Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
06. Aktivitas Baru


__ADS_3

Dengan buru-buru Naura terbangun, padahal waktu baru menujukan pukul 4.30 subuh.


Saat ini Naura sudah terbiasa bangun subuh untuk menjadi ibu rumah tangga di bagian dapur, Naura tidak mengizinkan lagi mamanya yang memasak didapur untuk pagi hari, karena dia tau itu sangat tidak baik untuk kesehatan mamanya, apa lagi memasuki usia lanjut seperti sekarang.


Naura pun sudah mempersiapkan makananya dimeja makan, dia memasak sayur bening dan telur ceplok atau biasa dikatakan telur mata sapi, kesukaan mereka.


"Ma" panggil Naura pada mamanya yang sudah mandi dan siap menuju meja makan.


"Dimana Evano?" Tanya mama Ayu.


"Mungkin masih tidur ma" jawab Naura yang memang belum mengecek keberadaan Evano.


"Tidak nek, Evano sudah bangun" seru Evano berjalan mendekati meja makan dan menarik kursinya sedikit keluar, agar dia bisa duduk diatas kursi.


"Mama salah, Evano saja sudah mandi begini! Lihat" ucap Evano memamerkan dia sudah memakai baju yang memang semalam dipersiapkan oleh Naura untuk membawa Evano mendaftar disalah satu sekolah taman kanak-kanak.


"Oh, anak mama pintar!" Puji Naura pada Evano.


"Siapa dulu donk, cucu nenek!" Puji mama Ayu.


"Ayo kita makan!" Ucap Naura, kemudian dia menyendoki nasi sayur untuk anak dan mamanya.


"Ma, aku hari ini juga antar lamaran kerja ku ya!" Ucap Naura dengan mulutnya yang masih mengunyah.


"Mama jangan bicara jika masih mengunyah, apa mama lupa dengan apa yang mama katakan" ucap Evano dengan tegasnya.


"Ups"


"Mama lupa!" Ucap Naura malu dengan perbuatannya sendiri.


Padahal dia yang membuat aturan, tetapi dia juga yang melanggar.


"Mama hanya bahagia nak, mama mau bekerja kembali mencari rejeki untuk kita!" Ucap Naura yang menghabiskan makanan dalam mulutnya dulu lalu berbicara.


Setelah mereka selesai makan, baru lah mama Ayu mulai membuka suaranya.


"Mama doain kamu segera mendapat pekerjaan" ucap mama Ayu.


"Terima kasih ma!"


"Jika tanpa restu mama, aku bukan apa-apa. Rejeki yang ku cari juga tidak akan berkah dan mungkin akan sulit mendapatkannya!"


"Iya dek!" Jawab Mama Ayu.


"Evano siap, sekolahnya?" Tanya mama Ayu.


"Siap nek!" Jawab Evano penuh semangat.


"Kamu mau sekolahkan Evano dimana?" Tanya mama Ayu.


"Yang dekat sini saja ma, agar mama bisa bantu aku jemput Evano!" Jawab Naura.


"Ya sudah, terserah kamu!"


Setelah itu Naura dan Evano bersiap menuju taman kanak-kanak Ceria.


Naura saat ini mempunyai motor matic yang bodi motornya lebih kecil, dia bisa mempunyai motor itu, karena sebelumnya dia menjual motor matic yang ditinggalkan suaminya lalu dengan membeli motor matic lain, walau bukan yang baru.


"Ayo Evano!" Panggil mamanya.


Evano telah memakai kemeja dan celana panjang serta sepatu agar terlihat rapi.


Begitu juga Naura yang memakai celana panjang dan kemeja.


Motor matic berwarna merah lah yang akan nemanin keseharian mereka.


"Ma, pamit dulu dengan nenek ya!" Ucap Evano.


"Iya, wajib itu, tadi mama sudah pamitan dengan nenekmu!"

__ADS_1


"Nek, Evano berangkat ya, doain Evano!"


"Iya, hati-hati ya sayang!"


"Dha-dha nenek!" Seru Evano.


"Naura bawa pelan-pelan saja!" Ucap Mama Ayu.


"Siap ma!" Jawab Naura dengan semangat.


Naura menghidupkan mesin motornya, kemudian Evano pun duduk dibagian depan motor.


Tidak berapa lama Naura dan Evano pun sampai lah di sebuah taman kanak-kanak yang bertuliskan TK. Ceria.


Disana terlihat beberapa arena permainan, Evano yang melihatnya semakin semangat untuk berlari memasuki taman kanak-kanak tersebut. Penuh warna warni yang terlihat jelas, gambar-gambar kartun dan banyak lainnya.


"Evano, pelan-pelan sayang" seru Naura.


Lalu dia memegang bahu Evano dan berbicara pelan ke Evano.


"Evano, dengar mama!" Evano hanya mengangguk saja, sebelum mamanya melanjutkan perkataannya.


"Evano, jangan berkelahi disini, bermain harus berbagi ya, tidak ada merebutkan ini itu, apalagi sama anak cewek dan yang pastinya harus belajar dengan benar!"


"Ok" seru Naura.


"Siap mama ku sayang!" Ucap Evano kemudian mereka saling bergandengan tangan menuju ruang kepala sekolah.


Sesampainya mereka diruang kepala sekolah, Evano pun langsung diukur tingginya, berat badannya dan di cek segala datanya.


"Papanya dimana bu?" Tanya kepala sekolahnya kepada Naura.


Evano terlihat hanya diam saja, karena selama ini Evano selalu diberitahu oleh Naura jika papanya telah tiada.


"Papanya telah meninggal pak!" Ucap Naura merasa bersalah dan mengingatkan dia kepada mantan suaminya.


"Papa sudah disurga" ucap Evano sendu.


Tetapi memang di akte lahir Evano tidak tercantum nama papanya, karena saat itu Naura mengaku ke perangkat desa jika buku nikahnya telah hilang, waktu mereka pindahan.


Jadi dalam akte lahir Evano hanya tercantum nama mamanya, sebagai anak hasil diluar nikah. Bagi Naura itu lebih baik, jadi hingga besar Evano tidak akan mencari papanya dan tidak tau siapa nama papanya. Apalagi sampai Evano mengenal nenek dari sebelah papanya serta tantenya.


Evano menjalani serangkaian tes dan di tes itu, Evano dinyatakan lulus dengan nilai A.


"Besok Evano akan masuk ke kelas A1 ya!" Ucap kepala sekolahnya.


"Dan itu wali kelas Evano, Bu Kartika!" Kepala sekolah itu memperkenalkan pada Naura.


"Baik pak!"


"Terima kasih" jawab Naura.


"Bu, saya titip Evano besok ya!" Ucap Naura.


"Iya bu" jawab bu Kartika dengan senyum cantiknya.


"Ibu cantik" puji Evano membuat wali kelasnya bersemu merah dimuka karena malu-malu.


"Evano" tegur Naura


"Mama, bu guru memang cantik" puji Evano lagi.


"Sudah ya bu, saya pamit" ucap Naura mengajak Evano pulang.


"Iya bu!" Jawab bu Kartika.


Naura dan Evano pun berjalan keluar.


"Nak, mama antar kamu pulang!"

__ADS_1


"Kamu jangan nakal ya dirumah sama nenek, habis itu mama mau lamar kerja dulu!" Ucap Naura kepada anaknya.


"Iya mama" jawab Evano gemas karena mamanya terus saja berceloteh.


Tidak lama, Naura pun menurunkan anaknya di depan rumahnya.


Evano pun dengan cepat berlari masuk kedalam rumah.


"Nenek!" Teriaknya pada mama Ayu.


"Evano, kamu sudah pulang?" Menyambut dengan sebuah pelukan dan ciuman dikening Evano.


"Dimana mamamu" tanya mama Ayu.


"Mama langsung lamaran nek!" Jawab Evano asal.


"Bukan antar lamaran, tapi antar lamaran kerja itu yang benar" ucap mama Ayu membenarkan perkataan Evano.


"Nek, tadi kepala sekolah bertanya dimana papa Evano!" Sambil memilin rambut neneknya Evano bercerita.


"Kamu ada jawab?" Tanya sang nenek yang agak merasa bagaimana jika sudah menyangkut papa Evano.


"Jawab nek, aku bilang disurga!"


"Bagus!" Ucap sang nenek.


"Ayo kita makan" ajak mama Ayu.


"Masih kenyang nek, makan yang tadi pagi!"


"Oh, iya baru 2 jam ya makannya" ketawa neneknya.


"Ya sudah mandi sana kan habis keluar dari rumah!"


"Baik nek!" Seru Evano.


*****


Hari menjelang sore, Naura baru saja pulang kerumah.


"Ma, aku pulang" ucap Naura yang melihat mamanya sedang menonton tv dengan Evano.


"Evano, kamu juga menonton sinetron dengan nenek?" Tanya Naura pada anaknya.


"Iya ma, tapi enggak juga kog, kami gantian jika iklan cari yang kartun" jawab Evano.


Yang hanya disambut tawakan dari mama Ayu.


"Evano, ke kamar dulu ya, mama mau bicara sama nenek!"


"Ok ma!" Jawab Evano kemudian dia berlari ke kamarnya.


"Ada apa?" Tanya Mama Ayu.


"Enggak ma, aku hanya lelah!"


"Ternyata capek juga ya ma, keliling seharian singgah sana sini!"


Naura tidak mau keluh kesahnya didengar oleh Evano, maka nya dia meminta Evano untuk ke kamar, cukup dia berkeluh kesah dengan mamanya.


"Ma, aku takut 1 hal?"


"Iya mama tau, karena tadi pagi Evano sudah bercerita sama mama!"


"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja!"


"Iya ma!" Jawab Naura.


"Terima kasih ma!"

__ADS_1


Naura pun bersimpuh turun kebawah kaki mamanya, dia sangat senang berada disana, terasa tenang.


__ADS_2