Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 65 Mengkhawatirkan Akram


__ADS_3

Freya berjalan perlahan mendekati ranjang Akram yang berukuran king size, terlihat Akram masih terbaring di balik selimut dengan wajah yang penuh dengan keringat.


Merasa ada yang tidak beres dengan Akram, Freya perlahan mendekati Akram. Dengan menjulurkan tangannya, ia pun memegang dahi. Dan betapa terkejutnya Freya merasakan suhu tubuh Akram yang begitu panas.


" Ya Allah, panas banget suhunya! Anda demam tuan?" Gumam Freya bergegas berlari menuju dapur untuk mengambil air untuk mengkompres.


Dengan cepat, Freya membasahi handuk kecil dan menaruhnya di atas dahi Akram.


" Anda tunggu sebentar! Akan saya buatkan bubur." Pamit Freya


Setelah 30 menit, Freya datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan semangkok bubur, air hangat dan obat penurun demam.


Dengan telaten dan sabar Freya merawat Akram yang sedang terbaring lemah. Ia pun memberanikan diri untuk duduk di sebelah ranjang Akram.


" Tuan! Ayo di makan buburnya!" Panggil Freya perlahan seraya mendekati tubuh Akram.


Grab....sebuah tangan berhasil menarik tangan Freya yang menyebabkan tubuh Freya oleng dan terjatuh tepat di atas tubuh Akram. Sehingga mengikis jarak diantara mereka.


Dengan mata yang membulat sempurna, membuat Freya sangat terkejut dan berusaha menetralisir kan degub jantungnya yang tiba - tiba berdetak kencang.


" Tuaan!" Panggil Freya.


" Sepuluh menit saja." Gumam Akram mengeratkan pelukannya.


Freya hanya diam tidak ingin melakukan pergerakan yang tiba - tiba. Freya merasa begitu sangat dekat melihat wajah sempurna Akram dengan mata yang terpejam.


Dalam keadaan tidak berdaya, Freya hanya bisa memanfaatkan pemandangan ciptaan Tuhan yang ada tepat di depan wajahnya. Freya sangat mengagumi bentuk wajah Akram yang sangat indah. Dengan di hiasi dengan sepasang mata yang indah, batang hidung yang tinggi dan panjang. Bibir tipis yang merah serta rahang yang kokoh dengan bulu - bulu halus yang menghiasinya.


" Indah sekali karya Mu Tuhan!" Gumam Freya masih betah memandangi wajah Akram.


" Ganteng." Sambungnya dengan tersenyum.


" Benarkah!" Tanya Akram.


" Kyaaa....." Teriak Freya terkejut berusaha lepas dari dekapan Akram tapi dengan cepat Akram menahannya.


" Lima menit lagi!" Ucapnya.


" Haish,,dasar! Tapi tuan saya harus segera ke kantor!" Ucap Freya.


" Kalau kau di pecat, masuk saja di perusahaanku." Gumam Akram membuka matanya yang langsung di sambut oleh wajah Freya tepat berada di hadapannya.

__ADS_1


Hembusan nafas mereka terasa hangat menyapa kulit mereka. Dengan senyuman yang terukir di bibir Akram saat memandang wajah yang selama ini ia cari.


" Akhirnya aku menemukan mu!" Gumam Akram tersenyum.


" Ehm..ehm...baiklah tuan! Waktunya sudah habis. Saatnya makan bubur lalu minumlah obat pereda demam ini. Jika panasnya belum turun, kita ke rumah sakit saja ya!" Ucap Freya tegas menarik dirinya dari dekapan Akram.


" Tidak perlu, sebentar lagi juga reda. Kau pergilah." Tolak Akram.


" Baiklah, anda istirahat saja. Jika butuh sesuatu hubungi saja tuan Dafi." Ucap Freya.


" Ckk..kenapa harus Dafi, aku pikir harus menghubungi mu." Cebik Akram.


" Kan saya harus bekerja tuan! Lagipula hari pasti sibuk untuk mempersiapkan acara peluncuran produk baru perusahaan. Tapi jika ada hal yang mendesak, akan saya usahakan segera pulang." Ucap Freya yang sedikit khawatir meninggalkan Akram sendirian yang sedang sakit.


" Kau jangan khawatir, pergilah! Aku tahu proyek ini sangat berarti bagimu kan? Aku tidak selemah yang kau kira." Ujar Akram.


" Ckk, sombong sekali! Baiklah! Saya berangkat tuan! Saya juga sudah menyiapkan makan siang untuk anda!" Pamit Freya meninggalkan kamar Akram.


" Haaah, apa yang ku lakukan sih! Dasar bodoh!" Rutuk Akram pada dirinya sendiri.


" Berhenti di sini pak!" Ucap seorang wanita muda yang berhenti di depan sebuah kafe yang bertuliskan Showtime Cafe.


Setelah memberikan beberapa lembar uang, ia pun mulai menyeberang ke sisi jalan. Saat hendak melangkah, matanya tertuju ke seseorang yang tidak jauh darinya. Ia menghentikan langkahnya dan memperhatikan sosok pria yang tidak asing baginya.


Pakaian yang lusuh, kotor dan bau melekat di tubuhnya, rambut serta janggut yang tidak teratur nyaris menutupi wajahnya. Sambil meringis memegang perutnya pria tersebut terduduk lemas di pinggir jalan.


Melihat kondisi pria yang sempat menjadi orang tua angkatnya, membuat hati Cleona merasa iba dan simpati. Tanpa terasa ia meneteskan air matanya sambil membekap mulutnya agar suara isak tangisnya tidak keluar.


" Apa yang terjadi padamu tuan William? Apakah ini peringatan dari tuan Akram?" Gumam Cleona merasakan tubuhnya yang tiba - tiba lemas saat membayangkan Akram.


Meskipun hatinya tak bisa di pungkiri tapi berusaha keras ia ingin menghindar dari pria tersebut, dengan langkah yang cepat ia menyeberang jalan namun langkahnya terhenti tatkala seseorang memanggil namanya.


" Ah, melihat keadaanmu! Sepertinya tuan Akram belum menemui mu?" Ujar pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah tuan William tanpa sengaja melihat Cleona hendak menyeberang jalan.


" Sepertinya aku sudah memperingati anda tuan William namun anda mengabaikan ucapan saya. Sekarang saya harap kita tak pernah bertemu lagi." Ucap Cleona.


" Cih...begini kah balasan mu kepada orang yang telah mengeluarkan dari panti dan membesarkan mu selama 16 tahun hah..." seru tuan William.


" Yah, saya sangat berterima kasih dan menghargai jasa anda yang sudah membuat saya tumbuh menjadi seorang anak yang kuat." Ucap Cleona terus melanjutkan langkahnya.


" Ohya, mungkin ini bisa membantu anda tuan William!" Lanjut Cleona sambil memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.

__ADS_1


" Kau.....!" Pekik tuan William hendak menolak pemberian Cleona namun ia membuang harga dirinya demi menyelamatkan perutnya yang sudah terasa perih.


Cleona dengan anggunnya terus berjalan tanpa menghiraukan tuan William dan memasuki kafe yang ada di pinggir jalan.


" Huft....kau harus kuat Cleona. Ini semua demi ibumu. Ah ku harap tuan Akram tidak menemuiku terkait rumor tersebut." Gumam Cleona menghembuskan nafas lega setelah menghindari tuan William.


" Ah, bagaimana nasibku jika sama seperti tuan William?" Lanjutnya bergidik ngeri membayangkan wajah tenang dan dingin Akram.


" Selamat siang Cleo! Aku duluan ya!" Sapa seorang wanita muda yang memiliki rambut panjang berkucir kuda.


" Hati - hati di jalan!" Balas Cleona bergegas menuju ke belakang untuk mengganti pakaiannya.


Ya, Cleona bekerja paruh waktu di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat. Hari ini dia masuk shift siang yang menggantikan shift rekan kerjanya.


" Hei, kenapa dari tadi diam saja?" Tanya Arsy.


" Eh, gak papa! Karena besok malam acaranya aku jadi gugup." Kilah Freya padahal sedari tadi ia tidak konsentrasi dengan pekerjaannya. Pikirannya tertinggal di rumah bersama Akram.


" Huft, semoga tuan Akram segera reda panasnya! Dia sudah makan dan minum obat belum ya!" Gumam Freya pelan


" Ayo semangat Frey!" Ucap Arsy


" Guys, makan yuk! Udah telat neh! Sangking fokusnya sudah jam 2 lho. Ah, bisa - bisa lembur neh!" Seru Cakra.


" Pesan lewat aplikasi saja. Biar cepat!" Saran Freya.


" Baiklah! Kalau begitu biar ku pesan ya!" Ucap Cakra.


" Aku mau ke pantry, ada yang mau titip?" Tanya Freya.


" Buatkan es teh manis dingin saja ya empat!" Ucap Arsy melanjutkan pekerjaannya.


" Okay...." Ucap Freya bergegas ke pantry.


" Frey!" Panggil Gio menghentikan langkah Freya saat hendak masuk ke pantry.


" Maaf! Aku tahu kau pasti membenci ku, kau tahu aku sangat menyesal telah berkata kasar padamu. Aku sangat bodoh yang tidak bisa mengendalikan diriku dan melepas dirimu yang sangat berarti. Kau benar! Sekarang tidak ada lagi kesempatan bagiku tapi izinkan aku agar nama mu tetap tersimpan di hatiku. Ku harap kau bahagia dengan pria pilihanmu!" Ucap Gio dengan tulus dan telah menyesali semua kebodohannya.


Freya tetap bergeming di posisinya yang masih membelakangi Gio. Dengan meneteskan air mata Freya langsung menyekanya agar tidak terlihat.


Tidak jauh dari mereka berdiri, seorang wanita dengan menutup rapat mulutnya terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Gio kepada Freya.

__ADS_1


" Tidak bisa di percaya." Gumam wanita tersebut tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


__ADS_2