
"Pak Kenzie" batin Naura.
"Mengapa pak Kenzie bisa kesini?" batin Naura penuh tanda tanya.
"Ma, gawat ini Kenzie kesini ini bahaya kita" ucap Rini pelan ketelingga mama Vina bisa dibilang berbisik ke telingga mamanya.
"Kamu tenang dulu" ucap mama Vina pelan sekali sambil menatap Kenzie dengan tersenyum manis, ala mama kesayangan untuk Kenzie.
"Ma, kak! Cukup! Kalian ngapain disini?" tanya Kenzie sambil menahan amarahnya.
"Kalian kenal Naura, sepertinya kalian habis membuat rusuh disini!" seru Kenzie.
"Eng-gak" jawab Rini sedikit gugup karena takut akan kebongkar perbuatan dia dan mamanya selama ini.
"Kami hanya kenal Naura karena dia tetangga lama kami" jawab mama Vina mendekat ke arah Kenzie.
"Benarkan Naura" mama Vina menatap Naura tajam bermaksud agar Naura mengiyakan apa yang dia katakan.
Mama Ayu dan Naura hanya diam memperhatikan ketiga orang ini. Tentu dalam pikiran mama Ayu dan Naura saling memikirkan hal yang sama, siapakah pak Kenzie untuk keluarga Raymond, dengan wajah yang hampir sama, gayanya, sifat yang hampir sama dengan Raymond. Naura tau jika Raymond tidak mempunyai saudara, Raymond anak tunggal.
"Apakah ini memang benar Raymond, lalu siapa yang dimakam itu?" batin Naura.
Sejenak Naura terdiam dan berpikir, dia sedikit mulai mengerti, jika kedua mantan keluarganya ini adalah orang yang licik bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Maaf pak Kenzie, ini bu Vina kesini memang membuat rusuh, dia hendak mengambil anak saya Evano" jawab Naura jujur tidak ingin menutupi lagi apa yang ada, sudah cukup selama ini Naura menutupi kejelekan dari mantan mertuanya dan kakak iparnya.
"Kau, sembarangan bicara" bentak Rini mendekat kearah Naura.
"Aku berkata jujur!" jawab Naura.
"Benar nak Kenzie, jika kedua orang ini ingin menculik Evano" mama Ayu tidak mau kalah juga dalam hal ini.
"Kenzie, kamu mau mendengar perkataan mereka?" tanya mama Vina.
"Kenzie, kamu tidak membela kami" ucap Rini dengan perasaan sedih, seolah tersakiti oleh sikap Naura dan mama Ayu.
"Sudahlah kak, ma, kalian pulang dulu! Nanti jelaskan aku dirumah" tegas pak Kenzie kepada mama Vina dan Rini.
Saat ini isi kepala Kenzie sungguh tidak bisa ditebak oleh Naura.
Naura melihat perubahan di bosnya sekarang sangat berbeda saat dikantor, sifat Kenzie sekarang sangat mencerminkan dia adalah Raymond.
"Jika pak Kenzie adalah Raymond, sungguh kejam keluarga mu Raymond memalsukan kematian mu hanya untuk membuat kita terpisah" batin Naura.
"Pergi kalian" usir mama Ayu.
Karena semuanya yang berada disini mengusir mama Vina dan Rini untuk pergi, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
"Maaf tante dan Naura jika mama saya dan kakak saya berkelakuan tidak baik terhadap kalian" ucap pak Kenzie dengan pelan.
Pak Kenzie terlihat lebih kelelahan dari pada Naura dan mama Ayu yang dari tadi menghadapi kedua orang itu. Dia terlihat sangat pucat, segera Naura memapah pak Kenzie untuk masuk kedalam rumahnya dibantu oleh mama Ayu.
"Naura, aku kesini atas dasar hati aku, aku enggak tau perasaan aku membawa aku kesini, saat kamu izin untuk pulang saat itu juga, aku tau aku harus menuju kemana" ucap pak Kenzie sangat pelan karena masih merasa lelah dan kepalanya sedikit sakit.
Pak Kenzie dibantu Naura untuk membuka jas kerjanya, dia juga membuka sedikit kemejanya saat itulah Naura melihat tahi lalat sangat mirip dengan punya Raymond dan letaknya juga sama, karena dahulu Naura sangat suka memainkan tahi lalat tersebut.
"Raymond, ini kamu, sungguh ini kamu" Naura rasanya ingin berteriak memanggil Raymond, memeluk Raymond dengan erat, dia sangat ingin berada dalam dekapan Raymond yang hangat dan tenang untuk dia.
Naura ingin menangis, dia tau Raymond tidak pergi meninggalkannya, tanpa seizin Naura.
Naura hanya mampu terdiam, dia sudah semakin yakin jika saat ini dihadapan dia memang Raymond, hanya saja bagaimana bisa buat pak Kenzie mau mengungkap atau mengetahui jika dia adalah Raymond.
"Sungguh kejam keluarga mu Ray" batin Naura.
"Sungguh kejam kau Rini" batin Naura sambil meremas tangannya menjadi satu kumpulan tinju saat dia berada samping Pak Kenzie.
Naura tidak mau memanggil Rini dengan sebutan kak Rini lagi, karena bagi Naura, Rini tidak pantas menyandang status kakak untuk Raymond.
Pak Kenzie membaringkan sedikit kepalanya ke bahu kursi, saat Naura ingin ke belakang mengambilkan pak Kenzie air minum lagi, tetapi ketika kembali, Naura melihat jika pak Kenzie telah tertidur.
"Kasihan sekali kamu" batin Naura ingin mengelus muka pak Kenzie tetapi dia batalkan karena takut akan membangunkannya dan takutnya pak Kenzie berpikir bahwa dia lancang berani menyentuhnya.
__ADS_1