Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
91. Putri Beatarisa Perempuan Yang Membawa Kebahagiaan (End)


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, saat ini Raymond sedang sangat panik bolak balik didepan sebuah pintu berwarna putih.


Evano dan mama Ayu tentu menemani Raymond yang saat itu sedang sangat panik dan cemas.


"Pak Raymond" panggil suster yang baru saja membuka pintu berwarna putih tersebut.


Mama Ayu dan Evano pun segera berdiri.


"Apa anak ku sudah lahir" batin Raymond lega, tetapi dia masih binggung karena tidak mendengar suara bayi menangis.


Raymond terlihat termenung didepan suster tersebut.


"Apa adikku sudah lahir" batin Evano karena melihat kehadiran suster.


"Papa, di panggil suster" ucap Evano menyadarkan papanya.


"Eh, iya saya" jawab Raymond yang gagap.


"Bapak terlihat tegang sekali" ucap suster tersebut.


"Tenang nak" ucap mama Ayu.


"Pak, anda diminta masuk oleh istri anda" ucap suster tersebut.


"Temankan istrimu nak" ucap mama Ayu.


"Ma, aku enggak bisa tenang lihat Naura kesakitan gitu" ucap Raymond kepada Naura.


"Masuk lah" ucap mama Ayu.


Akhirnya Raymond pun masuk kedalam ruangan bersalin dengan perasaan yang sangat campur aduk, antara senang, takut, panik semua menjadi satu. Saat ini Naura akan melahirkan anak keduanya.


"Ray" panggil Naura sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Sayang, kamu enggak apa-apa kan!" ucap Raymond.


"Apanya enggak apa-apa, enggak lihat sakit begini, gara-gara kamu" ucap Naura sambil terus menahan sakitnya.


"Pak, istri anda baru pembukaan ke empat" ucap dokter pria yang berada disamping Naura.


"Lho kog, jadi dokter pria yang disini" batin Raymond.


"Saya mengantikan dokter Vidia, karena beliau tidak ada ditempat" ucap Dokter pria itu.

__ADS_1


"Oh iya" ucap Raymond.


"Duuuuhhhh" ucap Naura yang masih menahan sakitnya melahirkan, walau ini sudah menjadi pengalaman keduanya tetap dia merasakan sakitnya melahirkan.


"Tahan ya sayang" ucap Raymond sambil mengelus kepala Naura dan mengenggam tangan Naura dengan erat.


Naura pun hanya dapat mengangguk sambil menahan sakit diperutnya yang datang setiap 10 menit sekali dan semakin sering.


"Suster ini bagaimana kog istri saya makin kesakitan" ucap Raymond yang panik. Ini pengalaman pertama bagi Raymond menemanin istrinya melahirkan.


Dia pun sebenarnya binggung mau bagaimana agar dia tidak melihat Naura kesakitan seperti ini.


"Ini sudah prosesnya pak" jawab sang dokter menwakilkan susternya menjawab.


"Saya akan memeriksa apakah pembukaan sudah bertambah" ucap dokter pria tersebut.


Dokter tersebut meminta suster untuk mengangkat sedikit selimut yg menutupi bawahan Naura.


Raymond melotot melihat apa yang dilakukan oleh dokter tersebut.


"Sebelumnya maaf pak" ucap sang dokter.


"Maaf sekali lagi ya pak, ini memang tugas saya dan saya juga dokter kandungan" ucap dokter tersebut karena melihat mimik wajah Raymond yang berubah tentu dokter ini sudah tahu karena dia sudah banyak pengalamannya.


"Sudah hampir selesai pembukaannya sudah waktunya persalinan" ucap Dokter tersebut.


"Rayyyyyy" lirih Naura.


"Ini sakit sekali" ucap Naura.


Naura pun menggenggam tangan Raymond sangat kuat, hingga Raymond sendiri terkejut atas kekuatan Naura. Dia tidak tau jika Naura menyimpan kekuatan begitu.


"Huft, huft, huft!" Naura kelelahan karena sudah mengejan sekali.


"Semangat sayang kamu pasti bisa" ucap Raymond yang sebenarnya merasa binggung harus bagaimana, hanya dukungan yang bisa dia berikan.


"Ayo bu, dorong lagi ya" ucap dokter yang bersiap menyambut anak Raymond dan Naura.


"Aaaagggggghhhhhhhhh" teriak Naura begitu kuat ketika anaknya telah terlahir.


Raymond pun merasakan sangat bahagia sekali melihat anaknya telah terlahir, dia pun memberikan Naura sebuah kecupan di kening Naura. Ini menjadi pengalaman pertama sekali bagi Raymond menemani istrinya melahirkan, melihat anaknya terlahir dan melihat perjuangan istrinya melahirkan.


*****

__ADS_1


"Cucu nenek cantik" ucap Mama Ayu ketika melihat cucu keduanya telah lahir.


"Adikku" ucap Evano yang langsung saja ingin menciumi adiknya.


Naura merasakan kebahagiaan yang sangat istimewa atas lahirnya anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan ini. Bahkan bukan Naura saja tetapi juga pada Raymond, mama Ayu dan Evano mereka sangat bahagia.


"Nama adik kecil siapa pa?" tanya Raymond.


"Oh yak ampun papa sampai lupa memberi nama pada gadis kecil papa" ucap Raymond, dia sungguh melupakan nama untuk anaknya karena kebahagian yang dia terima.


"Kamu" ucap Naura melotot.


"Maaf sayang" ucap Raymond sambil terkekeh.


"Ehm" Raymond membetulkan suaranya.


"Namanya Putri Beatarisa yang berarti seorang anak perempuan yang membawa kebahagiaan" ucap Raymond dengan gaya bangganya.


"Jadi di panggil apa donk pa?" tanya Evano.


"Kita panggil Putri donk sayang" jawab Raymond.


"Gimana ma?" tanya Raymond pada istrinya.


"Aku setuju" jawab Naura.


"Nama yang cantik, nenek juga setuju" ucap mama Ayu.


Mereka pun tertawa bersama menyambut kehadiran anggota baru ini.


"Ray" sapa seorang yang baru datang memasuki ruang rawat Naura. Tetapi juga disertai beberapa orang lainnya.


"Mama, kakak, Zack" ucap Raymond sangat senang melihat kedatangan keluarganya.


Mama Vina saat ini duduk di kursi roda, walau sudah banyak mengalami kemajuan, kaki mama Vina masih tidak terlalu kuat untuk berdiri lama, bibirnya pun sudah mulai seperti kebentuk semula hanya saja belum pita suaranya belum sempurna, tangannya sudah dapat bergerak.


Sedangkan Rini, dia dan Zack tetap bersama. Dia tidak jadi berpisah dengan Zack setelah Zack berjanji akan menunjukkan bahwa dia bisa menjadi suami yang adil.


Tetapi Rini tidak ingin bertemu langsung dengan Jeslin jika ditempat yang bersamaan, karena dia tidak mau perhatian atau kasih sayang Zack diberikan kepada Jeslin didepan mata dia.


"Caa-ann-tikkk!" Mama Vina mencoba berucap.


"Mama, mama sudah lebih lancar bicara" ucap Naura yang mendengarnya.

__ADS_1


Mama Vina bahagia dengan dirinya sendiri yang sudah lebih baik, bahkan dia merasa jauh sangat baik.


Semua yang berada disana merasa sangat bahagia karena mama Vina sekarang lebih bisa berbicara. Mereka pun tertawa bersama karena gadis kecil ini lah semua berkumpul.


__ADS_2