Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
28. Seperti Anak Baru


__ADS_3

Hari ini Naura pun pindah ruangan menjadi ruangan yang bersebelahan dengan ruangan bosnya pak Kenzie, ruangan Yuno juga berada dideretan yang sama.


Sekertaris Fira melihat Naura dengan tatapan tidak suka, baginya Naura tidak pantas menjadi sekertaris karena penampilan Naura kalah jauh dengan dia yang keren habis.


Sekertaris Fira memakai rok dibawah lutut, pakaiannya dibalut dengan blezer,, tentunya terlihat menarik dengan sepatu hak tinggi.


Sedangkan Naura hanya memakai sepatu kets yang sudah usang, terlihat sedikit jahitan karena sudah bolong, dia belum berniat untuk menggantinya. Naura juga memakai celana panjang kain lurus seperti pakaian pns dan hanya memakai kemeja.


Naura merasa sangat deg-degan berada di posisi ini, dia sampai binggung harus mengerjakan apa.


Kini dia tengah diajari oleh sekertaris Fira, hanya saja Fira mengajarkan Naura dengan hati yang tidak senang, bahkan dia mengajarkan pekerjaan ke Naura tidak sampai tuntas.


"Ini bagaimana?" tanya Naura mengenai data-data yang ada ditangan Naura saat ini.


"Ribet juga, seperti anak baru saja aku ini" batin Naura mengenai pekerjaannya saat ini.


"Aduh, aku kan baru saja kasih tau kamu ini harus bagaimana, masak sudah lupa saja, bagaimana bisa bos memilih mu untuk menjadi sekertaris, yang tidak berkompeten ini!" sindir Fira.


"Aku juga tidak tau" jelas Naura dengan polosnya.


"Tapi yang jelas aku terpilih, mungkin aku lebih baik" Naura terlihat tidak mau di injak-injak dengan kalimat yang di ucapkan oleh Fira.


Naura memang orang yang lembut, tapi dia akan melawan jika dia benar. Seperti saat dia melawan bu endang waktu itu.


"Kalau gitu kau pelajari sendiri ini" dengan kesal Fira meletakan semuanya dimeja Naura dengan kasarnya karena mendengar jawaban Naura.


"Pak Yuno kan sudah memerintahkan mu untuk mengajari ku, mengapa kau begini?" tanya Naura.


"Aku tidak perduli, aku sibuk" jawab Fira dengan kasar.


"Oh, ok" jawab Naura.


Naura tidak perduli jika dia memang tidak diajari hingga tuntas oleh Fira, setidaknya dia sudah memiliki dasar-dasarnya.


"Naura antar ini ke pak Kenzie sekarang, dia meminta kamu yang antar!" ucap Fira meletakan sebuah amplop plastik berwarna hijau di meja Naura dengan cara kasar.


"Iya" jawab Naura yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Ada baiknya juga dia disini, aku tidak perlu repot-repot bolak balik jika di panggil sama pak Kenzie, tapi jadi enggak bisa lihat muka tampan pak Kenzie" batin Fira.

__ADS_1


"Katakan pada pak Kenzie bahwa jam satu siang nanti dia ada ketemu klien" seru Fira, sebelum Naura keluar dari ruangan.


"Ok" jawab Naura.


*****


Tok! Tok! Tok! Naura dengan tangan sedikit bergetar mengetuk pintu ruangan pak Kenzie.


"Permisi pak!" sapa Naura.


"Ya masuk!" jawab pak Kenzie dari dalam ruangannya.


Pak Kenzie sedang duduk santai dikursinya sambil menyandarkan badannya.


"Ini pak data yang anda minta" ucap Naura yang meletakan amplop itu dimeja pak Kenzie .


"Simpan disitu" pak Kenzie menunjuk satu meja lainnya sambil menatap Naura.


Pak Kenzie entah mengapa begitu suka menatap Naura, jantungnya pun akan berdebar kuat, hanya saja dia sendiri tetap binggung siapa Naura, dia juga tidak pernah melihat atau mengenal Naura ditempat lain.


"Baik pak!" Naura pun beralih ke meja lainnya untuk meletakan amplop tersebut.


"Kamu ikut saya ketemu kliennya, agar kamu tau sumber pokok segala datanya nanti!" Perintah Kenzie.


"Tapi pak, bukan seharusnya Fira yang ikut bapak ya!"


"Tidak, kalian akan bergantian mengerjakan pekerjaan"


"Baik pak!" Saat ini Naura berpikir keras, apakah penampilannya cocok untuk mendampingi bosnya saat ini.


Akhirnya Naura hanya menerima saja apa yang bosnya katakan. Hanya saja Naura selalu risih jika dekat dengan pak Kenzie, karena selalu mengingatkannya kepada mantan suaminya, seperti ada sesuatu di diri pak Kenzie.


*****


Jam setengah dua belas siang setelah mereka makan siang, pak Kenzie dan Naura memutuskan untuk berangkat kesebuah restoran untuk menghadiri pertemuan dengan kliennya. Mereka tidak ingin membuat sang klien yang menunggunya.


"Naura mengapa kamu mengambil helm" Tanya penasaran pak Kenzie melihat Naura yang diparkiran tetapi memakai helm.


"Saya pakai motor saya sendiri saja pak!" ungkap Naura yang merasa sangat tidak nyaman jika bersama dengan pak Kenzie.

__ADS_1


"Jangan kamu ikut saja dengan saya!" ajak pak Kenzie.


"Enggak pak, saya naik motor saja, saya mabuk kendaran jika naik mobil disiang hari, dari pada bapak repot urusin saya muntah kan!" Hanya alasan Naura saja, karena memang tidak ingin berdua saja didalam mobil dengan bosnya.


Naura ingin menghindari sebuah kesalah pahaman.


"Ya, sudah" jawab pak Kenzie yang pasrah, padahal tadinya dia sudah merencanakan jika di mobil dia ingin mengobrol banyak dengan Naura, juga tidak akan menyebabkan orang lain mengetahuinya.


Akhirnya mereka masing-masing mengendarai kendaraan masing-masing, tentu Naura dahulu yang sampai disana, karena dia menaiki motor yang bisa menyelip sana sini, tentu dengan melihat kanan kiri, tidak asal menyelip saja.


Naura memilih sebuah meja yang besar didekat jendela sembari menunggu bosnya sampai, Naura juga sudah mengabari klien mereka.


Naura sendirian disana, seperti sedang menunggu sang kekasih datang saja.


Tidak lama pun pak Kenzie telah datang hanya saja klien yang ditunggu tidak kunjung datang.


Akhirnya mereka memesan minuman terlebih dahulu.


"Apa yang kalian lakukan disini" suara seorang wanita yang sedang berjalan menuju dekat mereka.


"Danita" panggil pak Kenzie.


"Apa yang kau lakukan dengan karyawan mu ini?" tanya Danita yang nampak curiga.


"Kami sedang menuju klien" jawab pak Kenzie suami dari Danita.


Naura hanya diam seribu bahasa, juga tidak berani menatap Danita langsung karena takut di kira tidak sopan.


"Mana sekertaris mu?" tanya Danita pada suaminya sambil memeluk bahunya.


"Ada dikantor, sekarang Naura juga ku jadikan sekertaris!" terang pak Kenzie.


"Apa kog bisa" tanya Danita yang sedikit cendurung menjaga emosinya agar dia tidak meledakan emosinya karena kesal.


"Ya karena aku butuh tambahan sekertaris, sudah sana lagi janjian sama teman kan, sama temannya, aku masih kerja" ucap pak Kenzie dengan santai.


"Iya, dha sayang" mengecup kening suaminya, membuat pak Kenzie sedikit malu di perlakukan begitu didepan Naura.


"Ampun, live show" teriak batin Naura, yang antara senang atau tidak senang melihatnya.

__ADS_1


Danita ingin menunjukan pada Naura jika pak Kenzie adalah suaminya, walau sedari tadi Naura hanya diam saja. Sebenarnya Danita sangat tidak menyukai jika Naura menjadi sekertaris suaminya, hanya dia tidak ingin menambah masalah dalam rumah tangganya, dia berusaha pendam.


__ADS_2