Ibu Tunggal

Ibu Tunggal
50. Ke Ruangan Rawat Inap Pak Kenzie


__ADS_3

Hari ini sudah akan menjadi malam kedua untuk Evano menginap dirumah sakit. Hanya saja dengan kamar rawat inap yang berbeda.


Melihat Evano telah tertidur serta ada mama Ayu yang menemani sang cucu, Naura pun berinisiatif untuk berterima kasih kepada pak Kenzie karena telah mendonorkan darahnya serta memberikan Evano ruangan terbaik, hingga mama Ayu juga bisa lebih leluasa untuk menemani Evano.


Jika berada diruangan kelas dua, dengan jumlah tiga pasien, tetap berbeda fasilitas, disana Naura harus mengelar tikar untuk tidur dilantai dan hanya menggunakan jaketnya sebagai alas kepala atau bisa disebut bantal. Berbeda dengan ruangan yang sekarang menyediakan satu kasur khusus untuk yang menunggu dan ruangannya hanya satu penghuni.


*****


Naura pun terus berjalan sambil memikirkan ulang perasaan yang tadi dia baru rasakan saat bersama pak Kenzie. Kini Naura telah sampai keruangan rawat inap vvip.


Dia melihat kedalam melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ternyata didalam sana sudah ada istri pak Kenzie menunggu, pak Kenzie pun terlihat sudah sadar.


Dengan tekad Naura yang kuat untuk berterima kasih, dia pun memberanikan diri untuk masuk kedalam, padahal Naura tau kalau kali ini Naura masuk kandang harimau betina.


"Permisi" sapa Naura agar tidak terlihat canggung.


"Malam pak, bu" sapa Naura yang ditujukan kepada Danita dan pak Kenzie.


Naura melihat gaya Danita seperti menguasai sang suami, sepertinya dia takut jika suaminya diambil orang lain, padahal itu sama sekali tidak pernah ada dalam pikiran Naura.

__ADS_1


"Ini dia biang masalah hingga suami ku bisa seperti ini saat ini" langsung saja suara meninggi yang Danita keluarkan ketika melihat Naura yang datang.


Naura juga merasa bersalah, ini semua karena dia hingga pak Kenzie bisa seperti ini, jika dia tidak menyetujui jika pak Kenzie mendonorkan darahnya, kemungkinan pak Kenzie tidak akan berbaring di ranjang rumah sakit seperti ini. Hanya saja saat itu Naura tidak berpikir apa-apa, bagi Naura siapa pun yang memberikan Evano darah akan Naura terima karena Naura hanya ingin Evano cepat sehat kembali.


Evano adalah harta satu-satunya dia dapat dari Raymond, itu buah cinta mereka. Karena Evano lah Naura selama ini selalu kuat menjalani kehidupan yang penuh lika-liku ini.


"Sudah Danita tadi aku sudah peringatkan kamu, aku hanya kebetulan kesini dan bertemu mereka kemudian ini hanya sebuah musibah kecil, aku juga tidak apa-apa! Apa kamu masih belum mengerti, jaga sikap mu" tegur pak Kenzie dengan tegas kepada istrinya, dia tau jika Danita akan berbuat seperti itu kepada Naura.


"Tapi dia" bantah Danita.


"Sudah, kamu tenang ya" jawab pak Kenzie dengan menatap Danita, akhirnya Danita memilih untuk mengalah, dia juga ingat jika pak Kenzie dalam kondisi tidak baik.


Naura yang mendengar pertengkaran kecil ini hanya dapat terus menunduk dan mendengar.


"Maaf bu, pak! Saya kesini hanya ingin berterima kasih karena bapak sudah membantu kesembuhan anak saya, sudah memberikan kamar yang baik untuk anak saya" ucap Naura dengan suara sedikit bergetar karena takut akan dimarahi oleh Danita lagi.


Tentu Naura takut hal ini akan berdampak pada karirnya.


"Anggap saja ini hadiah untuk mu, sebagai karyawan yang teladan" ucap pak Kenzie dengan santai.

__ADS_1


Danita hanya dapat menatap suaminya, dia tidak berani mengeluarkan suara, karena dia tau jika suaminya akan lebih garang lagi nantinya. Danita tidak habis pikir, mengapa suaminya begitu perhatian dengan Naura, apa spesialnya Naura, apa kerjaan dia bagus sampai suaminya benar begitu perhatian.


"Apa wanita ini sudah mau mengambil hati suami ku" batin Danita yang semakin kesal.


Danita pun diracun oleh pikiran dia sendiri.


"Tapi pak, biar saya akan menyicil semua yang bapak berikan untuk Evano, nanti bapak potong saja gaji saya pak!" jawab Naura gugup karena Naura juga tau jika Danita tentu tidak suka suaminya memberikan uang secara suka rela begitu kepadanya.


"Sok sekali janda ini" batin Danita sambil menatap Naura dengan sinis.


"Apa dia bisa punya banyak uang membayar rumah sakit ini" batin Danita yang terus menatap Naura dengan wajah datarnya.


Naura yang merasa tidak tenang pun terus menerus memelintir jari jemarinya.


"Sudah Naura, jangan menolak kebaikan saya" ucap Pak Kenzie.


Naura terdiam sesaat, dia binggung harus berkata apa lagi, dia tau jika pak Kenzie selama ini selalu sangat baik terhadap dia dan keluarganya.


"Baik pak" hanya itu saja kalimat yang dapat Naura keluarkan.

__ADS_1


"Tu kan enggak benar ini orang, bukannya bersikeras menolak pemberian suami ku malah menerimanya, sok jual mahal" batin Danita yang masih sangat kesal.


Naura memang tidak dapat berkata banyak jika sang bos sudah berkata, hanya Naura berusaha memahami apa yang pak Kenzie berikan kepada dia.


__ADS_2