Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 10 Menguatkan Hati


__ADS_3

“ Berhenti.....” titah Gio dengan suara Baritonnya.



Deg.....entah apa lagi yang akan terjadi, langkah Freya terhenti saat suara yang sudah menghiasi harinya selama lima tahun ini bergema di ruangan divisi Pemasaran.



“ Bersiaplah! 15 menit lagi kita akan mengadakan rapat tim. Persiapkan bahan presentasimu untuk musim panas ini.” Titah Gio berlalu menuju ke ruangannya.



“ Baik pak! Huft.....” jawab Freya menahan dadanya yang masih terasa nyeri.



Tap....tangan Darren mendarat kebahu Freya.



“Kau baik – baik saja?” tanya Darren saat melewati kubikelnya.


“ Ehm....Ayo bergegas ke ruang rapat!” Ajak Freya mengambil bahan presentasi di mejanya.



Selama rapat berlangsung, Freya bekerja secara profesional tanpa melibatkan perasaan pribadinya. Dengan penuh percaya diri, Freya mempresentasikan rencana pemasarannya dengan menatap tajam ke arah Gio yang juga tengah fokus memperhatikan Freya.



“ Bagus, kita akan laksanakan minggu depan untuk terjun ke pasaran. Kerja yang baik. Rapat kali ini kita sudahi sampai di sini. Selamat siang!” ucap Gio menutup rapat dan meninggalkan ruangan terlebih dahulu.



“ Siang Pak!” jawab mereka serentak.



“ Ahhhhh, akhirnya selesai juga rapat yang alot ini.” Ucap Arsy meregangkan otot – ototnya.



“ Kau hebat Freya! Dengan rencanamu itu konsumen pasti akan tertarik tuh. Ayo kita makan siang di luar!” Ajak Cakra yang sudah merapikan meja rapat mereka.



“ Ayo......” teriak Arsy antusias.



Drtttttttt.....drrtt......handphone milik Freya bergetar menandakan panggilan masuk.



“ Halo?”



“...........”



“ Ah baiklah! Aku akan ke sana.” Ucap Freya mengakhiri panggilannya.



“ Maaf guys! Aku ada urusan! Kalian saja yang makan. Aku duluan ya!” pamit Freya.



“ Ayo ku antar!” ajak Darren menyusul Freya keluar yang masih berada di depan lift.


“ Baiklah!”



Ting.....saat lift berhenti mereka pun bergegas masuk, namun tiba di dalam terasa suasana yang cangggung.



Di dalam sudah ada Gio dan calon isterinya sedang bergandengan tangan.



Nyut.....dengan sekuat tenaga Freya menekan rasa sakitnya agar tidak terlihat lemah di depan Gio.



“ Siang Pak!” sapa Darren dan Freya bersamaan.



“ Ehm....” Angguk Gio yang juga terkejut saat dirinya kepergok bergandengan tangan dengan mantan kekasihnya.



Darren hanya melihat situasi yang ada, dan berusaha membuat Freya tenang.

__ADS_1



“ Kita mampir dahulu ke toko roti yang ada di ujung jalan sana ya!” ucap Darren memecah kesunyian.



“ Baiklah! Aku hampir lupa. Terima kasih kau sudah mengingatkan.” Jawab Freya.



Ting...mereka langsung keluar saat pintu lift terbuka.



“ Kau tunggulah di depan, aku akan mengambil mobil.” Titah Darren.



“ Cepatlah!” jawab Freya.



Saat menunggu, Freya melihat kembali Gio bersama dengan calon isterinya melaju di depannya mengendarai mobil sedan berwarna silver.



“ Ahh, dasar! Aku harus terbiasa melihat pemandangan yang seperti ini. Kau harus bisa Freya.” Gumam Freya.



Tintintinn.... “ Masuklah!” Titah Darren.



Freya segera masuk ke mobil Darren yang berwarna putih.



“ Kau yakin baik – baik saja! Menangislah jangan kau tahan sendirian, setelah itu aku tidak ingin melihatmu mengeluarkan air mata lagi.” Ucap Darren saat mereka sudah melaju berbaur di jalan raya.



Seketika tangis Freya pecah tidak sanggup menahan sakit yang ada di dadanya.



“ Ah, kau benar – benar sahabat terbaik di saat aku kesusahan, selain Diandra kau tetap bisa di andalkan.” Isak Freya setelah meluapkan semua kesedihannya.



“ Kau lupa! Kita bernasib sama saat di Panti dulu. Hanya Dara yang tidak tahu kabarnya bagaimana sekarang. Sejak dia di adopsi,kita malah kehilangan kontak dengannya. Aku harap dia baik – baik saja.” Jelas Darren.




“ Ehm...Aku tahu!”



“ Bagaimana kau bisa tahu, padahal aku belum ada cerita sama sekali.”



“ Dari ekspresimu saat menerima telepon tadi, kau hanya menunjukkan ekspresi seperti itu jika berhubungan dengan anak – anak Panti.” Jelas Darren.



“ Ah benarkah! Ternyata kau lebih dari yang ku duga.”



“ Dasar tidak peka!”



“ Biari. Uek....”



Darren melajukan mobilnya dengan cepat agar tiba di rumah sakit. Setelah membeli beberapa cemilan kesukaan bocah yang masih berusia 10 tahun itu, mereka pun menuju lobi rumah sakit dan bertanya kamar Ezra di rawat.



“ Assalamualaikum....!” sapa Freya dan Darren saat memasuki kamar Ezra yang berada di lantai dua.



“ Walaikumsalam. Kalian kenapa bisa datang bersamaan?” tanya Bunda Syifa kepala Panti Kasih Pelita.



“ Kebetulan sedang jam istirahat bun jadi kami bergegas datang kemari.” Jawab Freya langsung mencium punggung tangan bunda Syifa yang di susul oleh Darren.



“ Bagaimana keadaan Ezra bun?” tanya Freya cemas.

__ADS_1



Bunda Syifa hanya menggelengkan kepalanya melihat kondisi anak asuhnya.



“ Kenapa kakak baru menjenguk Ezra? Kenapa kakak absen kemarin?” tanya Ezra lemas.



“ Maaf sayang! Kemarin kakak ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Nah! Ini kakak bawa roti kesukaan Ezra. Ayo dimakan.” Jelas Freya mengelus – elus kepala Ezra yang terbaring lemah.



“ Nanti saja, Ezra ngantuk kak!” tolak Ezra.



“ Baiklah, kalau begitu Ezra istirahat yang banyak, nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit kakak akan mengajak Ezra nonton film kesukaan Ezra ya!” bujuk Freya.



“ Janji ya kak! Kali ini Ezra mau kak Darren juga ikut ya?” pinta Ezra.



“ Hahh, kok tumben mau mengajak kakak?” tanya Darren.



“ Hehehe biar rame aja kak! Gak seru kalau orangnya sedikit.” Jelas Ezra.



“ Baiklah! Nanti kakak juga akan mentraktir Ezra dan yang lain es krim ya.” Ujar Darren.



“ Baiklah kak! Ezra janji akan segera sembuh!” ucap Ezra dengan suara yang semakin melemah dan perlahan – lahan Ezra tertidur efek dari obat yang baru ia minum.



“ Ayo kita ngobrolnya di luar saja.” Ajak bunda Syifa.



“ Iya Bun.” Jawab Freya dan Darren.



“ Bagaimana sekarang Bun?” tanya Freya cemas melihat kondisi Ezra yang semakin melemah.



“ Bunda juga bingung! Kita harus mengumpulkan biaya transplantasinya dan yang lebih utama kita harus menemukan pendonornya.” Jelas Bunda yang merasa terpuruk dengan kondisi anak asuhnya.



“ Kami akan berusaha mengumpulkan biayanya bun! Bunda jangan khawatir. Bunda fokus saja merawat Ezra dan masalah anak – anak Panti serahkan saja pada bibi.” Ucap Freya berusaha menenangkan bunda Syifa yang merupakan sosok yang dengan ikhlas merawatnya dari bayi.



“ Benar Bun. Bunda jangan mengkhawatirkannya.” Imbuh Darren.



“ Baiklah. Bunda percaya pada kalian!” ucap bunda Syifa



“ Kami balik ke kantor ya Bun! Sebentar lagi jam istirahat selesai.” Ucap Freya.



“ Assalamualaikum.” Ucap Darren dan Freya bersamaan setelah mencium punggung tangan bunda Syifa.



“ Walaikumsalam! Kalian hati – hati di jalan!” ucap bunda Syifa melambaikan tangannya .



Dalam perjalanan menuju keluar rumah sakit, Freya dan Darren tidak membuka suara mereka terhanyut dengan pikiran mereka masing – masing.



Bruk......secara tiba – tiba seseorang menabrak tubuh Freya hingga jatuh terduduk karena Freya tidak fokus ia pun tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.



“ Auw...kalau mau berlari jangan di sini tempatnya dong.” Omel Freya kesal pada orang yang telah menabraknya.



“ Kau.......!” sang penabrak membulatkan matanya dengan sempurna setelah ia melihat sosok wanita yang sangat melekat di ingatannya selama 26 tahun ini.


__ADS_1


Dengan tergesa, tidak ingin Freya melihat wajahnya, membuat wanita muda tersebut berlari meninggalkan Freya begitu saja tanpa menghiraukan keadaan Freya.


__ADS_2