluar.
"Kenzie, mama selama ini selalu melindungi mu" teriak Rini.
__ADS_1
"Kau sungguh tidak tau berterima kasih, kau bisa-bisanya menuduh mama begitu" bentak Rini.
"Kalian ini sungguhhhhhh" kata-kata Kenzie terputus, dia menahan kata yang selanjutnya untuk dia keluarkan.
"Apa" bentak Rini.
"Aku sungguh beruntung bisa terlahir dikeluarga ini" ucap Kenzie dengan lirihnya.
Kenzie menggunakan sebuah kalimat ironi, untuk dirinya sendiri, dia membayangkan mengapa dia tidak terlahir dari keluarga yang baik.
"Memang kami yang terbaik nak" mama Vina mendekat dan memegang lengan Kenzie.
"Mama sungguh bukan orang tua yang terbaik untuk ku" ucap Kenzie sungguh pelan dan meneteskan sedikit air matanya, sesungguhnya Kenzie sangat sakit mengatakan ini.
"Kalian dengar ini"
"Ma, gawat jangan sampai Kenzie tau kita sudah merusak hidup dia, dari memisahkan dia dengan Naura, sekarang kita mau ambil Evano lagi" suara Rini dari rekaman ponsel yang baru saja Kenzie hidupkan.
"Kita sudah mengoperasi wajahnya juga, untuk sedikit berubah" ucapan rekaman itu.
__ADS_1
"Kalian sudah dengar" bentak Kenzie kepada mama dan kakaknya.
"Apa lagi yang kalian mau katakan, kebohongan apa lagi? Kalian sungguh kejam sebagai seorang manusia" ucap Kenzie.
"Maaf nak, mama tidak bermaksud begitu!" jawab mama Vina, dengan memandang anaknya dengan tatap sedih, takut dan malu karena perbuatannya diketahui oleh anaknya.
"Aku memang tidak mengingat semua kejadian di 5 tahun lalu, tetapi aku merasakan betapa sakitnya mempunyai keluarga seperti kalian" ucap Kenzie lirih.
"Aku tidak akan menyakiti kalian, karena kalian bagaimana pun buruk dan jahatnya tetap akan menjadi mama dan kakak ku" ucap Kenzie dengan lirih menatap mamanya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca lagi, dia merasakan sangat sedih dengan kejadian ini.
Kenzie atau Raymond orang yang sama, dia sungguh tidak percaya jika orang yang paling dia sayang, malah merusak hidupnya.
"Kenzie, ini semua kami lakukan demi kamu, kamu lihat sekarang kamu sudah bisa menjadi bos, jika kamu bersama dia kamu tidak akan dapat seperti sekarang" ucap Rini yang masih tidak mau disalahkan.
"Kalian menghancurkan hidup ku" ucap Kenzie kemudian dia pilih untuk pergi karena percuma saja bagi dia untuk berkelahi, karena dia berpikir itu juga keluarganya sendiri.
Kenzie benar-benar sangat kecewa dengan mama dan kakaknya, sakit hatinya hanya dapat dipendamnya. Akhirnya dia memilih untuk pergi dari rumah itu, walau itu rumahnya sendiri.
Mama Vani dan Rini hanya menatap Kenzie yang memilih untuk pergi. Mereka tidak menampakkan muka bersalahnya, bagi mereka, mereka sudah melakukan hal yang benar. Padahal yang mereka lakukan adalah benar-benar menyakiti darah dagingnya sendiri.
__ADS_1