Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
68. Ribut-Ribut Di Kantor


__ADS_3

Disaat semua teman kerjanya telah pulang, Naura masih setia berada dalam ruangannya, menyelesaikan beberapa data yang belum selesai, karena sekertaris Fira dengan sengaja melemparkan kerjaan dia kepada Naura. Naura yang memang tidak banyak memilih dalam bekerja pun dengan sedikit suka enggak suka, dia tetap kerjakan.


Waktu juga sudah menujukan jam lima lewat, menjelang malam.


"Sedikit lagi" batin Naura.


Naura merengtangkan kedua tangannya keatas, untuk merenggangkan otot-otot tulang punggung karena lamanya duduk di kursi kerjanya.


"Untuk apa kalian kesini?" tanya kepada orang yang didepannya, suara bosnya, yang ternyata juga belum pulang.


Naura pun memberhentikan jari jemarinya untuk mengetik, mendengar terlebih dahulu jika bosnya berbicara dengan siapa.


Karena ruangan Naura dan bosnya berdekatan, jika suara dari luar dengan ruangan terbuka maka masih akan kedengaran walau tidak jelas.


"Mana wanita itu, harusnya kau memecatnya" teriak Rini seperti orang gila.


"Cukup kak, apa yang sudah kau perbuat dengan kami ini sungguh bukan lah seorang yang bisa disebut dengan saudara" ucap Raymond dengan tegasnya menatap tajam kearah kakak dan mamanya.


Orang yang datang ke kantor Raymond adalah Rini dan mama Vina, Rini semenjak siang sudah mengintai kantor Raymond, dia dan mamanya berniat untuk menghadang Naura pulang, mereka ingin berbuat hal buruk terhadap Naura.


"Raymond, kami lakukan itu semua demi kebaikan mu, untuk apa kau bersama wanita miskin itu yang hanya dapat menghabiskan uang mu" ucap mama Vina.


Kini Naura tau jika yang di luar sedang ribut-ribut adalah mantan mertua dan kakak iparnya. Naura pun dengan cepat mengunci pintu ruangannya. Untung saja saat ini memang dikantor hanya tersisa Naura dan Raymond. Yang menjadi kesempatan untuk mama Vina dan Rini langsung kepada tujuannya.


"Lihat kamu, sekarang lebih memilih wanita itu dari pada kami, hingga kau menceraikan istri terbaik mu" ucap Rini kepada Raymond.

__ADS_1


"Ma apa yang kau lakukan telah merusak hidup ku dan anak ku" jawab Raymond dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


"Tentu aku akan memilih Naura karena dia wanita yang sangat aku cintai dan juga bukan orang yang merusak kebahagiaan ku seperti kalian" ucap Raymond.


"Kak, ma tau ini adalah kantor! Jika kalian tidak ada urusan lagi, kalian silakan pergi dari sini, sebelum aku panggilkan satpam" Raymond mengusir mama dan kakaknya.


"Kalau tidak kalian akan diseret oleh satpam" ancam Raymond.


"Kamu tega begitu terhadap mama?" tanya mama Vina pura-pura dengan wajah memelas.


"Mama saja tidak pernah memikirkan perasaan ku, untuk apa aku memikirkan perasaan kalian" jawab Raymond dengan santai.


"Sebaiknya kalian pergi dan jangan kembali lagi" bentak Raymond dengan memukul pintu ruangannya.


"Kau mengusir kami" tanya Rini dengan galaknya.


"Jika bukan karena kami, kau tidak akan berada disini saat ini" ucap Rini kepada Raymond.


"Jika kakak dan mama mau perusahaan ini, silakan ambil! Aku tidak perduli lagi dengan ini semua" jawab Raymond.


Raymond susah sangat tidak ingin melihat wajah kakak dan mamanya, hanya saja dia tidak berani berlaku terlalu kasar terhadap mama dan kakaknya. Raymond berpikir bagaimana pun itu adalah mama dan kakaknya, sejahat-jahat orang tuanya dan saudara maka itu tetap saudaranya.


"Sudah, kalian keluar" usir Raymond.


Karena memendam kekesalan yang cukup tinggi, Rini yang berjalan keluar, dengan langkah kaki yang kasar. Sedangkan mama Vina masih saja bersantai, karena saat ini dia berpikir tidak apa-apa jika Raymond tidak menerima dia, tetapi dia masi mempunyai anak perempuan yang masih punya cadangan kehidupan, yaitu suami Rini. Mama Vina berniat untuk kembali ke luar negeri untuk tinggal bersama Rini dan suaminya yang sudah menikah 3 tahun tetapi belum mempunyai anak.

__ADS_1


10 menit kemudian.


Raymond yang sudah mengatur emosinya pun segera memanggil Naura untuk menemuinya.


"Naura, keruangan ku sekarang!" Raymond pun menutup panggilan teleponnya.


"Baik pak" jawab Naura dengan panggilan resmi karena masih dalam keadaan bekerja.


"Agh, bising saja, menganggu!" batin Naura.


Dengan segera Naura pun menuju ruangan bosnya, seperti tidak terjadi apa-apa Raymond, dia menyambut kedatangan Naura.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Naura hanya untuk sekedar basa basi .


"Kamu tadi dengar kan keributan disini" tanya Raymond dengan suara khas lembutnya.


"Hmm, iya" jawab Naura singkat.


"Aku tidak akan ikut campur urusan kalian" jawab Naura dengan cueknya.


"Maaf pak saya akan pulang" jawan Naura.


Raymond menangkap pergelangan tangan kiri milik Naura, hingga Naura merasa sakit


"Ish" ringgis Naura yang pada saat itu ingin pergi meninggalkan ruangan Raymond. Hanya dengan saling menatap Naura mengerti keraguannya.

__ADS_1


Naura pun keluar dengan cepat meninggalkan ruangan Raymond, membuat Raymond terdiam seribu bahasa.


__ADS_2