
“ Dah semua, sampai jumpa besok!” pamit Freya.
“ Dah....!” balas Arsy dan Cakra yang menuju ke mobil mereka masing – masing.
“ Yakin gak mau di antar?” tanya Darren saat melewati Freya.
“ Yakin, sudah sana cepat temani bunda. Aku akan datang saat operasi Ezra.” Ucap Freya mengibas – kibaskan tangannya untuk mengusir Darren.
“ Baiklah, dasar kau sibuk tak menentu ya. Hati – hati di jalan! Titip salam dengan anak – anak.”
Ucap Darren yang langsung melajukan mobilnya.
“ Iyaaa....dasar cerewet.” Teriak Freya saat mobil Darren sudah menjauh.
Freya mempercepat langkahnya agar cepat tiba di panti. Sudah beberapa minggu ia tidak mengunjungi panti tempat ia di besarkan.
Sebelumnya, Freya membeli buah tangan untuk anak – anak panti berupa makanan ringan dan buah – buahan.
Setelah dirasa cukup, Freya segera menuju halte yang bertepatan bus tujuannya juga tiba.
“ Ah! Baru beberapa minggu tidak kemari, kangen juga rasanya. Kali ini aku akan memasak makan malam buat anak – anak.” Gumam Freya memandang pintu gerbang panti dan langsung bergegas masuk ke dalam.
Setelah menyapa pak security, Freya langsung masuk ke dalam yang di sambut oleh anak - anak panti dengan riang.
“ Kak Freyaaaaa.” Teriak mereka langsung menghampiri Freya dan menubruk tubuhnya.
“ Kenapa kakak baru datang? Kami pikir kakak sudah melupakan kami.” Ucap salah satu anak panti yang berusia sekitar 12 tahun yang bernama Glen.
“ Maaf! Tentu saja kakak tidak akan melupakan kalian. belakangan ini pekerjaan kakak sangat menumpuk kalian tahu sendirikan kakak di bagian penjualan jadi karena kantor kakak akan merilis produk baru jadi kakak juga sedikit sibuk untuk mempromosikannya.” Jelas Freya agar anak – anak panti tidak merasa di kecewakan.
“ Syukurlah kakak tidak melupakan kami.”
“ Tentu tidak dong! Ohya malam ini kakak akan memasak makan malam untuk kalian. Ngomong – ngomong bibi kemana?” tanya Freya yang dari tadi celingak – celinguk tidak melihat bik Fatma salah satu pengurus panti selain bunda Syifa.
“ Oh. Bibi tadi kedatangan tamu. Mungkin mereka sedang mengobrol di ruang tamu.” Jelas anak perempuan yang berusia 15 tahun bernama Niken.
__ADS_1
“ Tamu? Siapa? Jam segini masih ada tamu yang datang mengunjungi panti?” tanya Freya.
“ Iya kak! Tamu tersebut salah satu donatur panti ini. Entah angin apa yang membawa tuan tersebut mengunjungi panti di jam seperti ini!” jelas Niken.
“ Sudah berapa lama?”
“ Sekitar 15 menit yang lalu kak!"
“ Ehm, baiklah! Ayo Niken dan Andin
bantui kakak masak untuk makan malam kita ya!” ajak Freya.
“ siaaaappp kak!” ucap Niken dan Andin bersamaan sambil hormat.
“ Ini tuan.” Ucap bik Fatma memberikan sebuah album foto dan buku identitas anak – anak panti kepada seorang tamu pria yang tidak lain adalah Akram.
Pasalnya sejak peristiwa kebakaran 15 tahun yang lalu, membuat Akram tidak dapat melupakan Panti asuhan ini terutama seorang gadis kecil yang telah menyelamatkan nyawanya.
Saat ia beranjak dewasa, Akram memutuskan untuk kembali ke negaranya dan menjadi donatur tetap Panti asuhan ini. Selama ini ia hanya berkunjung saat acara kegiatan amal yang diadakan setahun sekali.
Saat kunjungan pertamanya, ia tidak bertemu dengan sosok gadis kecil tersebut karena sudah keluar dari Panti asuhan. Mengetahui hal itu, ia pun berusaha mencarinya kembali.
“ Tidak masalah tuan! Memang peristiwa kebakaran 15 tahun yang lalu perlahan – lahan sudah mulai kami lupakan. Agar tidak menjadi trauma yang mendalam bagi anak – anak yang pernah menjadi korbannya.” Jelas bik Fatma.
“ Benar bu. Meskipun mereka sudah beranjak dewasa pasti peristiwa tersebut akan membekas dalam ingatannya sepanjang hidupnya.” Imbuh Akram.
Akram pun membuka lembar demi lembar album foto dan memperhatikan wajah anak – anak panti yang pernah di asuh dan di besarkan di panti ini.
Pada lembaran ke empat tangan Akram terhenti saat melihat foto seorang gadis kecil yang tidak asing baginya.
Foto gadis kecil dengan rambut di kucir dua yang dihiasi sepasang jepitan rambut berwarna hijau dengan motif kupu – kupu.
Tanpa ia sadari tangannya mengusap pelan foto gadis kecil tersebut dengan sebuah senyuman yang sangat lebar di wajahnya tanpa terlihat sedikitpun rasa kesedihan.
Bik Fatma hanya memperhatikan tingkah tamunya tanpa berani ikut campur.
__ADS_1
“ Dia benar – benar gadis yang periang dan kuat. Kami tidak pernah melihatnya bersedih atau mengeluhkan sesuatu. Sampai sekarang pun gadis kecil tersebut tumbuh menjadi seorang wanita yang semakin kuat.” Jelas bik Fatma.
“ Ah maaf bu! Anda benar, senyuman di wajahnya memperlihatkan ia adalah anak yang kuat yang dapat menyembunyikan segala kesedihannya dengan baik.” Ucap Akram.
“ Anda benar tuan. Meskipun ia sudah hidup mandiri tetapi ia berkeras menjadi salah satu donatur panti ini.” Kata bik Fatma.
Tangannya terus membuka lembaran demi lembaran album foto tersebut. Senyum Akram terus tersemat di wajahnya saat melihat foto – foto gadis kecil yang telah memenuhi ruang hatinya.
“ Liontin ini?” tanya Akram merasa penasaran saat sebuah foto gadis kecil tersebut memakai liontin bersama seorang anak laki – laki.
“ Ah, liontin itu dari seseorang katanya Tuan! Ia pun tidak tahu sejak kapan liontin itu sudah berada di lehernya. Sejak ia mendapat lionti itu, ia benar – benar merawat dan menjaganya dengan baik seakan ia percaya suatu saat nanti pasti akan bertemu dengan sang pemiliknya.” Jelas bik Fatma.
“ Kapan ia mendapatkan liontin tersebut?” tanya Akram semakin penasaran akan sosok gadis kecil tersebut.
“ Saat peristiwa kebakaran 15 tahun lalu. Kami menemukannya di sebuah ruang bawah tanah dalam keadaan tidak sadar dengan seorang anak laki – laki. Saat itu kami tidak menyadari liontin tersebut, kami hanya berfokus pada keselamatan kedua anak tersebut.”
“ Lalu bagaimana keadaan mereka?”
“ Kalau anak laki – laki tersebut, kami tidak tahu karena langsung dibawa oleh keluarganya. Sedangkan gadis kecil tersebut mengalami koma selama seminggu. Dan mengalami luka bakar di bagian lengan kanannya.”
“ Luka bakar?” tanya Akram langsung teringat akan luka bakar yang terdapat di lengan kanan Freya.
“ Benar tuan! Luka tersebut mungkin ia dapat saat menyelamatkan sahabatnya Dara dan seorang anak laki – laki.”
Pikiran Akram langsung tertuju pada wajah Freya, mungkinkah gadis kecil yang telah menyelamatkannya adalah Freya seorang gadis yang tinggal satu atap bersamanya sebagai isteri kontraknya.
Lalu siapa wanita yang selama ini telah mengaku sebagai gadis kecil tersebut dengan bukti adanya foto liontin miliknya.
Rasa penasaran yang semakin memuncak membuat Akram tidak bisa tahan untuk bertanya siapa nama gadis kecil tersebut.
“ Kalau boleh tahu, siapa nama gadis kecil ini bu?” tanya Akram.
“ Yang mana tuan?” tanya bik Fatma saat Akram menunjuk sebuah foto tiga anak kecil sedang memamerkan hadiah mereka masing – masing karena mendapatkan nilai yang sempurna saat duduk di bangku sekolah dasar.
“ Ini bu!” tunjuk Akram pada seorang gadis kecil dengan ciri khas kucir duanya yang terlihat tersenyum lebar yang berada di sebelah kanan anak laki – laki.
__ADS_1
“ Oh, gadis ini bernama Freya. Ya Freya Grizelle Atmajaya, sedangkan kedua sahabatnya.......”
Tok....tok....tok....ucapan bik Fatma terpotong saat terdengar pintu di ketuk oleh seseorang dari luar.