
Pagi hari dimana dokter sudah berkunjung kemudian meminta Naura untuk menemuinya diruangan khusus dokter dan keluarga pasien.
Naura merasa tidak ketika dokter memintanya untuk berbicara pribadi, sebelumnya Naura juga belum tenang dengan perasaan Yuno terhadapnya, Namun Yuno tetap disampingnya saat ini, menemani Naura, sedangkan mama Ayu datang kerumah sakit.
"Maaf dok, bagaimana hasil pengecekan anak saya hari ini" tanya Naura yang belum juga duduk di kursi depan meja dokter.
"Silakan duduk dulu buk!" ucap sang dokter,
Sedangkan suster yang disamping sang dokter, melihat Naura begitu, dia hanya dapat tersenyum, dia mengerti jika Naura mengkhawatirkan anaknya, bagi suster tersebut dia sudah biasa melihat orang-orang tua dari anak yang mereka rawat dengan raut wajah seperti Naura, raut wajah cemas, panik, deg-degan menunggu sang dokter berbicara, walau sang dokter terlihat tenang.
"Suster mana datanya?" tanya sang dokter kepada susternya.
"Ini dok!" jawab suster tersebut menyerahkan datanya sebelum tadi pagi, lagi-lagi Evano di ambil darahnya.
Kemudian sang dokter mengambil nafas panjang sejenak dan berkata "anak ibu, hemoglobinnya turun, jadi kita membutuhkan donor darah, hanya saja stok darah dirumah sakit ini untuk jenis darah milik anak ibu sedang kosong"
"Darahnya AB-" terang sang dokter membuat Naura merasakan semangat seketika hilang!"
"Mengapa bisa sampai terjadi begini dok?" tanya Naura dengan suara bergetar karena takut hal-hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Ini karena hemoglobin anak ibu telah turun menjadi 5 jadi harus cepat untuk dilakukan transfusi darah" terang sang dokter.
"Ini bisa terjadi karena ada perdarahan pada saluran cerna maka bisa terjadi penurunan hemoglobinnya sehingga berbahaya pada tubuh atau bisa saja pada penderita tipes kerap kali tidak nafsu makan sehingga nutrisi yang masuk tidak maksimal sehingga tubuh kekurangan nutrisi berakibat pada hemoglobin yang rendah" terang dokternya.
"Kita bisa menunggu sampai sore untuk mendapatkan donor darah yang cocok"
"Baik dok, terima kasih" Naura tidak tau ingin berkata apa lagi, dia sudah benar-benar sangat cemas saat ini.
__ADS_1
Yang dari Naura tau jika penyakit tipes jika tidak diobati dengan serius juga akan menyebabkan kematian, hal ini lah yang membuat Naura menjadi ketakutan.
Naura kembali ke ruang rawat inap Evano, disana terlihat mama Ayu sudah datang, Yuno yang melihat wajah Naura sangat sendu, dengan segera dia menarik tangan Naura untuk keluar dari kamar rawat.
"Kamu kenapa Naura?" tanya Yuno melihat Naura yang terdiam.
Dalam diamnya Naura menitikkan air matanya. Air matanya dengan mulus mengalir dipipinya.
"Evano butuh donor darah" ucap Naura.
Kemudian menceritakan semua pembicaraan yang barusan dia tau dari dokter.
"Sudah biarkan saja aku yang memberikan darah ku" ucap Yuno dengan semangat.
"Aku sangat bahagia jika darah ku bisa mengalir juga ditubuh Evano!" terang Yuno.
"Terima kasih Yuno" ucap Naura sambil menahan harunya.
Wajah Naura pun kembali berseri ketika dia tau Yuno dapat mendonorkan darahnya.
Yuno pun pergi ke ruangan khusus mendonorkan darah setelah dilakukan pengecekan, semua cocok dan oke. Hanya saja ternyata Yuno mengalami sedikit kendala, yaitu soal kesehatan tubuhnya.
Yuno hanya dapat menyumbangkan darahnya sebanyak 200 ml, itu pun karena dia terus memaksa dokter untuk mengambil darahnya, padahal saat ini dia kurang sehat karena kurang tidur saja berjaga malam bersama Naura dan tekanan pikirannya. Akhirnya Yuno hanya menyerah dengan keputusan dokter mengambil 200 ml darahnya. Walau begitu Yuno tetap ada merasa sangat senang.
Naura sambil menunggu Yuno kembali, dia telah menceritakan semuanya kepada mama Ayu, hanya Evano saja yang saat ini tertidur terus karena memang tubuhnya mengalami kelelahan.
Setelah Yuno kembali, wajah Yuno terlihat pucat, kemudian saat ini giliran Naura yang menuntun Yuno untuk beristirahat diluar.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, kamu apa tidak sehat" cemas Naura.
Yuno merasa tidak sia-sia jika dia begini, Naura sudah cemas terhadapnya, hanya saja Yuno tidak tau itu cemas terhadap teman atau kah terhadap orang yang mempunyai perasaan terhadapnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat hanya saja maaf, darah untuk Evano masih kurang" terang Yuno dengan rasa bersalahnya.
"Maaf bu, tadi pak Yuno memaksakan dirinya untuk memberikan darah untuk anak ibu padahal kondisi kesehatannya tidak mengdukung untuk dia, walau darahnya bersih dan sehat" terang suster yang baru saja datang lalu ingin memasangkan darah untuk di transfusi ke Evano.
"Yuno" Naura memanggil nama Yuno dengan meliriknya.
"Tapi habis ini siapa lagi yang akan menolong Evano untuk menambahkan darahnya" ucap Naura tiba-tiba pelan seperti suara frustasi.
"Aku" seketika Naura dan Yuno melihat ke samping mencari arah suara.
"Pak Kenzie" ucap Naura pelan.
"Iya biar aku saja, karena darah ku juga sama dengan Evano" jawab pak Kenzie dengan senyum tampannya.
"Bapak kenapa bisa ada disini" tanya Yuno yang juga baru sadar jika dia lupa untuk datang ke kantor hari ini.
Karena urusan donor mendonor darah.
"Saya hanya kebetulan dan mendengar pembicaraan kalian, saya ingin melihat klien saya yang katanya dirumah sakit dan ternyata sudah pulang" jawab pak Kenzie, hanya jawaban itu sebagai alasan saja untuk dirinya sendiri.
Dia sendiri sejak bangun tidur sudah merasa sangat tidak tenang, hatinya bersikeras ingin melihat Evano juga pagi ini, tetapi dia sungguh binggung hal ini mengapa harus dia lakukan, secara dia tau pasti Evano bukan siapa-siapa dia.
Sedangkan Naura, dia tidak berpikir apa-apa lagi, bagi dia saat ini yang terpenting adalah kesehatan Evano.
__ADS_1