
Hari ini setelah sekian lama Naura tidak masuk kerja karena menjaga Evano yang sakit, serta memang pak Kenzie sendiri yang menyuruhnya tidak masuk, dia merasa asing dengan kantor yang selama ini menjadi tempat dia mencari rejeki.
Perasaan Naura berkata jika didalam kantor ini dia akan mendapatkan masalah baru. Rekan kerja dia yang lain semuanya memandang Naura dengan pandangan berbeda, lagi-lagi hal itu diterima Naura. Dari dia menjadi sekertaris disana lah mulai perubahan kecil hingga saat ini perubahannya cukup besar.
"Lihat itu, Naura! Enak sekali dia ya bisa jaga anaknya sakit dalam satu minggu penuh, lha kemarin anak ku sakit cuma dikasih izin tiga hari" dengan sengaja salah seorang teman kerjanya berbicara agak keras tapi dengan gaya berbisik, mereka sengaja agar Naura dapat mendengarnya.
"Iya, enak sekali! Apa sih yang dikasih ke bos selama ini, kelihatan juga tuh pak Yuno ternyata suka sama dia" jawab teman yang lain.
"Iya, coba saja perhatikan kalau pak Yuno sedang bicara sama dia, pandangan mata pak Yuno penuh cinta" terang temannya.
"Janda memang nomor satu ya, mengait pria single dan pria beristri" jawab teman yang pertama berbicara dengan sinis.
Naura yang kebetulan lewat hanya dapat terdiam tanpa berbicara apa pun, mau menyapa temannya saja dia sampai tidak ingin melakukannya.
"Andaikan aku enggak butuh uang, aku enggak akan mau berkerja bersama kalian disatu atap yang sama" batin Naura sambil berlalu menuju ruangannya.
Naura sempat berpikir untuk segera berhenti bekerja dan mencari tempat baru, tapi karena dia harus mengumpulkan tabungannya lagi.
Setelah pengeluaran rumah sakit, akhirnya dia memilih bertahan diperusahaan ini sementara waktu, hingga waktu yang pas dia memilih berhenti bekerja dan mencari tempat lain yang bisa menerima dia tanpa harus ada guncingan sana sini, hanya perlu menyesuaikan ulang suasana kantor dan kerjaan saja.
"Hei Naura sudah puas kau berlibur, lihat kerjaan mu menumpuk" sekertaris lain pak Kenzie memerintahkan Naura untuk menyelesaikan tugasnya.
"Fira sudah ku katakan, anak ku sakit dan kau yang pertama ku kasih tau, jaga bicara mu" jawab Naura, dia berani melawan sekertaris Fira secara langsung karena, mereka menjadi lawan bicara.
__ADS_1
Berbeda dengan kejadian awal Naura sebelum dia menuju keruangannya dia hanya bisa melihat dan mendengar teman-teman lainnya membicarakan dia, walau itu jelas. Naura bukan takut untuk melawan atau menjawab mereka, tetapi itu bukan waktunya bagi Naura, ketika mereka berhadapan langsung didepan Naura, disana lah Naura yang langsung bertindak. Jika orang lain baik sama dia, dia akan lebih baik dari orang itu dan jika dia orang lain itu jahat sama dia, maka dia akan lebih jahat itu lah perinsip hidup Naura.
Orang lain tidak menganggu Naura, maka Naura tidak akan menganggunya.
"Kamu mah banyak alasan Naura, anak sakit ada dokter, perawat yang jaga, ada mama mu, kamu kan bisa kerja pagi, malam baru jaga, ini ikutan enggak masuk" ucap Fira dengan sinis.
"Kamu belum pernah menjadi seorang ibu, maka nya kamu dapat berbicara seperti itu" tantang Naura.
"Kalau aku sudah jadi seorang ibu, enggak mau seperti kamu, terlalu lemah" jawab Fira dengan tersenyum jahat.
"Aku akan lihat saat kau menjadi seorang ibu" Naura menantang Fira.
"Tentu aku lebih hebat menjadi seorang ibu" jawab Fira dengan bangganya.
"Tentu" lalu sekertaris Fira meletakkan berbagai data yang sengaja dia tumpukan untuk dikerjakan Naura, padahal itu semua sudah Yuno limpahkan kepada dia.
Kemudian Fira pun keluar dari ruangan Naura dan menutup dengan sedikit kasar.
"Arrrhhh awas saja cewek itu" gumam Naura yang mulai emosi terhadap Fira yang merupakan rekan sesama sekertaris.
Naura pun mendinginkan pikirannya untuk segera menyelesaikan tumpukan data-data yang ada.
Baru saja Naura ingin memulai kerjanya telepon ruangannya berbunyi.
__ADS_1
"Ya hallo" Naura mengangkat telepon tersebut.
"Naura, kamu sehat?" tanya si penelepon.
"Baik Serli, kamu bagaimana, satu minggu tidak bertemu rasanya kangen juga" ejek Naura.
Naura baru teringat dengar penyataan cinta dari Yuno untuknya, entah bagaimana hati Serli saat ini.
"I'm fine" jawab Serli walau suaranya tidak terdengar riang seperti biasa.
"Benar nih" tanya Naura.
"Iya" jawab Serli sambil berteriak di telepon.
"Bagaimana Evano, sehat?" tanya Serli.
"Tentu sangat sehat, terima kasih ya atas doa mu, Evano sehat kembali" ucap Naura.
"Jangan berbicara begitu, bagi ku yang terpenting Evano sehat, kamu masuk kerja jadi aku ada teman" jawab Serli dengan bahagia.
"Iya deh, sudah agh kerjaan aku banyak sekali, huhuhuhu" keluh Naura.
"Iya deh, semangat!" jawab Serli kemudian memberikan Naura semangat.
__ADS_1
Hanya tinggal Serli dikantor ini tidak pernah berpikir Naura yang negatif.