
Keesokkan harinya, terlihat kantor sangat sibuk diwaktu pagi hari. Ada beberapa orang membentangkan karpet merah menuju sebuah ruang khusus para karyawan berkumpul atau menerima berita.
Naura yang datang kesiangan pun binggung melihat beberapa rekan kerjanya sepertinya sangat sibuk.
"Ada apa, terlihat sangat sibuk sekali?" tanya Naura kepada temannya.
"Ini bos meminta untuk berkumpul diruangan kita biasa menerima berita, entah apa yang mau disampaikan" terang salah satu temannya.
"Oh, ya sudah terima kasih" ucap Naura berlalu pergi menuju ruangannya.
Sambil berjalan Naura pun sambil berpikir, entah apa lagi yang akan dilakukan Raymond.
"Yuno" panggil Naura ketika dia berpapasan dengan Yuno.
"Oi, iya ada apa Naura" jawab Yuno yang terlihat biasa terhadap Naura, karena dari dia mendengar pilihan Naura, dia sungguh memantapkan hatinya untuk tegar.
Sebenarnya walau dihati Yuno yang terdalam, dia sangat ingin Naura menjadi miliknya, namun kebahagiaan diwajah Naura yang terpenting baginya, seperti saat ini wajah Naura tampak ceria.
Yuno juga ingin tidak melihat Naura dan Raymond, tetapi dia tidak bisa karena dia masih sangat setia pada perusahaan Raymond. Bagi Yuno kantor ini termasuk rumahnya juga.
"Itu, bos mu mau ngapain lagi?" tanya Naura pada Yuno, seolah mencebik Raymond.
"Aku juga tidak tau!" jawab Yuno, yang memang tidak tau sebenarnya apa yang terjadi.
"Agh, biarlah orang gila itu" jawab Naura asal.
Kini Naura kian berani mengatai Raymond.
"Kamu ini" kekeh Yuno.
"Pak Yuno, dipanggil pak Kenzie, disuruh kumpul" ucap salah seorang yang masih merupakan bawahan dari Yuno.
"Naura juga" sebut orang itu.
"Baik" jawab Naura dengan cepat.
Mereka pun berjalan bersama-sama menuju ruangan itu.
"Baik, karena semua telah berkumpul" ucap Raymond membuka suaranya karena tidak ingin bertele-tele lagi.
"Saya akan sampaikan beberapa hal penting" ucap Raymond.
__ADS_1
"Tetapi pertama saya panggil Naura untuk maju" ucap Raymond memandang kearah Naura.
"Naura silakan maju" ucap Raymond.
Dengan gugup Naura pun berjalan maju Melewati karpet merah tersebut, beberapa rekan kerja mereka pun berbisik-bisik tentu yang tidak enak.
Serli yang melihat beberapa temannya yang berbisik sudah sangat tau jika mereka sedang membicarakan Naura.
"Lihat, apa lagi yang Naura perbuat" ucap salah seorang teman kerjanya.
"Iya dia bahkan dipanggil terlebih dahulu oleh bos" ucap yang lain.
"Iya tu lihat" seorang lagi menunjuk kearah Naura.
"Naura terlihat sebagai parasit untuk bos kita" ucap salah satu teman kerjanya yang lain berjenis kelamin laki-laki.
"Kalian ini tidak habis-habisnya membicarakan orang" tegur salah satu orang lagi.
"Kamu mah enggak usah ikut campur Serli" jawab temannya.
"Kalian itu ribut banget" jawab Serli yang langsung melangkah lebih dekat ke podium depan tempat dimana Naura dan Raymond berdiri sekarang.
"Selamat pagi semua, hari ini pak Kenzie akan menyampaikan sesuatu hal diharapkan kalian semua bisa tenang" ucap Yuno dengan tegas.
Semua mata tentu tertuju kepada mereka kini yang didepan.
Naura dengan perasaan takut, gugup, binggung, serta perasaan lainnya yang campur aduk pun hanya bisa diam. Naura merasakan keringat dia bercucuran, padahal didalam ruangan suhu yang cukup dingin tentu dengan pendingin ruangan.
"Silakan pak" ucap Yuno mempersilakan bosnya untuk berbicara.
"Terima kasih Yuno" jawab Raymond.
"Pagi semua" sapa Raymond pada karyawannya.
"Pagi pak" jawab mereka serempak tentu dengan semangat mereka di pagi hari.
"Hari ini saya ingin menyampaikan beberapa hal penting" ucap Raymond yang tampak sangat yakin.
"Saat ini kalian mengenal saya sebagai pak Kenzie, itu hanya untuk 5 tahunan ini. Nama saya yang sebenarnya adalah Raymond Kalandra Madava biasa di panggil Raymond" Raymond pun mengumumkan jati diri dia yang sebenarnya.
Yuno yang sudah mengetahui hal ini sangat mendukung dan membuat dia sangat yakin untuk melepas Naura.
__ADS_1
Semua yang berada disana terdiam, saling melotot bertanya-tanya apakah ini benar.
"Jadi pak Kenzie adalah Raymond dan berarti pak Kenzie, eh salah pak Raymond adalah mantan suami Naura" ucap Serli dalam batinnya yang sejenak terkesima.
"Sahabat ku istri bos" batin Serli lagi.
Naura pun tampak terkejut jika Raymond berani mengumumkan hal tersebut.
"Yang kedua, saya umumkan saya telah bercerai" ucap Raymond.
Sungguh semuanya terkejut mendengar tersebut, tetapi mereka semua tidak bisa seenaknya menanyakan alasannya.
"Dan yang ketiga" Raymond dengan berani memeluk pinggang Naura dari samping kirinya untuk semakin dekat dengannya.
Naura tampak salah tingkah berusaha lebih menjauh, apalagi dengan pandangan semua staff kantor yang pasti sudah berpikiran yang tidak-tidak akan hal ini.
"Yang ketiga, Naura adalah mantan istri saya, dia istri saya yang pertama dan kami akan menikah lagi, kalian tidak perlu tau alasannya, yang saya ingatkan kepada kalian semua untuk tidak mengusik Naura" tegas Raymond.
Membuat beberapa karyawan yang suka menyindir Naura membuka mulutnya lebar, seakan tidak percaya, apalagi sekertaris Fira.
Naura hanya dapat tersenyum dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Yuno yang melihat kelakuan Raymond hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana ini" tanya salah seorang teman kantor Naura kepada teman dia yang lain.
"Aku tidak tau, semoga kita aman-aman saya, jika Naura mau, saat ini dia sudah menunjuk kita lalu memecat kita" ucap yang lain.
Mereka juga ada yang mulai takut kepada Naura, karena ini akan membuat mereka yang menganggu Naura pasti akan berdampak kepada pekerjaannya.
"Baik, karena sudah selesai kalian silakan bubar" ucap Yuno.
Semuanya pun kembali kebagian masing-masing dengan sedikit berbisik-bisik dalam berjalan keruangan.
Sedangan di podium masih tersisa Naura dan Raymond.
"Kamu ini apa-apaan sih begini, sekarang aku yang jadi malu" ucap Naura kepada Raymond.
"Untuk apa malu, aku saja tidak. Aku saat ini malah bahagia karena tidak perlu bersembunyi sana sini, aku ingin semua orang tau tentang mu" ucap Raymond.
Naura tampak terdiam, tetapi didalam hatinya sangat bahagia, karena Raymond benar-benar menunjukan kesungguhannya.
__ADS_1