Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 19 Honey


__ADS_3

Suasana dalam mobil terasa hening, sepanjang perjalanan tak ada suara yang keluar dari mereka berdua. Mereka terhanyut oleh pikiran mereka masing – masing. Akram terlihat fokus pada kemudinya. Sementara Freya menyenderkan kepalanya di jendela sambil melihat pemandangan malam yang gelap.


Dengan berusaha menahan kelopak matanya agar tidak menutup, Freya menyibukkan diri dengan handphonenya.


Akram melirik Freya dengan ekor matanya. Ucapan bik Fatma masih terngiang – ngiang di kepalanya.


“ Apakah, gadis yang bernama Freya adalah dirinya? Lalu siapa Cleona yang mengaku gadis kecil yang pernah menyelamatkan ku saat musibah kebakaran 15 tahun yang lalu.” Ucap Akram dalam hati.


Melihat keseriusan isteri kontraknya, membuat Akram tidak bisa berkonsentrasi.


“ Jika benar, apakah wanita ini memiliki kalung liontin milikku?” berbagai pertanyaan telah mengganggu pikirannya.


“ Anda baik – baik saja tuan?” tanya Freya memecah keheningan. Freya tidak tahan berdiam diri apalagi melihat wajah Akram yang terlihat tegang tidak seperti biasanya yang memasang wajah tanpa ekspresi.


“ Ehmm...”


Akram segera melajukan kecepatan mobilnya. Sesampai di basement apartemen tidak ada suara yang keluar dari mereka berdua. Keheningan mengiringi mereka hingga tiba di apartemen.


Freya bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia berusaha menghindari Akram agar tidak terjebak dalam suasana yang mencekam.


Tanpa membuang waktu, Freya segera membersihkan dirinya secepat kilat. Hanya membutuhkan waktu 15 menit, Freya sudah memakai piyama karakter kesukaannya.


“ Ah, segarnya! Jadi selama ini orang yang menjadi donatur panti adalah tuan Akram. Ternyata di balik sikapnya yang terkesan acuh tak acuh menyimpan rasa sosial yang tinggi juga ya! Ritual selanjutnya minum segelas susu yang hangat. Ayo kita ke dapur!” teriak Freya.


Seperti biasa, Freya selalu membuat dua gelas susu hangat. Ia berharap susu buatannya akan di minum juga. Setelah ia menaruh susu di meja ruang tamu. Freya kembali ke meja makan untuk menikmati segelas susu dan sepotong roti isi.


Sambil bermain ponselnya, Freya dengan santai membalas chat dengan sahabatnya Diandra.


[ Besok, aku jemput di kantormu ya!]


[ Ok! Tidak sabar ingin bertemu denganmu honey, aku kangen banget tahu. Jangan lupa oleh – oleh buatku ya!]


[ Aku juga sama darling! Kau tenang saja pasti kau akan suka dengan oleh – oleh yang ku bawa ini.]


[ Awas ya! Kalau tidak sesuai dengan selera ku! Ah jadi geli sendiri ya dengan panggilan kita ini! Orang akan berpikir kita ini adalah sepasang kekasih.]


[ Biar kan saja! Aku gak perduli!]


[ Iya benar. hahahhahahaha]


Sambil tersenyum lebar kadang terdengar suara tawa menggema di dapur.


“ Ah. Hahhahahahaha dasar kau selalu membuatku tertawa.” Gumam Freya.


[ Ok. Sampai bertemu besok honey! Selamat tidur!]


[ Dah darling! Miss you. Mmuaachh]


“ Issh apaan sih! Geli tahu.” Kesal Freya.


Tanpa di sadari oleh Freya, sepasang mata telah memperhatikannya sedari tadi.


“ Sedang apa dia? Hingga tertawa lepas seperti itu?” gumam Akram.


Setelah berkumur – kumur, Freya keluar dari dapur untuk segera istirahat.


Namun, saat langkahnya hendak keluar dari dapur ia di kejutkan oleh sosok Akram yang tengah berdiri menyender pada tembok.


“ Astaghfirullahalazim. Kenapa tuan ada di sini?” tanya Freya terkejut.

__ADS_1


“ Tidak ada. Aku hanya ingin membersihkan ini tapi melihatmu senyum – senyum sendiri di depan handphone aku malah ragu.” Ucap Akram.


“ Ah...itu! maaf tuan biar saya saja yang mencucinya.” Ucap Freya mengambil paksa gelas yang ada di tangan Akram.


Namun karena genggaman Akram yang sangat kuat, Freya tidak berhasil mengambil gelas dari tangan Akram. Tanpa di sadarinya Freya malah memegang tangan Akram dan berusaha mengambil gelas tersebut.


Deg...entah kenapa ada suatu perasaan yang aneh di hati Akram saat tangan Freya menggenggam tangannya.


“ Ah maaf tuan!” ucap Freya menyadari tangan mereka saling berpegangan.


Dengan sigap, Freya merampas paksa gelas dari genggaman Akram yang sedikit lengah.


Freya langsung kembali ke dapur dan mencuci gelas milik Akram.


“ Ah! Yang tadi itu bikin malu saja. Dasar kau ceroboh Frey..!” gumam Freya.


“ Tapi! Sejak kapan ia berdiri di sana! Dan gelas ini sudah bocor rupanya. Hihihihi....” sambungnya dengan suara cekikikan.


Setelah mengelap kering tangannya, Freya melangkah mengendap – endap seperti seorang maling.


“ Jangan sampai bertemu dengannya! Aku tidak bisa menyembunyikan wajahku ini. Mudah – mudahan dia sudah pergi.” Gumam Freya terus mengawasi di sekitarnya.


Setelah di rasa aman, dengan langkah seribu Freya langsung naik ke lantai dua dan menutup rapat pintu kamarnya.


“ Huft... selamat sampai tujuan... akhirnya aku bisa tidur dengan selamat.” Ucap Freya membaringkan tubuhnya di ranjang yang sangat berbeda dengan miliknya yang terdahulu.


Freya sedang menikmati sarapannya, meskipun sejak pertama Freya memasak sarapan tidak pernah dimakan oleh Akram, Freya tidak pernah putus asa menyediakan sarapan buat Akram. Dengan harapan suatu saat hati Akram terbuka akan mencicipi masakan Freya.



Sejak Freya di beri pinjaman oleh Akram, ia pun dengan sukarela memasak makanan buat Akram meskipun tidak di makan, dan membersihkan rumah. untuk mencuci pakaian, Akram tidak mengizinkan Freya menyentuh barang – barang pribadi Akram.




Sambil mengunyah makanan, Freya mencuri pandang untuk melihat ekspresi Akram saat menyantap masakannya. Apakah cocok dengan lidahnya.



Dengan wajah datar Akram menghabiskan sarapannya tanpa menghiraukan pandangan tanda tanya dari Freya.



Selesai sarapan, Freya membersihkan piring kotor mereka berdua.



“ Tuan! Saya minta izin untuk pulang telat hari ini.” Ucap Freya memberanikan diri.



“ Ehm.” Akram membalasnya hanya dengan sebuah deheman dan beranjak meninggalkan kursinya.



“ Terima kasih tuan!” ucap Freya senang telah mendapatkan izin meskipun terdengar tidak ikhlas. Dengan bergegas Freya kembali ke kamar mengambil tasnya dan berangkat ke kantor.


__ADS_1


Freya pun berpapasan dengan Akram saat hendak keluar. Dengan membungkukkan tubuhnya Freya berpamitan terlebih dahulu kepada Akram.



“ Semoga hari anda menyenangkan tuan! Saya pergi dahulu!” pamit Freya menekan tombol lift. Saat hendak menutup pintu, tiba – tiba sebuah tangan kekar menahan pintu lift agar tidak tertutup.


Melihat siapa yang masuk ke dalam lift membuat Freya terkejut dan merasa canggung.


“ Maaf tuan, saya tidak tahu kalau anda juga akan menaiki lift yang sama karena biasanya anda kan....”



“ Tekan tombolnya.” Potong Akram dengan suara yang dingin.



“ Ah iya... maaf!” sontak Freya menekan tombol lift tanpa mengeluarkan suara.



Di tengah keheningan yang menyelimuti mereka berdua di dalam lift, tiba – tiba suara handphone Freya berbunyi. Dengan sigap Freya menggeser ke samping tombol hijau.



“ Halo Honey!"



“.......”



“ Jadi dong, kita bertemu di tempat biasa saja. Karena ini acara kantor aku cepat pulangnya.”



“ .......”



“ Mungkin sekitar pukul 2 gitu, ehmm aku juga sangat merindukanmu. Baiklah sampai ketemu nanti honey. By..”



“ ....”



Mendengar percakapan Freya dengan seseorang membuat Akram memperhatikan ekspresi Freya yang terlihat bahagia dan menunjukkan kebebasan.



Tingg...lift telah sampai di lantai dasar. Sebelum keluar Akram berkata seakan – akan memberi peringatan kepada Freya.



“ Kau jangan melanggar kontrak poin ketiga!” ucap Akram sambil berlalu keluar dari lift.


__ADS_1


“ Hahhh...” mendengar ucapan Akram membuat Freya mematung di tempatnya sambil mencerna maksud dari ucapannya.


__ADS_2