Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
23. Selamat Hari Ibu, Mama!


__ADS_3

Pagi ini Naura sudah meminta izin kepada atasannya yaitu pak Kenzie karena adanya keberadaan direktur jadi izin harus melewatinya.


Naura pun ingin segera bergegas dari kantor menuju sekolah Evano, sebelumnya Naura sudah membawa mama Ayu dan Evano kesekolah terlebih dahulu.


Di parkiran Naura sedang berusaha mengstarter motornya, tetapi tidak mau juga hidup.


"Duuuh ini kenapa lagi motor, perasaan tadi datang masih baik-baik saja" gerutu Naura.


"Ada apa Naura?" Tanya pak Kenzie, yang tiba-tiba dibelakang Naura dan membuat Naura terkejut.


"Eh, pak!" jawab Naura terkejut.


"Ini motor saya enggak bisa hidup dan bentar lagi juga pentas anak saya, pak!" ucap Naura.


"Ya sudah sama saya saja, motor di tinggal saja, kebetulan saya mau keluar juga!" ajak pak Kenzie.


"Aduh, jangan pak, saya pake ojek online saja!" Naura menolak dengan halus.


"Tidak apa-apa, saya juga tidak keberatan kan saya yang ajak!"


"Mari" ajak pak Kenzie. Yang kebetulan istrinya tidak ikut bersamanya.


Akhirnya dari pada menghabiskan waktu berdebat Naura pun mengiyakan ajakan pak Kenzie ikut dimobilnya.


Didalam mobil yang sedang melaju, suasana hening tercipta, Naura sangat sungkan untuk bersuara. Sedangkan Naura juga sangat tidak enak dengan perasaannya jika melihat pak Kenzie.


"Naura, ini kan sekolah anak mu!"


"Agh, iya pak, terima kasih sudah mengantar!"


"Iya, sama-sama"


Naura pun keluar dari mobil pak Kenzie dengan canggung, beberapa ibu-ibu juga memperhatikan Naura. Dia tidak perduli jika nanti disekolah Evano timbul gosip-gosip antara ibu-ibu untuk dia, karena status janda ini sangat banyak resiko, yang sudah dia terima sejak lama.


Pak Kenzie yang melihat keindahan sekolah Evano pun, tertarik untuk ikut masuk, padahal tadinya dia sudah ingin menjalankan mobilnya.


Naura mencari aula yang menjadi tempat pentas anak-anak. Untung saja Naura belum terlambat.


"Mama" teriak Evano yang senang melihat kedatangan Naura.


"Sayang gimana? Belum mulai kan!" tanya Naura sambil mencari tempat duduk yang pas.


Naura memilih tempat duduk yang berada di ujung sebelah kiri bersama mama Ayu.


"Kamu lama sekali?" tanya mama Ayu.


Naura pun menceritakan bagaimana tadi dia dengan motornya yang tidak bisa bergerak itu.


"Ma, siapa pria yang ngikutin mama terus!" tanya Evano.


Naura sakin fokusnya tidak memperhatikan sekitar, hanya fokus pada keluarganya.


"Loh, kog pak Kenzie ikut masuk!" tanya Naura binggung melihat pak Kenzie yang berada dibelakangnya.


"Tante" sapa pak Kenzie terhadap mama Ayu.


"Ya!" Mama Ayu sambil tersenyum dalam binggung.


"Apa dia Raymond" tanya mama Ayu sambil berbisik ke Naura, dia yang penasaran dengan pak Kenzie. Mama Ayu melihat sedikit kemiripan pak Kenzie dengan mantan menantunya.


"Enggak tau juga ma, tapi Naura yakin dia bukan Raymond, dia juga bos Naura dikantor" Naura berbisik balik ke mamanya dan mama Ayu hanya menanggapi dengan anggukan.


"Tadi saya tertarik melihat anak-anak disini, saya sangat suka terhadap anak-anak!" jawab pak Kenzie.


Pak Kenzie terus saja memperhatikan Evano secara diam-diam, dia merasa seperti ada suatu ikatan disana, hatinya terasa sangat senang melihat Evano.


"Kenapa om lihatin Evano melulu?" tanya Evano yang penasaran.


"Enggak tau, om hanya merasa sangat suka melihat mu!" terang pak Kenzie.


"Semua murid yang akan pentas silakan berkumpul!" Suara dari guru mereka melalui microfon yang nyaring memanggil semua murid yang akan pentas.


Evano pun berlari menuju panggung, sebelum dia berlari dia melihat kearah mamanya dan neneknya, demi mendapat dukungan.


"Bapak untuk apa kesini, maaf saya jadi enggak enak!"


"Saya, hanya ingin lihat anak-anak pentas tidak ada maksud lain!"

__ADS_1


"Bapak orang asing disini mana boleh masuk!" tegur Naura.


"Anggap saja saya mewakili salah 1 murid"


"Agh, sudah terserah bapak saja!" Naura putus asa untuk berbicara dengan pak Kenzie.


"Selamat pagi untuk bapak dan ibu sekalian, disini kita akan mulai pentas untuk merayakan hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 desember ini dan kita mulai acaranya, mari kita dengarkan persembahan anak-anak!" ucap salah satu guru yang Naura tidak kenal.


Semua yang berada disana memberikan tepuk tangan yang meriah.


Prok! Prok! Prok! Ruangan itu hanya di penuhin suara tepukan saja, jika ada suara lain pun hanya bisikan para orang tua yang hadir.


"Dia kan janda, lihat dia di ikuti seorang yang sepertinya kaya!" ucap seorang ibu-ibu dengan temannya yang lain.


"Matre juga ya mama Evano" ucap salah seorang lagi.


Mama Ayu yang mendengarnya merasa sangat geram, walau itu pembicaraan dengan suara kecil.


"Hai semua" sapa seorang gadis kecil.


Setelah beberapa teman-teman Evano menunjukan bakat masing-masing, ada yang berpuisi, berpantun dan memainkan drama, semua murid yang telah pentas memberikan penampilan terbaiknya.


"Saya Yeni, akan membawakan sebuah lagu!"


Yeni pun mulai lah bernyanyi.


"Lagu ini berjudul mengandeng tangan mama"


"Mengandeng tangan mama


Teringat masa kecil


Setiap hari berada disisinya


Lincah dan ceria" suara Yeni begitu lembut dalam bernyanyi, sambil dia terus menatap mamanya dengan mata berbinar.


"Mengandeng tangan mama


Kembali ke masa kecil


Tapi dia sudah tidak lagi muda


Tidak tau sudah berapa lama


Tidak mengandeng tangannya lagi" suara Yeni kian meninggi dan mengambil nafas.


"Tahun-tahun itu dalam telapak tangan


Berapa besar cinta ibu mengalir perlahan


Berjalan perlahan-lahan seperti itu


Sampai kembali kedepan rumah


Saya bisa merasakan dalam-dalam


Mama tak ingin melepaskan tangannya"


Yeni pun menyanyikan ulang lagi baik-baik berikutnya hingga selesai, hampir semua ibu-ibu terharu mendengar nyanyi Yeni dan Yeni mendapat tepukan yang meriah.


Selesai Yeni bernyanyi dia pun turun dari panggung dan berlari memeluk mamanya dengan erat.


"Kali ini kita dengarkan nyanyian Evano Azura mempersembahkan pentasnya" teriak guru Evano yang membawakan acara.


Evano yang berada dibelakang panggung merasa sangat tegang, gugup.


Naura yang berada didepan panggung sangat berharap agar anaknya tidak gugup atau pun demam panggung, Naura berdoa agar anaknya dapat mempersembahkan yang terbaik untuk orang-orang yang hadir.


"Kamu pasti bisa nak" Naura memberikan semangat kepada Evano melalu batinnya, batin seorang ibu yang pasti akan tersambung dengan anaknya.


Sekilas Evano pun mendengar suara mamanya, dukungan mamanya, membuat dia kian siap untuk maju ke depan panggung.


Beberapa tepukkan diberikan kepada Evano.


"Saya Evano Azura, saya hanya mempunyai seorang mama dan seorang nenek, di hidup saya tidak ada orang lain lagi selain mereka, tanpa mama dan nenek, saya tidak akan berada disini. Saya tidak mempunyai papa sedari saya kecil, papa kini telah disurga!" ucap Evano dengan nada yang teratur cenderung ke suara ingin menangis, menyampaikan sedikit pidatonya.


Naura mendengar perkataan anaknya merasa sangat terharu, bagaimana bisa anaknya berkata seperti itu di depan banyak orang.

__ADS_1


Mama Ayu sangat bangga terhadap cucunya.


Pak Kenzie yang berada disana juga sangat merasa terharu tetapi entah mengapa juga dia merasa bangga bisa lihat Evano saat ini.


"Saya sangat-sangat menyayangi mama saya lebih dari apa pun, saya juga sangat menyayangi nenek saya, mereka adalah ibu yang hebat, saya tau betapa susahnya mereka membesarkan saya, saya yang nakal, yang tidak menurut, hingga terkadang membuat mama menangis, bagi mama dia bukan mama yang terbaik, tapi bagi saya mama yang terbaik sedunia!" ucap Evano dengan merentangkan kedua tangannya menandakan luasnya dunia.


Semua orang yang berada disana terdiam mendengar kata-kata dari Evano.


"Mama, nenek, selamat hari ibu!" Teriak Evano dengan kuatnya.


"Baik lah, saya akan menyanyikan sebuah lagu yang saya persembahkan untuk mama dan nenek!"


Evano mulai menarik nafasnya, kemudian menghembuskan lagi.


"Lagu ini berjudul mama yang terbaik"


"Di dunia hanya mama yang terbaik"


"Di dunia hanya mama yang terbaik


Anak yang punya mama seperti sebuah harta


Berada dalam pelukan mama


Kebahagiaan tak terhingga


Di dunia hanya mama yang terbaik" Tentu Naura tidak menyangka jika Evano akan bernyanyi semerdu ini.


"Anak yang tidak punya mama bagaikan rumput liar


Meninggalkan pelukan mama


Kebahagiaan mau di cari dimana"


"Kemana harus mencari" Evano menurunkan nadanya sesuai dengan intonasi musik yang merendah, dia pun bernyanyi sambil terus melihat ke Naura, padahal Naura duduknya diujung.


Mata Evano sudah menumpuk air mata dibagian kelopaknya, suaranya sudah semakin berubah sedikit lagi menjadi parau, dia mempertahankan agar suaranya tetap indah untuk tidak menangis, menumpahkan air mata, sedangkan Naura sudah berlinang air mata, mendengarkan anaknya bernyanyi.


Begitu dalam perasaan dari lagu ini.


Evano mengulang lagi dari awal lagu.


Di dunia hanya mama yang terbaik


Anak yang punya mama seperti sebuah harta


Berada dalam pelukan mama


Kebahagiaan tak terhingga


Di dunia hanya mama yang terbaik"


"Anak yang tidak punya mama bagaikan rumput liar


Meninggalkan pelukan mama


Kebahagiaan mau di cari dimana"


"Kemana harus mencari" Evano menarik nafas panjang ketika diakhir lagu, tidak terasa air mata Evano terus mengalir.


"Mama, aku sayang mama, jangan pernah tinggalkan aku" suara parau Evano karena dia sudah menangis sesenggukan, sambil terus mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


Naura yang berada dikursi tamu pun terlihat menangis, orang-orang yang menyaksikan ibu dan anak ini pun sangat terharu.


Evano kemudian turun dari panggung sambil berlari dan berteriak.


"Mama, adalah mama yang terbaikkkkkkk di dunia ini"


Evano berhambur kepelukan Naura, Naura memeluknya dengan erat, Naura juga meneteskan air matanya.


"Mama sangat sayang Evano" ucap Naura sangat menyayangi anaknya.


"Nenek" panggil Evano.


"Nenek juga sangat sayang pada Evano"


Mereka bertiga pun berpelukan sangat erat.

__ADS_1


Pak Kenzie yang berada didekat mereka, sangat ingin sekali rasanya bisa langsung memeluk Evano.


Pak Kenzie juga tidak mengerti mengapa dia begitu merasakan adanya kasih sayang dia untuk Evano.


__ADS_2