
Melihat Evano terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit bagi Naura dan Mama Ayu ini sangat menyakitkan,apa lagi menatap wajah Evano karena ini juga baru pertama kalinya bagi mereka. Saat ini terlihat Evano tertidur pulas dengan wajah pucat, kulit sedikit kering, walau panasnya sudah sedikit turun, tetap saja ini sungguh mengiris hati Naura sebagai mamanya Evano.
Bagaimana bisa seorang ibu melihat anaknya sakit seperti ini, seorang ibu lebih memilih melihat anaknya nakal bukan berartian nakal dalam negatif tetap nakal dalam menandakan keaktifannya.
Bagi Naura melihat Evano berlari sana sini, walau dia harus berteriak atau mengeluarkan suara keras karena tidak suka Evano membuat keributan seperti itu, setidaknya hal itu lebih dibandingkan melihat kondisi Evano saat ini.
Tiba-tiba saja air mata Naura keluar dengan sendirinya, yang sudah dia tahan dari malam, dari dia melihat Evano demam, Naura tidak ingin menangis karena Naura melihat kekuatan Evano dalam melawan demamnya.
"Cepat sehat nak" batin Naura sambil terus meneteskan air matanya, walau sudah dihapus tetap air matanya turun dengan sendirinya.
"Cepat sehat ya cucu nenek" ucap mama Ayu yang juga merasakan kepedihan anaknya.
Suara langkah kaki bergemuruh masuk seperti beberapa orang yang datang menuju ruangan dimana Evano dirawat.
Naura ingin memberikan Evano pelayanan terbaik, dia mengambil ruangan kelas dua, hanya itu saja dia mampu lakukan, jika mengambil ruangan kelas satu akan sungguh menguras isi tabungannya, lebih baik itu Naura lakukan untuk membayar obat-obat terbaik untuk Evano.
Didalam ruangan ini terdapat 3 orang pasien, semuanya adalah anak-anak termasuk Evano, Naura dan mama Ayu belum ada menyapa pasien lainnya karena dia masih fokus kepada anaknya.
Seorang dokter datang, dokter yang memeriksa Evano di Unit gawat darurat. Dokter Ali, berserta dua orang suster.
Suster itu membawa sebuah buku yang lebar dan yang satunya mendorong sebuah meja yang berisi obat-obatan.
"Bagaimana hasilnya dok? Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Naura beruntun.
"Ibu tenang dulu" jawab dokter Ali.
"Anak ibu, saat ini mengalami gelaja tipes" terang sang dokter.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa dok?" tanya Naura lemah, dia sangat takut akan menganggu hal lainnya pada Evano.
"Tenang saja, anak ibu akan segera sembuh jika kita laksanakan perawat intensif"
"Berapa lama dok, kira-kira sembuhnya, minimalnya satu minggu tergantung kekuatan fisik dari sang anak!"
"Baik dok"
"Terima kasih" ucap Naura.
Mama Ayu yang dari tadi hanya mendengarkan mengucapkan terima kasih kepada sang dokter.
"Bagaimana ini ma, kasihan Evano" tanya Naura kepada mamanya. Dengan suara penuh kecemasan.
"Sudah kita berdoa meminta bantuan Sang Yang Maha Kuasa, melalui tangan dokter, Evano akan segera sehat kembali" jawab mama Ayu.
Triiiinnnngggg! Suara ponsel Naura berbunyi, beberapa orang yang berada diruangan itu semua menoleh kearah Naura, membuat Naura merasa tidak enak hati karena ponselnya ini.
Naura pun segera keluar dari ruangan dan mengangkat telepon tersebut.
"Naura, kamu dimana hari ini kita ada meeting dan kamu di minta pak Kenzie menemaninya?" tanya sekertaris pak Kenzie yang lain. Dengan nada yang keras, seperti tidak suka berbicara kepada Naura, tapi itu memang hal biasa yang terjadi antara Naura dan sekertaris tersebut.
"Anak ku lagi sakit, aku izin tolong sampaikan pak Kenzie" jawab Naura dengan benar apa adanya.
"Hm, ok" hanya itu jawaban dari sekertaris tersebut.
Naura benaran sampai lupa, jika dia hari ini harusnya bekerja, juga lupa untuk mengabari kantornya, jika dia izin untuk tidak masuk dulu.
__ADS_1
Naura pun mengambil inisiatif sendiri untuk kembali menghubungi Yuno, memberitahu bahwa dia tidak masuk hari ini, tentu saja Yuno sangat terkejut akan hal ini dan tentu izin dengan mudah Naura dapatkan.
Bahkan Yuno juga merasakan kekhawatiran terhadap Evano, hanya mendengar bahwa Evano sakit saja, Yuno merasa dia seperti orang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Siapa dek?" tanya mama Ayu yang penasaran.
"Orang kantor ma"
"Naura lupa untuk kabari kantor kalau hari Naura izin"
"Ya ini karena sakin paniknya kita" jawab sang mama.
"Ya sudah mama mau pulang dulu untuk beres-beres nanti mama kesini lagi, gantian kamu pulang mandi dan ambil motor mu, agar kemana-mana mudah" terang mama Ayu.
"Agh, iya ma" jawab Naura.
"Mama pulang pakai ojek ya" tanya Naura.
"Iya donk dek, kalau enggak pakai apa, kamu antar" celetuh mama Ayu.
Naura hanya dapat terkekeh, dia merasa hingga akal pikiran dia hilang, karena terlalu terfokus kepada Evano.
"Jaga cucu mama" ucap mama Ayu tegas.
"Anak ku lo ma" jawab Naura.
Walau begini Naura dan mama Ayu masih saling menghibur hati mereka untuk sedikit tidak terlalu bersedih.
__ADS_1