
Sesampainya Naura dirumah, dia langsung saja memasuki rumah tanpa mengucapkan sapa jika sudah pulang seperti biasanya.
Mama Ayu heran melihat Naura yang bertingkah aneh begitu, tetapi mama Ayu tau Naura pasti punya masalah termasuk masalah Evano.
Flashback On
Sewaktu mama Ayu pergi menjemput Evano, dia menaiki becak yang memang sudah setiap hari membawa mama Ayu untuk menjemput cucunya.
Sesampainya mama Ayu di sekolah Evano, Evano tidak terlihat riang menyambut kedatangan neneknya.
Mereka pun pulang dengan menaiki becak yang sama. Disepanjang jalan Evano terlihat sangat diam saja tanpa bersuara.
"Kamu kenapa?" Tanya neneknya.
"Tidak nek!" Jawab Evano dengan nada yang ada tersembunyi rasa bersalah.
"Jangan bohong sama nenek!"
"Nenek bisa melihat dari mata mu tersimpan sesuatu"
"Nenek" Evano memeluk erat badan neneknya.
"Aduh, ada apa Evano?"
"Ayo cerita!"
"Janji nenek enggak akan marah sama Evano kalau, Evano cerita ya" menatap neneknya penuh dengan harapan.
"Iya" jawab neneknya sambil mencubit pipi Evano.
Evano pun menceritakan semua kejadian yang dia alami.
"Evano hanya kesal nek, sudah sering dia gitukan Evano, Evano sabar kayak nenek dan mama katakan. Tapi tadi Evano sudah enggak sabar, ya Evano dorong gitu! Terang Evano.
"Enggak boleh begitu sayang, itu salah karena kamu melukai teman mu!"
"Jangan pernah ulangi lagi ya!"
Evano hanya menunduk, dia juga tau itu sebuah kesalah mencelakai orang lain apa lagi teman sendiri.
"Iya nek, Evano enggak akan ulangi lagi!" Ucap Evano.
"Ya sudah, sini nenek peluk!" Mama Ayu memeluk Evano dan mendaratkan kecupan di kening Evano.
Berada dalam pelukan neneknya Evano sempat tertidur sebelum sampai ke rumahnya.
Mungkin karena dia kelelahan setelah mengeluarkan emosi yang sudah ditahannya.
Flashback Off
"Ada apa dek, kamu sepertinya lemas sekali?" Tanya mama Ayu yang melihat Naura melemparkan bacannya kasar di atas kursi.
"Aku enggak enak badan ma!" Jawab Naura.
"Kamu tadi kesekolah Evano kan?"
"Mama tadi sudah diceritakan sama Evano, nanti kamu tanya dia baik-baik jangan sampai emosi mu naik!"
"Lihat saja nanti ma!"
"Dimana anak itu ma?" Tanya Naura.
"Didalam kamarnya, setelah makan dia berada dalam kamarnya tidak keluar lagi"
"Sepertinya dia tau, dia bersalah" ucap Naura.
"Kamu temui gih!"
"Iya ma!" Jawab Naura.
Naura pun dengan langkah lemas menuju kamar Evano, tetapi sesampainya di kamar Evano, Naura memperkuat posisi tubuhnya agar tidak terlihat sedang tidak enak badan di depan anaknya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok! Sebelum masuk Naura mengetuk pintu kamar anaknya, karena itu Naura mengajarkan sopan santun sebelum memasuki ruangan pribadi orang lain, walau itu kamar anaknya, dia tetap akan mematuhinya, agar sang anak dapat meniru yang baiknya.
"Mama masuk ya!" Seru Naura.
Evano masih saja terdiam, Naura berjalan mulai mendekati Evano, kemudian Evano pun mendekat ke Naura dan memeluk Naura langsung dalam posisi berdiri. Evano tidak ingin mamanya memarahinnya.
"Maaf ma!" Ucap Evano langsung.
Naura hanya diam saja, lalu membuat Evano terduduk di diatas ranjang, Naura pun duduk disamping Evano sambil mengelus mencium bau kepala anaknya.
"Kamu tau kamu salah?" Tanya Naura langsung tanpa ingin basa basi.
"Iya ma!" Jawab Evano menunduk.
"Lain kali kamu jangan begitu lagi ya, itu enggak baik, mama sudah kasih tahu kan kalau suatu perbuatan buruk tidak perlu dibalas dengan buruk juga, cukup kita balas dengan diam atau pun perbuatan baik, merangkul kembali orang itu!" Terang Naura.
"Iya ma"
Naura tidak ingin lagi menanyakan alasan mengapa Evano mendorong temannya karena itu akan membuat Evano akan mengingat kekesalannya terhadap temannya itu.
"Maaf ma, Evano hanya kesal, teman Evano selalu mengejek Evano tidak punya papa!"
"Padahal papa Evano sudah di surgakan ma!"
"Iya" jawab Naura singkat.
"Ya sudah enggak apa-apa, lain kali jangan begitu ya!"
"Ma" panggil Evano.
"Hm"
"Ada apa?" Tanya Naura.
"Ma, papa dimakamkan dimana?" Tanya Evano yang teringat percakapan dengan Yeni dan Kenzo.
Naura hanya bisa terdiam, Naura berpikir bagaimana cara baiknya menyampaikan ke Evano soal ini.
"Kamu mau makan lagi?" Tanya Naura.
Naura berpura-pura tidak mendengar secara jelas apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Bukan ma" ucap Evano sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Makam ma, makam papa dimana?"
"Ma-kam papa mu" Naura terlihat sedikit gugup untuk menjawab hal itu.
"Iya ma, makam papa dimana!"
"Mengapa kamu tanyakan hal ini nak?" Tanya Naura untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Aku ingin melihat makam papa, berdoa untuk papa, aku ingin jadi anak yang baik buat papa, ma!" Ucap Evano mengingat kata-kata Yeni.
"Kan mama enggak ada foto papa, makam papa pasti ada kan!" Tanya Evano menatap ke arah Naura.
Naura terlihat gelisah untuk menjawabnya, dia tidak berpikiran jika anaknya akan sampai menanyakan hal begini.
"Kamu tau soal makam dari mana sih?" Tanya Naura.
"Dari Yeni, ma! Teman uang suka main sama Evano!"
"Dia bilang kalau besok pulang sekolah mau ke makam papanya!"
"Dia rindu papanya!" Ucap Evano.
"Aku juga rindu sama papa, walau enggak pernah bertemu dengan papa!" Terang Evano.
"Maaf nak, kamu tumbuh harus tanpa papa" batin Naura, yang merasa tersayat karena ternyata anaknya saat ini juga membutuhkan sosok papa.
Naura benar-benar tidak menyangka, anak kecil seperti ini bisa bercerita hal yang seperti ini, dia hanya mengira kalau anak kecil hanya taunya bermain, tidak akan membicarakan hal lainnya.
__ADS_1
"Jadi dimana ma, makam papa!" Tanya Evano lagi karena dia tau belum mendapat jawab pasti dari mamanya.
"Sangat jauh nak, enggak disini!" Jawab Naura untuk membohongin anaknya, walau Naura tau ini sebuah kesalahan, secara tidak langsung dia juga mengajari anaknya berbohong.
"Yah, ma! Evano enggak bisa donk baca doa dimakam papa?" Jawab Evano kecewa.
"Bisa donk nak! Berdoa tidak perlu ke makam papa, kamu bisa berdoa dari rumah, asalkan doa kita tulus untuk orang tua kita, maka itu akan tersampaikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa" terang Naura.
"Benarkah ma!" Tanya Evano senang.
"Berarti Evano masih anak yang baik buat papa kan, ma! Karena Evano masih bisa berdoa yang terbaik buat papa!"
"Iya sayang!" Jawab Naura yang setidaknya merasa lega karena anaknya tidak terus menerus lagi menanyakan letak pasti makam papanya.
"Kog muka mama terlihat putih sekali" ucap Evano yang baru memperhatikan muka mamanya, yang dimaksud Evano adalah mamanya terlihat pucat.
"Hm"
"Mama enggak apa-apa kog!" Jawab Naura yang sedang menahan pusing di kepalanya.
"Panas" Evano bangkit dari duduknya berdiri dan memegang kening mamanya.
"Mama demam!" Seru Evano.
Naura hanya menatap dia kearah Evano.
"Mama tunggu disini!" Evano berlari keluar dan kembali lagi dengan membawa sebutir Paracetamol dan air putih segelas dalam gelas berwarna putih bening, model bulat.
"Obat apa ini nak?" Tanya Naura.
"Ini paracetamol kata nenek" ucap Evano.
Karena tadi Evano keluar dari kamarnya menemui neneknya dan berkata mamanya demam, kemudian mama Ayu pun memberikan Evano paracetamol tersebut untuk diberikan kepada Naura.
Naura merasa sangat terharu, karena Evano sangat memperhatikannya, seperti mantan suaminya dulu.
"Kamu memang anaknya nak!" Batin Naura.
"Ini ma!"
"Mama sudah makan?" Tanya Evano sebelum menyerahkan obatnya.
"Sudah" jawab Naura.
"Kalau gitu mama sudah boleh minum obatnya!"
"Minum ma"
"Biar mama cepat sehat, besok antar Evano sekolah loh!" Terang Evano, sambil menyerahkan obat itu dan air putih dalam pegangan Evano.
"Iya sayang, terima kasih!" Kemudian Naura pun meminum obat tersebut.
"Mama bobok sini saja!" Evano membenarkan tata letak bantal dan gulingnya.
"Biar Evano bisa menjaga mama, seperti mama waktu dulu Evano sakit, mama menjaga Evano, selalu disamping Evano dan memeluk Evano!" Terang Evano.
"Evano peluk mama, mama tidur ya!"
Naura pun mengeser sedikit tubuhnya agar Evano bisa tidur disampingnya.
"Sudah ma, cukup" melihat mamanya masih mengatur posisi tidur, hingga terlalu ke tepi dinding.
"Mama istirahat ya, kan sudah minum obat!"
"Iya sayang"
Naura pun memejamkan matanya, dengan Evano disampingnya memeluk dia.
"Terima kasih Tuhan, engkau berikan anak yang sungguh baik, walau aku belum bisa jadi mama yang baik, bahkan untuk mengantikan posisi papanya" batin Naura.
Mereka berdua pun tertidur dikamar yang munggil tersebut.
__ADS_1