
Saat ini Naura dan Raymond berada disebuah hotel yang sangat mewah untuk menghabiskan malam pernikahannya.
Tentu Evano dan mama Ayu diberikan satu kamar khusus juga, ini adalah hari spesial untuk mereka yang merayakan kebahagiaan.
"Sayang, terima kasih" ucap Raymond pada Naura yang sudah berganti pakaian tidur.
"Untuk apa?" tanya Naura binggung.
"Untuk segalanya, untuk kau tetap menjaga anak kita selama aku enggak ada" ucap Raymond.
"Walau kau enggak ada, tentu aku akan tetap menjaga Evano, melindungi dan menyayanginya lebih dari apa pun" ucap Naura merasa sedikit terharu dengan perkataannya sendiri.
"Sini peluk" ucap Raymond yang ingin memeluk Raymond.
Naura terlihat malu-malu seperti pertama kali menikah saja kondisi mereka saat ini.
"Iih, apaan sih" ucap Naura yang merasa risih.
"Papa, mama" terdengar panggilan dari luar, tentu itu suara Evano yang memanggil papa mamanya.
"Yachhh!!" gumam Raymond.
Dia merasakan sesuatu gangguan. Naura hanya dapat tersenyum.
"Ternyata begini ya rasanya punya anak yang sudah besar" batin Raymond.
"Papa, mama cepat buka pintunya" ucap Evano yang masih di depan pintu.
Mau tidak mau, Raymond pun bangkit dari kasurnya dan membukakan Evano pintu kamar.
"Pa, ma, aku mau tidur sama kalian" ucap Evano dengan mata memohon.
__ADS_1
"Lalu nenek sendirian, bagaimana?" tanya Raymond.
"Kata nenek enggak apa-apa, maka nya Evano kesini kan sudah izin juga sama nenek!" ucap Evano dengan gaya polosnya lalu duduk diatas pangkuan papanya.
"Kamu ganggu nak" ucap Raymond pelan, tetapi didengar oleh Naura. Hanya beruntung Evano tidak mendengarnya.
"Sssttt" ucap Naura kepada Raymond.
"Ya sudah enggak apa-apa, sini nak" ucap Naura, menyuruh Evano berada diantara dia dan Raymond.
"Naura" ucap Raymond yang merasa sedikit terganggu.
Naura hanya melototkan matanya dan menjulurkan lidahnya secara cepat sebelum Evano melihat ke arah mukanya, Naura bermaksud mengejek Raymond. Raymond pun hanya menundukkan kepalanya, seperti mengakui kekalahannya.
"Papa kenapa murung, bukannya harus bahagia, Evano disini" tanya Evano setelah melihat wajah papanya sedikit murung dan murung yang dibuat.
"Papa enggak murung kog, papa bahagia sekali" ucap Raymond kemudian memeluk erat tubuh anaknya.
"Mama juga bahagia nak" ucap Naura.
"Ok, sekarang kita tidur ya!" ajak Naura kepada Evano.
"Papa tidur juga ma" ucap Evano.
"Iya donk" jawab Naura.
"Tapi ma, Evano mau dibacakan dongeng sama papa" ucap Evano.
"Mama saja ya" ucap Raymond.
"Enggak mau, maunya papa dan mama yang pilihkan judulnya"
__ADS_1
"Mau judul apa nak?" tanya Naura.
"Hmmm" Evano terlihat seperti berpikir.
"Pohon kehidupan bagaimana" tanya Raymond.
Evano menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan dia tidak mau.
"Kancil dan buaya?" tanya Naura.
"Enggak mau, sudah pernah dengar ceritanya, enggak ada kancil yang lain ya ma?" tanya Evano.
"Hmm" sekarang giliran Naura yang berpikir.
"Kancil dan harimau" ucap Naura.
"Boleh ma, papa bacakan ya" ucap Evano.
Karena tidak membawa buku dongeng, akhirnya Raymond mencarinya di google melalui ponselnya.
"Tapi cerita ini panjang" ucap Raymond yang terlihat malas membaca.
"Mau yang ini" ucap Evano.
"Ya sudah ok" jawab papanya.
"Mulai ya" ucap Raymond.
"Semangat pa" ucap Naura, kegirangan melihat Raymond akan mulai membaca.
Raymond merasakan beginilah menjadi papa, saat dia masih menjadi suami Danita, dia beberapa tahun menanti kehadiran seorang anak dengan susah payah tetapi juga tidak pernah hadir, dia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tetapi saat ini dia sangat bahagia karena sudah mendapatkan yang selama ini dia cari.