
Dengan mata yang membulat seperti bola pingpong, membuat Freya tidak percaya akan sosok Akram yang mau mengetuk pintu kamarnya.
" Tuuaa...n! " ujar Freya gugup.
" Besok mama mengundang kita makan siang di rumah utama. Bersiaplah! jangan membuat kesalahan!" Ucap Akram
" Ah,,,baik tuan!"
" Satu lagi, jika di depan mereka jangan panggil aku tuan."
" Hah,,"
Akram meninggalkan Freya dengan wajah yang di tekuk.
" Ish apaan sih, kenapa tiba - tiba begini! keburu gak ya? ke rumah sakit." Gumam Freya mondar - mandir di depan pintu kamarnya.
" Ah, sudah lah! besok dipikirkan lagi. Pingin makan mi yang pedas." sambungnya pergi ke dapur.
" Aishhh,,, kenapa tidak ada mi instan sih! keluar saja lah!" gumam Freya kembali ke kamarnya dan menyambar sweater dan dompetnya.
Ia keluar secar mengendap - endap seperti seorang pencuri. Melihat pintu kamar Akram tertutup rapat membuat Freya melangkah cepat turun ke bawah.
Melewati ruang kerja Akram, ia pun mengintip dari celah lubang kunci. Di ruangan masih terang dengan lampu yang menyala.
" Ah, dia pekerja keras sekali. Akhir pekan begini masih saja bekerja. Baiklah tuan! untuk menemanimu aku akan membuatkan segelas susu hangat." gumam Freya menuju dapur.
Seperti malam biasa, ia pun selalu meletakkan segelas susu hangat di meja tuang tamu tidak jauh dari ruang kerjanya.
" Beres, sekarang ke minimarket dulu."
Dengan bersenandung, Freya berjalan keluar menyusuri trotoar. Karena jarak minimarket tidak jauh dari apartemen, cukup berjalan kaki saja.
Tring ... " Selamat datang." sapa seorang wanita muda yang berdiri di balik meja kasir menyambut ramah pelanggannya.
Dengan membalas anggukan kepala dan sebuah senyuman. Naura langsung bergerak menuju rak - rak makanan yang menjual mie instan.
" Ah..senang banget rasanya bisa bertemu kembali dengan kesayanganku..." Teriak Freya mengambil satu persatu merk mie instan yang berbeda.
Setelah memasukkan ke dalama keranjang, ia menuju berbagai macam snack - snack. Seperti orang kelaparan, membuat Freya lapar mata ingin mengambil semua makanan ringan.
Tangannya berhenti saat ia mengingat isi dompetnya. Dengan sedikit tidak rela ia mengembalikan beberapa makanan ringan dan mie instan ke tempatnya.
" Ah, sayang sekali. Lain kali aku akan . menjemput kalian honey! untuk sekarang aku hanya mengambil yang di butuhkan saja untuk malam ini." gumam Freya.
__ADS_1
Akhirnya ia hanya mengambil satu cup mie instan dan snack kentang goreng beserta minuman jus jeruk dua kaleng.
Ia pun tak lupa menyiram mie nya dengan air panas yang telah di sediakan oleh pengelola minimarket.
Selesai membayar, Freya menikmati mie yang telah ia seduh di meja teras depan minimarket.
" Ah, sudah lama tidak merasakan makan mie di luar seperti ini. Setelah di ingat - ingat tidak terasa juga sudah seminggu aku menjalani nikah kontrak ini. Ah menyedihkan sekali hidupmu Frey yang hidup satu atap dengan pria tanpa perasaan dan kaku begitu." Gumam Freya dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Dengan mengesampingkan masalah hidupnya, Freya berusaha menikmati mie instannya dengan perasaan yang lega.
" Ahh, Alhamdulillah.. kenyang neh perut! Masih ada juga kesempatan untuk merasakan hidup bebas sebelum masalah itu datang." ucap Freya menerawang jauh ke depan.
" Ah sudahlah percuma saja di sesali toh tidak akan ada yang berubah. Sebelum pulang makan es krim ah.. masih cukup neh uangnya.”
Freya berjalan pulang, sebelum tiba di arean apartemen, tidak sengaja Freya melihat sebuah taman bermain tanpa berpikir panjang ia pun melangkahkan kakinya memasuki taman bermain.
Namun langkahnya terhenti saat ia melihat sesosok bayangan pria yang terduduk di salah satu wahana permainan dengan wajah yang tertunduk.
Sejenak ia mengamati pria tersebut, yang hanya mengenakan sandal rumahan dan sebuah piyama yang melekat di tubuhnya dengan di balut sebuah jaket berbahan denim, Freya langsung mengenal postur tubuh pria tersebut meskipun tidak terlihat wajahnya.
Dengan sedikit keraguan, Freya mendekati pria tersebut entah mengapa perasaannya merasa iba melihat keadaan pria yang tidak asing lagi baginya.
" Gio!" panggil Freya hati - hati.
" Frey?" Ucap Gio terkejut melihat sosok yang sangat ia rindukan telah berdiri tepat di depannya.
" Sedang apa kau di sini? kenapa kau meninggalkan isterimy begitu saja?" tanya Freya.
" Bukan urusanmu! aku hanya mencari angin saja." Jawab Gio tidak berani menatap wajah wanita yang ia cintai selama enam tahun ini.
" Ehm, baiklah! aku pergi dahulu." pamit Freya.
Greb,,,langkah Freya terhenti saat tangannya di tahan oleh Gio.
" Jangan pergi! Lima menit saja." pinta Gio memelas.
" Hah, dasar merepotkan!" cebik Freya yang sudah dapat mengendalikan dirinya.
Freya pun duduk di ayunan yang ada di sebah Gio sambil menyerahkan sebuah es krim.
" Makanlah! agar perasaanmu sedikit tenang!" Titah Freya.
" Terima kasih!" jawab Gio mengambil es krim rasa kacang hijau dari tangan Freya.
__ADS_1
" Apapun keputusanmu, kau harus mempertanggungjawabkannya. Jangan kau sampai menyesal dengan keputusan yang telah lau ambil." Ucal Freya menggigit es krimnya.
" Kau sudah tenang? Maaf atas sikapku tadi."
" Sudahlah, itu sudah berlalu. Kau benar! ke depannya anggap saja hubungan di antara kita tidak pernah terjadi." ucal Freya tenang.
Meskipun di hati Gio terasa berat untuk menerima apa yang telah ia katakan, demi keselamatan wanita yang ia cintai, Gio pun rela melepasnya.
" Ehm.."
" Baiklah! aku pulang, jangan terlalu lama di luar angin malam tidak baik untuk kesehatan." Pamit Freya beranjak dari duduknya.
" Beri aku kesempatan sekali lagi." teriak Gio yang menghentikan langkah Freya.
" Ck...dasar kau! di kasih hati malah minta jantung!" cebik Freya kesal yang melanjutkan langkahnya.
" Aku mohon." pinta Gio mengiba.
" Jangan kau sakiti lagi wanita lain. Aku harus menata hatiku kembali!" tegas Freya berusaha tidak menyimpan dendam sedikitpun pada orang yang telah menyakitinya.
Melihat langkah Freya yang semakin menjauh, Gio membuang harga dirinya untuk mengejar Freya. Gio pun menarik tangan Freya untuk menghentikan langkahnya.
" Kau..." berang Freya melihat kelakuan Gio yang sudah di luar batas.
" Ku mohon! aku bersedia menerima hukuman dari mu asal kau jangan menutup hatimu untukku." Mohon Gio.
" Ckkk...percaya diri sekali kau. Meskipun aku berusaha tidak menghancurkan pernikahanmu tapi hargai juga perasaanku. Aku juga berhak melanjutkan hidupku meski tanpa dirimu." Ucap Freya meyakinkan dirinya agar bisa move on dari Gio.
" Frey..!" mohon Gio dengan mengeratkan genggamannya
" Tolong lepaskan! aku tidak mau orang salah paham." Pekik Freya namun tidak di hiraukan oleh Gio yang semakin erat.
" Ku mohon lepas!" mohon Freya sambil berusaha melepaskan genggaman Gio.
" Lepaskan tanganmu!" Teriak seorang pria dengan lantang dan menarik tangan kiri Freya.
Secara bersamaan Freya dan Gio menoleh ke asal suara tersebut. Dengan ekspresi yang berbeda membuat keduanya tidak percaya akan sosok pria yang ada di depan mereka.
" Tuan..!"
" Anda..!"
Ucap mereka bersamaan dengan bola mata yang mengembang seperti adonan donat.
__ADS_1