
Lelah bermain Naura dan Evano pun pulang kerumahnya, baru saja Naura dan Evano akan memasuki pintu utama setelah membuka kuncinya, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kedatangan orang yang sangat dan bahkan tidak pernah mereka harapkan.
"Naura berhenti" teriak orang yang baru datang menghampiri Naura dan Evano.
Evano kebinggungan dengan kedatangan dua orang ini.
Karena mendengar keributan diluar mama Ayu pun keluar dari dalam rumah.
"Kamu" mama Ayu terkejut melihat kedatang kedua orang ini.
"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya mama Ayu dengan suara yang tinggi, jelas mama Ayu tidak menyukai keluarga dari Raymond.
Ya, yang datang saat ini mama Vina dan anak perempuannya Rini.
"Aku hanya ingin memastikan apakah cucu ku tumbuh sehat bersama kalian yang tidak bisa diharapkan ini" ucap mama Vina dengan sombongnya.
Untung saja Naura sudah menjauhkan Evano dari mama Vina, sehingga Evano tidak dapat mendengar percakapan mereka barusan.
Mama Ayu hanya memiringkan senyumnya mendengar mama Vina berkata cucunya, ini sebuah lelucon bagi mama Ayu.
"Evano, masuk ke kamar jangan keluar ya" Naura terlebih dahulu memerintahkan Evano masuk, sebelum dia semakin mendengar pertengkaran para orang tua ini.
"Iya ma" jawab Evano, dia pun segera berlari masuk kedalam rumahnya.
"Kau hebat ya merawat anak" sindir Rini yang melihat Evano begitu nurut kepada Naura.
"Jelas, itu anak ku" jawab Naura dengan ketusnya.
__ADS_1
"Untuk apa anda datang kesini mantan mama mertua dan mantan kakak ipar?" tanya Naura dengan sinis.
"Ternyata cucu ku sudah besar" ucap mama Vina.
"Hei, kau orang yang sangat tidak tau diri, beraninya datang membuat rusuh rumah ku dan mengaku itu cucu mu" jawab mama Ayu yang mulai marah.
Mama Ayu sangat tidak ingin jika Evano diganggu oleh mereka.
"Sudah lah tante, jelas itu cucu mama ku, dia darah daging adik ku" timpal Rini dengan judesnya.
"Dia anak ku, kau tidak berhak mengganggunya" jawab Naura yang mulai menaikan nada bicaranya.
"Santai" jawab Rini.
"Kami hanya ingin melihat darah daging Raymond, sungguh mirip dengan papanya" ungkap Rini bersekap tangan didadanya.
"Jaga mulut anda, masih berani mengakui Evano cucu anda?" tanya mama Ayu dengan sinis.
"Apa salahnya kami mengakui itu cucu kami, jelas itu darah daging Raymond anak kami" balas mama Vina dengan gayanya yang selangit.
"Anda begitu keji memaksa Naura bercerai dari Raymond ditengah Naura lagi hamil, selama 5 tahun ini sudah banyak penderitaan dia lalu karena kau" bentak mama Ayu lalu menunjuk ke arah muka mama Vina.
"Aku tidak suka anak ku menikah dengan anak mu, tapi yang aku inginkan saat ini cucu ku" jawab mama Vina dengan santai.
Sedang kan Rini dan Naura saling bertatapan tajam. Dan memegangi masing-masing mama mereka.
"Kau silakan pergi dari sini, kalau tidak akan ku teriak pencuri biar satpam disini hadir dan warga disini berdatangan" bentak mama Ayu.
__ADS_1
"Pergggggiiiiiiiiiiii" teriak mama Ayu dengan nada yang sangat keras.
Mama Ayu sangat emosi, padahal mama Ayu adalah orang paling sabar, hanya berhadapan dengan keluarga Raymond lah dia dapat menjadi seperti ini, dia emosi sampai badannya bergemetar, dadanya pun terasa sesak, diusia setua ini dia mengeluarkan emosi begitu besar ini sangat tidak baik bagi kesehatannya.
"Ma, ayo pergi saat ini situasi tidak mendukung" ajak Rini kepada mamanya sambil memukul bahu mamanya pelan setengah berbisik.
"Besok-besok kita bisa datang lagi ma" ucap Rini pada mamanya.
"Kita susun rencana hancurkan Naura bagaimana, hingga dia bisa melepas Evano buat kita" ucap Rini pelan ditelingga mamanya.
Mama Vina hanya mengangguk-angguk menandakan dia mengerti apa yang Rini katakan.
"Kalian pergi enggak, dengar kata mama ku, kalian punya telingga enggak atau telingga kalian juga telah menjadi batu dan tertutup seperti hati kalian yang kejam itu, hah" bentak Naura, sekarang Naura menaikan oktaf suaranya di depan mama Vina dan Rini.
Mama Vina hanya diam sesaat kemudian dia dan Rini pun memilih untuk pulang.
"Cepat pergi" mama Ayu pun mendorong badan mereka untuk segera menjauh dari rumahnya.
"Untuk apa mereka datang, hanya untuk mengambil Evano" mama Ayu sudah tau tentang mama Vina dan Rini yang sudah tau jika Evano anaknya Raymond.
"Berani mereka mengambil Evano harus melangkahi dulu mayat ku" ucap mama Ayu masih penuh nada emosi.
Sambil Naura membantu mamanya untuk duduk diteras depan untuk mengatur emosi dan nafasnya kembali karena saat ini terlihat sangat nafas mama Ayu sangat lelah, keringat saja bercucuran.
"Sudah cukup ma, mereka susah pergi, aku juga tidak akan pernah menyerahkan Evano kepada mereka dalam keadaan apa pun, sampai aku mati" terang Naura kepada mamanya.
Tentu saja mama Ayu dan Naura tidak akan pernah mau jika sampai Evano di rebut oleh keluarga Raymond, bagi Naura mereka tidak berhak. Naura dan mama Ayu yang telah membesarkan, merawat Evano dalam situasi apa pun telah mereka lalui bersama.
__ADS_1