
Tepat 1 minggu ini Evano dinyatakan sembuh oleh sang dokter, dan hanya akan melakukan kontrol ulang untuk kesehatannya.
Naura dan Mama Ayu sangat bersyukur sekali karena Evano telah sembuh. Begitu juga Evano dia sangat bahagia karena bisa kembali kerumahnya dalam keadaan sehat.
"Nenek, Evano bahagia sekali bisa kembali pulang kerumah" teriak Evano sambil berputar-putar badan sang nenek, dia pun berlari sana sini, melihat keluar jendela.
"Nenek juga bahagia sekali" jawab sang nenek mengandeng tangan Evano sambil berputar-putar kecil bersama.
Saat ini Naura sedang mengurus kepulangan Evano dengan menyelesaikan adminitrasi dikasir rumah sakit.
"Terima kasih mbak" ucap Naura ketika dia sudah menerima sejumlah kwintasi selama perawatan Evano dirumah sakit. Sang kasir hanya tersenyum manis, sambil memyatukan kedua belah tangannya.
Naura hanya membayar obat-obatan saja, sedangkan kamar rawat sudah dibayar oleh pak Kenzie. Sesungguhnya Naura sungguh bersyukur pak Kenzie sedikit membantunya meringankan biaya rumah sakit, jika tidak dia benar akan berhutang pada rumah sakit, karena sekarang tabungannya benar-benar habis terkuras.
Dia hanya akan mengandalkan gajinya yang akan diterimanya tidak full, karena 1 minggu tidak bekerja. Memang pak Kenzie lah yang menyuruhnya untuk fokus menjaga Evano.
15 menit kemudian, Naura sudah mengangkut semua barang dia, untung tidak begitu banyak hanya ada 1 buah bantal dan tikar serta selimut yang dia bawah dari rumah ketika malam pertama menginap dirumah sakit.
Mereka berjalan bertiga, terlihat keluarga yang bahagia, jauh disana diseberang mereka ada seorang wanita yang sedang memperhatikan mereka.
Wanita itu berkata dalam batinnya, "siapa anak itu, apa anaknya dengan suami barunya, oh sudah bahagia ternyata dia"
__ADS_1
"Mama harus tau ini, ini pasti seru akan menjadi permainan baru!" Batin wanita ini yang tidak lain adalah kak Rini, kakak kandung dari Raymond
"Tapi tunggu, kelihatan anak itu wajahnya mirip Raymond" ucap kak Rini pelan, karena dia penasaran dengan Evano, dia berjalan lebih dekat kearah mereka dan bersembunyi disalah satu dinding yang terdapat sedikit celah.
"Tapi tidak mungkin itu anak Raymond, dia kan enggak bisa hamil" senyum jahat kak Rini, selalu memandang rendah Naura.
Kak Rini yang memandang Evano dari tempat persembunyiannya penuh dengan senyum jahatnya. Dia seperti berniat menganggu hidup Naura lagi, padahal Naura sungguh tidak pernah menganggu mereka.
*****
Sesampainya Naura, Evano dan mama Ayu dirumah mereka. Terlihat sekali kebahagian Evano bisa pulang kerumahnya sendiri lagi.
"Aku rindu sekali ranjang ini" ucap Evano pada mamanya, ketika mamanya menemaninya masuk ke kamar.
"Aku akan tidur lebih nyenyak ma, diranjang ini, walau tidak sebagus ranjang rumah sakit itu" ucap Evano sambil tersenyum tampan.
Evano lebih menyukai apa adanya hidup dia saat ini, asalkan selalu bersama mama dan neneknya.
"Sudah kamu istirahat ya, jangan sampai lelah lagi, kamu baru sehat loh" perintah Naura untuk Evano.
"Baik ratu, laksanakan" jawab Evano dengan riangnya.
__ADS_1
"Anak pintar" puji Naura kepada anaknya.
Naura pun keluar dari kamar Evano dan menuju kamarnya, setelah semua urusan untuk diluar telah selesai.
Didalam kamar Naura, dia menelentangkan tubuhnya di kasur yang selama ini selalu menemaninnya untuk mengistirahatkan tubuh, dia memandang kearah langit-langit dimana bintang-bintang tempelannya masih bisa berkilau walau sudah sangat lama menempel dilangit-langit kamarnya.
"Mengapa kau begitu cepat pergi" gumam Naura disertai air mata yang tiba-tiba saja jatuh langsung mengalir mengikuti garis mata mengenai anak rambutnya dekat telingga.
"Aku tidak pernah berharap kau pergi secepat ini, aku masih sangat ingin melihat mu walau kau tak bersama ku lagi" ucap Naura dengan lirihnya.
"A-ku kangen" lirih Naura terisak, dia sudah lama memendam rasa rindunya terhadap Raymond.
Dia tahi bukan Raymond yang mengcampakkannya, tetapi itu perbuatan mantan mertua dan kakak iparnya.
"Tetapi mengapa ada pria lain yang begitu mirip dengan mu" lirih Naura.
"Aku hampir memberikan hatiku untuknya, tetapi aku tau itu salah jika sampai itu terjadi, aku hanya pelampiasan, karena melihat orang itu sedikit mirip dengan kamu, dia juga begitu menyayangi Evano, anak kita" Naura terus berucap seorang diri, air mata pun tidak putus-putus mengalirnya, hingga dadanya terasa sesak.
"Aku salah apa, mengapa aku mendapatkan penderitaan seperti ini, semenjak kau pergi" ucap Naura yang terus saja meratapi nasibnya.
Saat ini Naura benar-benar memikirkan dirinya sendiri. Dia memikirkan perasaan dia saat ini.
__ADS_1