
Naura yang baru saja ingin keluar dari ruangan rawat inap pak Kenzie, karena apa yang ingin dia sampaikan telah tersampaikan kepada orangnya lanjut, Naura tentu merasa sedikit tenang.
"Kau" tiba-tiba saja suara seseorang wanita bernada tinggi berkata kepada Naura ketika mereka berpapasan ingin membuka pintu.
Naura hanya dapat menahan emosinya, badannya terasa bergetar, sungguh hari ini buruk sekali bagi Naura karena bertemu mereka.
Dua orang wanita berdiri didepan Naura, salah seorangnya memasuki ruangan pak Kenzie.
"Ma" sapa Danita pada wanita yang barusan langsung masuk.
Pak Kenzie nampak terkejut melihat kedatangan wanita parubaya ini.
"Ma" sapa pak Kenzie.
"Ma ada apa ribut-ribut luar, mana kakak?" Tanya pak Kenzie kepada wanita parubaya yang baru saja berjalan menujunya, untuk sekedar memeluk anak kesayangannya ini.
"Oh, kakak mu ketinggalan sesuatu dan langsung pergi mengambilnya!" jawab orang yang Danita dan pak Kenzie panggil mama.
"Kapan mama dan kakak datang?" tanya pak Kenzie kepada mamanya.
"Pasti kamu yang memberitahu jika aku sedang dirumah sakit begini kan!" tegur pak Kenzie terhadap Danita istrinya.
"Sayang, karena aku tidak ingin mama khawatir dan kebetulan mama menghubungi ku, katanya sedang berada dinegeri tetangga pada paginya bertepatan setelah waktu Yuno menelepon ku!" terang Danita menunjukan kemanjaan dia.
"Sudah, Danita sudah berbuat yang terbaik kepada mu, hingga mama bisa disisimu ketika kamu sakit" jawab mamanya.
"Tapi kan merepotkan mama, ini hanya hal kecil ma" jawab pak Kenzie.
__ADS_1
"Hal kecil bagaimana? Kalau kamu sampai gagal jantung bagaimana? Walau ini hanya gangguan irama jantung tapi bagi mama ini berbahaya, siapa yang menyebab kan kau begini?" tanya mamanya dengan galak.
"Itu ma, gara-gara karyawan Kenzie sendiri, dengan sok baiknya dia malah mendonorkan darah buat anak karyawannya, si Naura, si janda itu" terang Danita.
"Sudah cukup Danita" bentak pak Kenzie.
Pak Kenzie merasa dia tidak menerima saat ini jika Naura dijelekkan depan mamanya, dia tau Naura itu wanita yang baik.
"Tu kan ma, selalu begitu, selalu belain si janda itu" Danita mengadu kepada mamanya pak Kenzie.
"Anak itu" batin mamanya pak Kenzie. Mamanya pak Kenzie hanya menatap datar saja kedepan.
"Cukup Danita, jika kau terus berkata yang tidak-tidak terhadap Naura, sama saja kau mengfitnah dia" tegur pak Kenzie.
"Siapa sih orang itu, sampai kamu ini begitu membelanya?" tanya mamanya pak Kenzie dengan lembut kepada anaknya, seketika wajah mamanya pak Kenzie berubah.
"Naura, ma namanya! Dia sekertaris kantor ku, dia orangnya sangat teladan. Sangat membantu aku dikantor" pak Kenzie menceritakan Naura dengan bangganya.
"Iya ma" jawab pak Kenzie dengan bangganya.
Danita yang mendengar ucap pak Kenzie hanya dapat menahan kesalnya saja.
*****
Sedangkan wanita yang diluar sana yang bersama dengan Naura, mereka sedang berseteru.
"Kau mengapa bisa disini" tanya wanita yang tidak jauh berbeda umurnya dengan Naura.
__ADS_1
"Aku hanya mengunjungi bos ku, ada masalah" tantang Naura kembali, sejak dia di dorong mundur oleh wanita itu, dia membulatkan tekadnya akan melawannya jika dia benar.
"Oh, kau berharap yang didalam sana Raymond?" kata wanita itu.
"Aku tidak berpikir tentang dia lagi, aku tidak perduli" jawab Naura dengan tegas dan kuat. Padahal didalam batinnya ucapan dia hampir membuatnya bergetar.
"Hei, kak Rini yang cantik, dengar ya!" jawab Naura sambil menatap Rini, ya ini Rini kakaknya Raymond, mereka muncul kembali setelah sekian lama.
"Aku tidak perduli akan kalian lagi" ucap Naura dengan nada sedikit tinggi.
"Sungguh kah itu?" tanya Rini sambil mengejek Naura.
"Kau tau, semua karena kau Raymond adik ku meninggal" bentak Rini dengan sangat kuat.
Seketika Naura mendengar hal tersebut pun menumpahkan air matanya. Dia tidak tahan mendengar jika Raymond telah meninggal, orang yang selama ini sangat ingin dia temui, orang yang selalu dia pendam dalam hatinya dan tidak ada orang lain mengetahui perasaannya terhadap Raymond, yang selama ini sungguh masih disimpannya dalam hati telah pergi dari dunia ini.
Sekuat apa pun Naura menahan perasaannya, tetap perasaan dia selalu ada untuk Raymond, dia tau jika dia masih sangat mencintai Raymond.
Ini sungguh membuat Naura teriris, sungguh perih yang dia rasakan. Setelah berpisah Naura hanya berharap Raymond dapat hidup lebih lama, walau tidak menjadi pasangannya lagi.
"Yah Tuhan mengapa ini terjadi pada ku" batin Naura. Yang hanya mampu terduduk kelantai.
"Dimana makamnya kak, aku ingin kesana!" ucap Naura dengan cepat, suara parau yang mendominasi.
"Tidak akan pernah ku memberitahu kau, dimana makam adik ku" bentak Rini. Naura hanya dapat menangis dalam posisinya saat ini.
Hanya dengan menangis dapat memulihkan perasaannya.
__ADS_1
Senyum kemenangan pun Rini tampilkan, seperti melawan seorang musuh yang besar dan dia mendapatkan medalinya.
Dan tentu yang didalam ruangan rawat inap pak Kenzie adalah mama Vina. Mamanya dari seorang Raymond.