
Pagi ini Naura sudah bersiap tinggal menunggu Evano bangun saja.
"Dek, jadikah perginya" tanya mama Ayu pada Naura.
"Jadi ma, ini nunggu Evano saja" jawab Naura.
"Evano sudah tahu kah mau kemana?" tanya mama Ayu.
"Belum ma, biar saja dulu, ini juga yang selama ini Evano inginkan" jawab Naura dengan santai.
"Ya sudah, yang penting kamu jangan sampai menggila sendiri ya!" peringatan mama Ayu.
"Ok ma"
Setengah jam kemudian Evano telah bangun dari tidurnya langsung menuju ruang tamu, dia melihat mamanya sudah berpakaian rapi dengan rasa penasarannya dia pun bertanya kepada mamanya.
"Ma, mau kemana?" tanya Evano melihat pakaian mamanya sudah rapi dengan celana jeans kain warna hitam dan kaos berwarna peach.
"Ayo mandi sana, mama mau ajak kamu kesuatu tempat" ucap Naura.
"Mau kemana ma?" tanya Evano.
"Mau ikut enggak?" tanya Naura.
"Mau ma" jawab Evano cepat karena takut mamanya berubah pikiran.
"Ya sudah mandi, makan dulu, mama tunggu!" terang Naura.
"Ok ma" jawab Evano, dia pun bergegas kekamarnya mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi.
Walau saat ini Evano tidak tau jika dia akan dibawa kemana oleh mamanya, setiap mamanya mengajak dia jalan, maka dia akan selalu dengan cepat menjawab 'iya' kepada mamanya.
"Siap ma" Evano menampakan pada Naura pakaiannya yang sudah rapi.
"Sudah makan?" tanya Naura kepada Evano.
"Sudah ma" jawab Evano riang.
__ADS_1
"Nenek ikut?" tanya Evano.
"Enggak, nenekmu mau dirumah saja nonton sinetron kesukaannya" jawab Naura.
"Pamitan dulu ge sama nenek, nenek dikamar"
"Baik ma" jawab Evano.
Evano pun menuju kamar neneknya dan berpamitan, setelah berpamitan mereka pun segera pergi ketempat tujuan awal Naura.
Sesampainya di kuburan umum, tentu Evano menjadi binggung karena mamanya bukan membawa dia pergi ke mall atau pun taman bermain.
"Kita kog kesini ma?" tanya Evano binggung.
"Ayo, ikut mama dulu ya."
Mereka pun berjalan mengitari beberapa makam, setelah itu sampai lah Naura dimakam yang membuatnya menangis hampir setengah jam disana kemarin.
"Ini makam siapa ma?" tanya Evano binggung.
"Benarkah ini papaku, ma!" tanya Evano mulai menahan kesedihannya.
"Iya sayang" jawab Naura, kali ini Naura sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menangis lagi jika soal Raymond didepan Evano.
"Ray, aku datang sesuai janjiku pada mu, ini anak kita" sapa Naura pada makam yang tentunya bertuliskan nama Raymond.
"Papa" sapa Evano yang mulai menitihkan air matanya.
"Pa, ini aku Evano"
"A-ku, tau aku dari kecil sudah enggak ada papa, tapi papa selalu dihati ku, aku kangen papa" ucap Evano sambil terus menitihkan air matanya.
Naura terus menerus mendampingi anaknya, dia mengelus pundak anaknya.
"Katakan lah nak apa yang mau kamu katakan pada papa mu!"
Evano hanya menganggu saja.
__ADS_1
"Pa, aku sempat iri sama teman-teman ku disekolah karena melihat mereka punya papa, bisa main sama papanya, bisa kumpul bersama papa mamanya, bisa dijemput bersama papa mamanya, itu indah sekali pa tapi aku" suara Evano terputus.
"Aku" Evano menangis lebih keras lagi.
"Aku hanya punya mama dan nenek, pa!"
"Tapi aku selalu bangga terhadap mama karena mama selalu berusaha yang terbaik untuk ku tidak pernah berubah sedikit pun terhadap aku" terang Evano.
"Aku tau papa pasti menyayangi aku kan, aku sayang papa!"
"Tenang pa, aku pasti akan menjaga mama, aku ingin cepat besar membantu mama bekerja, agar mama diam dirumah saja jangan capek-capek lagi!"
"Evano janji pa, akan jadi anak baik" ucap Evano.
Naura hanya diam terus mendengarkan Evano berbicara pada makam papanya. Kemudian
Naura pun memeluk erat tubuh Evano yang bergetar karena menangis. Dia menangis sesegukan.
Tentu Naura sangat bersyukur, Tuhan menitipkan Evano dirahimnya dan kini anak itu telah besar serta membanggakannya.
Bukan hanya Evano yang bangga mempunyai mama seperti Naura. Tetapi sesungguhnya Naura lah yang sangat bangga mempunyai Evano.
"Sayang kamu lihat kan, Evano anak yang sungguh pintar dan baik, kamu baik-baik disana ya!" batin Naura.
"Sudah ya, ayo kita pulang atau mau jalan-jalan?" Naura memberi pilihan kepada Evano.
"Mau jalan-jalan saja ma, sore baru pulang" jawab Evano sambil menghapus air matanya yang tersisa.
"Ok"
"Aku dan anak kita pamit dulu ya, lain kali kami akan datang lagi" pamit Naura pada makam Raymond.
"Papa, Evano dan mama pergi dulu" ucap Evano.
"Dha-dha pa"
Mereka pun pergi meninggalkan makam itu, menuju tempat bermain yang menjadi tujuan Evano.
__ADS_1