
" Ah, ruangan sudah sepi! Apa Gio makan di kantin ya!" Gumam seorang wanita cantik berambut berwarna golden brown dengan terurai sangat indah hingga sebatas punggung.
Wanita yang memakai dress berwarna mocca kembali berjalan keluar setelah ia melihat ruangan sudah kosong.
Saat melewati pantry, ia tanpa sengaja mendengar sebuah teriakan seorang wanita dengan nada yang terdengar tidak bersahabat.
Merasa penasaran ia pun mengintip sedikit apa yang telah terjadi di dalam. Dengan menutup kuat mulutnya dan menahan air mata yang ingin mendesak keluar membuat wanita tersebut menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding pantry.
" Ternyata kau masih mencintai wanita itu Gio! Kau benar - benar menutup hatimu untukku?" Gumam wanita tersebut yang tak lain adalah Agni isterinya Gio yang sengaja datang ke kantor suaminya untuk mengantarkan bekal makan siang yang sengaja ia buat sendiri.
" Anda....?" Ucap Freya terkejut saat dirinya berpapasan dengan Agni saat keluar dari pantry.
" Halo!" Sapa Agni bersikap biasa seperti tidak terjadi apa - apa.
" Anda mencari pak Gio? Beliau sedang...." Ucapan Freya seketika terhenti saat kedua bola matanya menangkap sosok pria yang baru keluar dari pantry.
" Pak Gio? Ah, kebetulan kami tidak sengaja mengambil teh bersama. Saya harap anda tidak salah paham nona!" Jelas Freya sedikit khawatir akan keadaan Agni yang melihat Gio keluar dari pantry setelah Freya.
" Apa dia mendengar pembicaraan kami tadi?" Ucap Freya dalam hati.
" Ah, tidak masalah! Jangan terlalu di pikirkan. Saya juga baru datang kok." Bohong Agni yang sudah tiba di ruangan sekitar 15 menit dan ia juga dengan jelas telah mendengar pembicaraan Antara Freya dengan Gio.
" Terima kasih nona! Saya permisi." Pamit Freya.
" Kau sudah makan? Aku datang untuk membawakan mu makan siang. Ayo ke ruangan mu!" Ajak Agni menarik tangan Gio.
" Ah, untung saja hujannya tidak deras! Tidak sampai basah kuyup ne badan." Gumam Freya setelah tiba di depan pintu lift apartemen.
" Enaknya masak yang hangat - hangat ne! Ah masak sup iga aja deh, terakhir aku masak sup ku lihat tuan Akram sangat lahap memakannya. Apa itu salah satu makanan favoritnya ya!" Sambungnya.
Ting....Freya bergegas masuk ke dalam setelah pintu terbuka. Namun dari kejauhan ia melihat sesosok bayangan yang semakin mendekat ke arah lift. Meskipun merasa takut ia berusaha menutup pintu dengan cepat, saat pintu akan tertutup sebuah tangan yang kekar menahan pintu lift dan dengan secepat angin bayangan tersebut langsung masuk ke dalam lift.
Ting.....pintu pun tertutup rapat dan dengan perlahan lift terus beranjak naik menuju ke lantai 15.
" Tuaaaann....? Kenapa anda berlari seperti sedang di kejar - kejar seorang guru BK yang ketahuan bolos di jam pelajaran ?" Tanya Freya mengernyitkan dahinya menatap Akram dengan keringat yang telah mengalir dari pelipis mata nya.
" Diamlah!" Cetus Akram
" Ck....dasar kaku!" Desis Freya mencebikkan wajahnya.
__ADS_1
" Ah, bagaimana caranya aku meminta izin pada nya? Bagaimana jika dia tidak mengizinkan? Apa alasanku kepada kantor, malah besok lagi perginya. Hufttttt!" Ucap Freya dalam hati dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Ada apa?" Tanya Akram yang melirik Freya dengan sudut mata ekornya yang berdiri di sampingnya.
" Eh...ah...tidak ada apa - apa tuan!" Gugup Freya tiba - tiba di tanya oleh Akram.
Tepat pukul 19.00 malam, makanan sudah tersedia di atas meja makan. Sup iga beserta sayuran pelengkapnya telah berada di dalam mangkok sayur dengan asap yang masih mengepul.
Tidak lama Akram muncul dan langsung duduk di kursinya. Tanpa banyak bicara Akram langsung menyendokkan nasi dan lauknya ke dalam piringnya. Seperti dugaan Freya, Akram pun terlihat sangat lahap menyantap isi makanan di piringnya. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, iapun menghabiskan makanannya.
" Terima kasih atas makanannya! Sudah tahu hujan kenapa nekad pulang begitu? Kau tidak membawa payung?" Tanya Akram masih setia di kursinya sambil memegang notepad nya.
" Ah, saya kira kan hanya mendung saja tidak tahu nya malah hujan deras, ya sudah sekalian saja terobos tuh hujan agar tiba di rumah!" Jelas Freya sambil mencuci peralatan makan mereka.
" Ckk..dasar kau ya! Kalau kau terkena flu gimana?" Cebik Akram.
" Haaah, anda mengkhawatirkan saya?" Goda Freya menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Akram.
" Ah, kau jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin rumah ku kotor karena tidak ada yang membersihkannya." Elak Akram.
" Cih.... Saya pikir anda mengkhawatirkan saya ternyata hanya untuk bersih - bersih." Cebik Freya merasa kecewa.
" Puft....." Sontak Akram menutup mulutnya agar tawa nya tidak terlepas.
" Terserah kau saja lah! Jangan lupa susu ku!" Ujar Akram langsung beranjak dari kursinya.
" Cieee......ngambek neh yeeee!" Ejek Freya.
" Ckkk..." Kesal Akram hendak berlalu dari dapur namun langkahnya terhenti saat Freya memanggilnya.
" Ada apa?" Tanya Akram membalikkan badannya menatap Freya.
" Anuu tuan! Ehm..gimana ya!" Gugup Freya ingin meminta izin tetapi suaranya tidak keluar.
" Ada yang ingi kau katakan?"
" Saya ingin meminta izin untuk pergi dinas ke luar kota selama tiga hari." Ucap Freya dengan sekali nafas.
" Keluar kota? Apa kantor mu rutin menugaskan karyawannya dinas keluar kota?" Tanya Akram.
__ADS_1
"Iya tuan! Setiap tiga bulan sekali karena saya dari tim divisi pemasaran saya sebagai wakil divisi bersama ketua tim akan melakukan perjalanan dinas keluar kota untuk menyelesaikan proyek pengeluaran produk baru." Jelas Freya.
" Hanya kalian berdua?" Selidik Akram.
" Iya tuan." Jawab Freya. " Memangnya kenapa kalau hanya kami berdua, toh bagiku itu perjalanan yang menyenangkan, sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Masalah pekerjaan selesai juga bisa menghabiskan waktu berdua dengan pujaan hati. Ah...tapi itu dulu." Lanjut Freya dalam hati dengan raut wajah yang sedih jika mengingat momen - momennya bersama Gio.
" Jika aku tidak mengizinkan bagaimana?" Tanya Akram.
" Hahh, kenapa anda tidak mengizinkannya! Itu adalah tanggung jawab saya. Apa hak anda tuan?" Ucap Freya.
" Ckkkk...apa kau lupa dengan kontraknya hah..." Ucap Akram mengingatkan.
" Ah...maaf tuan! Saya sudah lancang! Karena saya tidak pernah absen dalam melakukan perjalanan dinas kantor makanya saya sedikit kecewa jika tuan tidak mengizinkan saya." Ucap Freya tertunduk.
" Haaah, itu hak mu jika menyangkut masalah pekerjaan, pergilah!" Ucap Akram.
" Benarkah saya di izinkan tuan? Ah terima kasih banyak tuan! Kalau begitu saya akan segera packing barang bawaan saya." Ucap Freya girang.
" Memangnya kapan kau akan berangkat?" Tanya Akram.
" Besok tuan! Jadwal penerbangan pesawat saya pukul 08.00." jawab Freya.
" Besok?" Ucap Akram terkejut.
" Iya tuan! Kalau begitu saya mohon undur diri ke kamar tuan." Pamit Freya bergegas menuju ke kamarnya.
Melihat Freya yang langsung pergi begitu saja membuat Akram sedikit kesal. Dengan cepat ia mengeluarkan handphone nya dari saku celananya.
" Kau periksa penerbangan besok pagi pukul 08.00 dengan tujuan ke kota Bali dan cari nomor sheet Freya pada kelas ekonomi." Titah Akram memberi pekerjaan pada asistennya.
" Baik tuan! Apa anda juga ingin duduk di sebelah nona Freya?" Tanya Dafi.
" Terserah kau saja." Cetus Akram.
" Baik tuan! Akan saya laksanakan dan saya juga akan mengambil alih pekerjaan anda selama anda berlibur." Ucap Dafi.
" Ckkk kau ini, siapa juga yang pergi berlibur. Aku hanya memastikan saja." Cekal Akram memutuskan panggilannya secara sepihak agar tidak mendapat serangan dari Dafi.
" Huft....haaah...apa yang sedang kau lakukan hah..kenapa sampai sejauh ini kau menguntitnya sih!" Gumam Akram merutuki dirinya yang tanpa ia sadari bayangan Freya selu menghantuinya.
__ADS_1
Entah mengapa ia merasa sakit dan kecewa saat mendengar ucapan Freya untuk melakukan perjalanan dinas kantor keluar kota hanya berdua dengan ketua tim divisi nya.
" Arrrggghhhhhhh." Teriak Akram menyugar rambutnya ke belakang. Dengan mata yang terpejam membuat Akram merasa frustasi akan sikapnya yang jauh dari biasanya.