Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
72. Suara Hati


__ADS_3

Dirumah Naura.


Seperti biasa Naura pulang dengan menampilkan wajah lusuhnya yang juga karena lelah bekerja dan karena dua laki-laki tersebut.


"Kenapa dek?" tanya mama Ayu yang barusan saja melihat Naura memasuki ruangan tengah.


Mama Ayu terlihat sedang menyiapkan makanan di meja makan.


Disitu juga terlihat Evano yang sedang duduk di kursi tetapi juga dengan kondisi diam, memandang malas ke arah Naura.


"Enggak ma, hanya lelah saja" jawab Naura sekedarnya.


"Ya sudah, mandi dulu kemudian makan dan istirahat lah" perintah mama Ayu.


"Iya ma"


"Evano, mengapa kamu diam begitu" tanya Naura kepada anaknya.


"Iya mengapa tidak menyapa mama mu nak?" tanya mama Ayu sang nenek.


Evano kembali menatap mamanya, sepertinya Evano menanti sebuah jawaban dari Naura.

__ADS_1


Tetapi Naura malah beralih pergi untuk mandi.


Setelah selesai mandi, Naura kembali ke meja makan untuk makan bersama.


"Ma, kapan papa bisa disini terus" tanya Evano ternyata memang sudah tidak sabar menunggu mamanya berbicara.


Naura yang kini menatap Evano, sambil menarik nafasnya kemudian membuangnya kasar. Naura terlihat berat untuk menjawabnya.


"Evano kita makan dulu ya!" ajak sang nenek.


"Iya nek" jawab Evano, yang memang selalu menurut dengan apa yang neneknya katakan.


Beberapa saat setelah Naura, Evano dan mama Ayu menyelesaikan makannya mereka pun kembali dalam keheningan.


"Evano mengapa kamu begini, mama kan sudah bilang nanti" jawab Naura menaikan nada suaranya.


"Dek, jangan begitu terhadap Evano, Evano begini mungkin dia lagi rindu dengan papanya karena sudah satu minggu lebih Raymond tidak datang kan" ucap mama Ayu.


Naura pun hanya menunduk karena dia juga merasa bersalah terhadap Evano.


"Evano rindu ma sama papa" ucap Evano dengan lirih seperti menahan tangisnya karena juga barusan seperti dibentak oleh Naura.

__ADS_1


Terlihat kedua mata Evano mulai memerah, terlihat juga air mata yang masih tertahan di kelopak mata Evano.


"Ma" suara Evano bergetar, air mata Evano pun tumpah, menetes mengaliri pipinya.


Mama Ayu pun mendekat memeluk cucunya agar dapat menenangkan cucunya.


"Aku hanya ingin punya keluarga yang lengkap ma, punya mama, papa dan nenek disini" ucap Evano sambil terus air matanya mengalir.


"Dek, memang bagaimana sekarang kamu dengan Raymond, kata kamu Raymond sudah bercerai, jika memang tidak ada salahnya kalian kembali toh memang kalian masih saling mencintai" ucap mama Ayu.


"Tapi jika kamu tidak ingin sama Raymond dan memilih Yuno, mama pun tidak akan melarang karena mama tau jika Yuno juga sangat mencintai dan menyayangi Evano, tetapi disini Evano lebih membutuhkan papa kandungnya" ucap mama Ayu membantu Naura memilih.


"Aku tau ma, aku akan memikirkannya untuk bisa secepatnya memberikan keputusan" jawab Naura.


Evano hanya dapat diam mendengar apa yang para orang tua katakan.


Naura sebenarnya juga sangat menderita dengan perasaannya sendiri. Banyak yang Naura pertimbangkan untuk memilih diantara kedua laki-laki itu, jika bisa Naura lebih memilih tidak ada mereka dalam hidupnya.


"Aku harus memilih, aku juga tidak bisa terus mengantungkan hidup mereka, membuat mereka terus menerus dalam keadaan menanti jawaban" batin Naura.


Naura tau jika dia memilih Raymond maka dia pasti akan kembali ke masa dia di siksa oleh mama Vina dan Rini yang tidak menyukai kehadirannya, tetapi hanya menginginkan anak dari Naura, Naura hanya sebagai alat untuk melahirkan anak, atau memberikan mereka keturunan apalagi Naura sudah tau saat ini jika Raymond akan susah memiliki anak lagi, karena alat reproduksinya menurun kualitasnya.

__ADS_1


Jika Naura memilih Yuno, maka orang akan mencibir status dia yang memang seorang janda, menikahi seorang yang masih single, belum pernah menikah. Bahkan Naura tentu harus menyesuaikan diri lagi dengan keluarga baru bahkan harus belajar mencintai Yuno.


__ADS_2