Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
31. Sepatu Baru


__ADS_3

Saat ini Naura sudah kembali ke ruangan yang kini seorang diri, dia berniat mengambil ponselnya dan ingin mencari tau soal Serli bagaimana keadaannya, atau sekedar bercerita dengan Serli, sebagai penyemangatnya di kantor ini, ternyata ada satu pesan masuk.


"Yuno, tumben ngchat!" batin Naura.


"Ada apa ya" Naura pun membuka pesan chat itu, kemudian dia membalasnya.


Lalu dilanjutkan Naura bekerja kembali, fokus kembali dengan kerjaannya, tetapi sesekali, Naura juga kepikiran dengan apa yang teman-temannya katakan.


Istirahat siang, saat ini Naura sedang berjalan dengan Yuno kesebuah mall, ternyata Yuno mengajak Naura untuk keluar makan siang, tetapi dengan syarat dari Naura mereka mengendarai kendaraan masing-masing.


"Kamu mau makan apa sih, ajak akuw kesini?" tanya Naura yang memang binggung dibuat Yuno karena sedari tadi hanya menggelilingi outlet sepatu.


"Sini" Yuno menarik tangan Naura masuk ke outlet sepatu yang dirasa Yuno cocok.


Naura terkejut melihat tangannya ditarik begitu oleh Yuno, tetapi bagi Naura itu biasa karena dia waktu dulu masih sekolah dasar juga begitu dengan Yuno, tapi lain dihati Yuno, merasa Naura tidak ada penolakan tangannya di pegang begitu, merasakan senang didalam hati, sambil tersenyum kecil.


Naura pun melihat-lihat sepatu yang terpajang cantik, didalam hati Naura sebagai seorang wanita, tentu dia menginginkan sepatu yang cantik-cantik seperti ini, hanya apa daya dia tidak dapat mengapainya.


Dia pun ingat sepatu dia yang rusak, saat ini dia hanya memakai sendal jepit, syukurnya saat ini orang biasa ke mall dengan sendal jepit, tapi sendal jepit yang berkualitas, sedangkan Naura dengan sendal jepit yang bisa dan enak Naura pakai saja sudah bersyukur, sendal jepit yang harganya tidak lebih dari lima belas ribu rupiah.


"Ini coba" Naura melihat kearah Yuno, Naura mengira jika Yuno yang akan membeli sepatu, karena disana juga terdapat sepatu pria.

__ADS_1


"Aku" kata Naura.


"Iya siapa lagi, coba!" perintah Yuno.


Dengan terpaksa Naura pun mencoba sepatu itu dengan keadaan masih binggung. Yuno pun berjongkok melihat sepatu yang dikaki Naura.


"Ok pas, bungkus mbak!" ucap Yuno pada pelayan outlet tersebut.


"Hei, hei tunggu aku enggak mau beli sepatu!" cegah Naura.


"Apanya, sepatu mu susah rusak begitu!"


"Ini aku belikan untuk mu, anggap saja sebagai hadiah pertemuan kita kembali!" ucap Yuno agar Naura mau menerima pemberiannya.


Sambil berjalan keluar dengan Yuno menenteng kotak sepatu itu Naura pun berkata "enggak, aku akan membayarnya biarkan aku mencicilnya, jika tidak aku tidak akan menerimanya"


Naura merasa tidak enak dengan Yuno, karena dia dan Yuno masih sama-sama makan gaji dengan orang lain.


"Tidak apa-apa ini memang untuk mu!" ucap Yuno.


"Tidak, aku mau menyicilnya, izinkan aku cicil 3 bulan ok!"

__ADS_1


"Ya sudah terserah kamu!" jawab Yuno, akhirnya Naura pun bisa bernafas lega mendengar hal tersebut.


Padahal Naura sudah berpikiran pulang kerja nanti dia akan membeli sepatu di toko biasa saja, mencari sepatu yang harganya mudah digapainya, asal bisa dipakai.


"Darimana kau tau sepatu ku rusak!"


"Insting" jawab Yuno sekenaannya.


"Mana ada yang begitu"


"Tidak percaya ya sudah" Naura yang mendengar jawab dari Yuno hanya dapat memanyunkan bibirnya.


"Kamu lucu" ucap Yuno lagi kepada Naura.


"Agh, sudah aku enggak mau sepatunya, aku mau beli sendiri nanti!"


"Jangan nanti ini mubazir, kamu tega?" tanya Yuno.


"Iya, iya" Naura tidak tega membuang barang secara sembarangan karena bagi dia itu susah didapat, apalagi dengan keringat sendiri.


Sebenarnya saat itu Yuno mendengar percakapan Naura dengan teman-teman yang selalu mengatainya, apa lagi soal sepatu.

__ADS_1


Hanya saja saat itu, Yuno tidak ingin langsung menolong Naura, Yuno tau itu akan membuat Naura semakin diguncing oleh teman-teman kerja mereka. Cukup Yuno mengawasi dari belakang, jika sudah sampai kelewat batas bagi Yuno, maka dia sebagai manager yang akan turun tangga.


Setelah itu mereka pun pergi makan siang, mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


__ADS_2