
Freya keluar dari kamarnya sudah berpakaian rapi bersiap – siap pergi ke kantor. Sudah semalaman ia menata wajahnya agar tidak terlihat sembab akibat kebanyakan menangis. Tentu saja hal ini akan mengundang berbagai pertanyaan dari rekan – rekannya di kantor.
Freya harus benar – benar bisa menutupi statusnya sekarang agar pernikahannya tidak di ketahui oleh orang lain. Ya lebih tepatnya pernikahan kontraknya.
“ Ah, selamat pagi Tuan Dafi! Pagi sekali anda sudah duduk manis di sini ya!” sapa Freya sembari melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya saat melewati ruang tamu yang sudah ada Dafi asistennya Akram.
“ Pagi nyonya!” jawab Dafi singkat.
“ Cih! Pelit sekali sih, percuma saja bertanya panjang lebar.” Kesal Freya melihat dinginnya sikap Dafi.
“ Saya pergi duluan ya tuan Dafi!” pamit Freya yang hanya mendapat anggukan dari Dafi.
“ Dasar payah!” kesal Freya tanpa sadar menutup kuat pintu saat ia keluar.
Dengan di iringi omelan – omelan dari mulutnya, langkah Freya menuju lift untuk menuju basement apartemen Akram yang berada di lantai 17. Tidak sampai di situ tiba di dalam lift Freya menekan tombol dengan sangat kuat.
“ Pagi yang menyebalkan, ada ya manusia seperti itu, pelit sekali dengan kata – kata. Biasanya neh ya orang pelit tu karena uang dan ilmu. Bisa – bisa nya aku berada di tengah – tengah orang yang seperti itu, tidak hanya satu tapi dua...huft...”desah Freya yang sudah mulai mengontrol dirinya seperti biasa.
Sesampai di kantor, Freya menghirup nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia harus bersikap tenang saat bertemu dengan Gio. Freya melirik arlojinya yang masih menunjukkan waktu 06.30.
“ Ah aku terlalu pagi sampainya, syukurlah aku tidak berpapasan dengannya nanti, baiklah Freya untuk memulai pagimu yang sedikit menyebalkan mari kita isi lambung ini dengan semangkok bubur ayam. Semangat Freya!” ucap Freya.
“ Selamat pagi Bu Freya! Tumben pagi sekali datangnya. Biasanya kalau datang cepat jam tujuh.” Sapa security kantor.
“ Pagi pak! Iya saya harus menyiapkan berkas yang terlupakan sedikit pak.” Balas Freya.
“ Oh, baiklah! Semangat ya bu Freya!” ucapnya
“ Terima kasih pak!”
Freya pun, berjalan memasuki lobi kantor menuju lift khusus staf karyawan. Freya menekan tombol 5 karena ruang kerjanya berada di lantai 5. Ya Freya sudah tiga tahun bekerja di perusahaan yang berkecimpung dalam memproduksi makanan ringan. Freya menjabat di bagian Divisi Pemasaran. Meskipun perusahaan ini tidak terlalu besar tetapi cukup untuk membiayai kelangsungan hidup para pekerja yang sudah mengabdi di perusahaan ini.
Dengan langkah percaya diri, Freya menuju kubikelnya untuk menaruh tas dan sekantong plastik yang berisi seporsi bubur, ia menuju pantri untuk mengambil sendok dan membuat teh hangat.
Dengan tenang dan santai Freya menikmati sarapan buburnya yang masih hangat. Tanpa membutuhkan waktu lama mangkok bubur sudah bersih tanpa sisa.
__ADS_1
“ Alhamdulillah! Allah masih memberikan nikmat nafsu makan ku pagi ini.” Ucap Freya mengelus – elus perutnya yang sudah terisi kenyang.
“ Pagi Freya! Kau baru selesai sarapan?” sapa Arsy rekan satu Divisi dengan Freya.
“ Pagi Sy! Kau sudah sarapan?” tanya balik Freya.
“ Sudah dong! Ohya tumben pagi sekali kau datangnya.” Jawab Arsy sambil menjatuhkan bokongnya di kursi yang berada di sebelah kubikel Freya.
“ Gak papa, lagi pengen aja.” Jawab Freya singkat.
“ Ah tumben ne si Cakra dan Darren belum tiba.”
“ bentar lagi juga sampai.”
“ Hei Pagi girls!” sapa Cakra melambaikan tangannya ke arah dua sejoli yang sudah berada di meja mereka masing – masing yang di susul dengan Darren.
“ panjang umurnya tuh anak, baru di bicarakan udah nongol aja tuh batang hidungnya.” Ucap Arsy.
“ Kepo banget sih jadi orang. Sana duduk di meja mu sendiri.” Usir Freya dengan tangannya yang mengibas menyuruh pergi.
“ Gak seru ah! Mumpung belum jam kerja, kita mengghibah sebentar.” Ucap Cakra yang merupakan bagian tim divisi pemasaran yang suka ikut mengghibah dengan dua teman wanitanya.
“ Dasar!” cebik Arsy
“ Pagi semua! Bagaimana akhir pekan kalian?” tanya Darren yang juga menyusul ke kubikel Freya sembari meletakkan seporsi porsi roti isi.
“ Wah, seperti biasanya ya Darrenku sangat perhatian.” Ucap Arsy dengan suara yang dimanjakan.
“ Hoooeeeekkkk” respon Freya dan Cakra bersamaan setelah mendengar ucapan Arsy.
“ Darrenku! Sejak kapan Darren menjadi milikmu? Mendengarnya saja membuat perut ku mual tahu.” Cebik Cakra menatap tajam ke arah Asry.
“ Sejak hari ini, syirik aja jadi orang. Kau gak keberatankan Darren.” Ucap Arsy dengan wajah yang memelas.
“ Ah terserah kau saja lah!” ucap Darren.
__ADS_1
“ Ohya, ternyata kekasih pak Ketua selama ini ternyata anak dari CEO perusahaan ini ya! Padahal aku mencurigai kekasih pak ketua adalah Freya.” Ucap Arsy sambil melirik ke arah Freya yang sedang menikmati sepotong roti isi.
“ Uhuk –uhuk....” Freya angsung tersedak mendengar ucapan Arsy.
“ kau baik- baik saja. Makanya kalau makan tu jangan buru – buru. Nih minum dulu.” Ujar Cakra sambil menyerahkan segelas teh kepada Freya.
“ Terima kasih Kra, kenapa kau mencurigai aku hah.” Tanya Freya kepada Arsy yang hanya dibalas dengan mengangkat kedua bahunya.
“ Kalian tahu, sudah tidak sabar untuk ke acara pernikahan mereka. mereka benar – benar pasangan yang serasi ya!” ucap Arsy.
Nyut.....dada Freya terasa sesak dan perih. Ternyata Freya belum bisa mengontrol dirinya.
“ Aku permisi ke toilet sebentar.” Pamit Freya yang memegangi dadanya.
“ Kau baik – baik saja?” teriak Arsy kepada Freya yang sudah menghilang.
Darren menatap kepergian Freya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
“ Hei serius amat sih nengoknya!” kata Cakra menepuk pundak Darren yang menatap pintu keluar.
“ Ah gak apa – apa, yakin anak itu baik – baik saja.” Ucap Darren
“ Maksudmu gimana kau mengkhawatirkan Freya?” tanya Cakra.
“ Ya iyalah, apa perutnya baik – baik saja, kalian lihat tuh di mejanya sudah ada mangkok bekas bubur di tambah dia sudah menyantap roti isi sampai tiga.” Jelas Darren sambil menunjuk meja Freya.
“ Ah dasar anak itu, nafsu kebo sih. Palingan tuh perut mules – mules dah minta di keluarkan.” Ujar Arsy.
“ Ah, kau harus kuat Freya! Kau harus tetap meneruskan hidupmu, kau pikirkan adik – adik mu yang ada di panti.” Gumam Freya menguatkan dirinya. Setelah mengusap sisa – sisa airmata yang sempat jatuh, Freya memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat sehabis menangis.
Saat ingin kembali ke ruangan, Freya berpapasan dengan mantan kekasihnya yang baru beberapa hari sekaligus Ketua Tim dari Divisi Pemasaran ini . Dengan wajah yang memerah menahan tangis, Freya menundukkan kepalany memberikan salam.
“ Selamat pagi Pak!” sapa Freya dengan terburu – buru. Freya tidak dapat menahan rasa gejolak yang ada di hatinya. Ingin sekali ia berteriak dan menghajar pria yang ada di depannya. Dengan cepat Freya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gio.
__ADS_1
“ Berhenti.....” titah Gio dengan suara Baritonnya.