Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 44 Kembali ke Pemiliknya


__ADS_3

" Freya! Sepasang pita kupu - kupu biru ini salah satu barang yang ada di keranjang saat kau masih bayi. Bunda tidak tahu, maksud dari orang yang membawa mu kemari apakah sebuah jejak atau memang untuk menemanimu." Ucap bunda Sifa saat berusia 7 tahun menyerahkan sepasang pita rambut berbentuk kupu - kupu yang hinggap di sebuah bunga mawar.


" Cantik sekali bun pita nya! Akan Freya pakai setiap hari bun." Ucap Freya girang dengan menerima sebuah kotak yang berisikan sepasang pita rambut.


" Sini biar bunda pakaikan." Tawar bunda Sifa memasangkan pita tersebut di kedua kucir rambut Freya yang di ikat dua.


" Wah, kamu semakin cantik pakai pita itu!" Puji bunda Sifa setelah pita tersebut telah berada di atas ikatan rambut Freya.


" Benarkah bun! Freya akan menjaga pita ini sebagai benda berharga bagi Freya." Ucap Freya dengan senyuman yang melebar yang terlihat dari pantulan bayangannya di dalam cermin.


" Baiklah! Mulai sekarang benda ini bunda serahkan kepada pemiliknya ya! Kamu jaga baik - baik semoga suatu saat ada keluarga mu yang mencari kembali dirimu dengan mengenali benda ini." Ucap bunda Sifa.


" Ah tidak mungkin bun!" Ucap Freya sedih.


" Kenapa?"


" Kalau mereka memang berniat mencari Freya, pasti sudah bertemu. Tapi ini sudah 7 tahun lho bun tidak ada seorang pun yang datang mencari." Ucap Freya semakin sedih.


" Ehm, sudahlah! Jangan sedih. Kan masih ada bunda, Darren, Dara, bik Fatma dan yang lainnya. Bunda yakin suatu saat kamu akan mendapatkan keluarga yang baru." Ujar bunda Sifa.


" Freya tidak membutuhkan keluarga baru, Freya sudah senang ada di sini dengan keluarga yang sekarang." Ucap Freya menyemangati dirinya.


" Tentu saja, kita semua di sini adalah satu keluarga yang saling melengkapi. Nah sekarang ayo kita makan!" Ajak bunda Sifa mengakhiri obrolan mereka.


" Ok bun. Ayo! Freya juga sudah lapar nih!" Sambut Freya senang dengan bergelayut di lengan bunda Sifa.


" Anak baik." Ucap bunda Sifa tersenyum dengan mengelus kepala Freya yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Dengan memberanikan diri, Freya mengambil pigura poto yang ada di atas meja Akram.


" Ini kan pita kupu - kupu seperti milik ku? Aku yakin itu seperti milik ku yang satu lagi. Ah aku pikir sudah hilang sebelah setelah kebakaran itu. Syukurlah aku dapat melihatnya kembali." Gumam Freya mengamati benda yang ada di bilik kaca.


Melihat raut wajah Freya yang tiba - tiba berubah saat melihat sebuah pita kupu - kupu yang terlihat sedikit usang membuat Akram mengernyitkan dahinya.


" Kau mengenali pita tersebut?" Pancing Akram.


" Ah, iya tuan. Saya pernah melihatnya sama seperti di dalam pigura itu." Tunjuk Freya ke arah pigura.

__ADS_1


" Kau yakin pernah melihatnya? Pita itu memiliki pasangan tapi aku hanya memiliki sisi yang satu. Kau tahu pita tersebut merupakan pita yang memiliki simbol kesetiaan dan hanya tinggal sepasang di dunia ini. Dan aku yakin pemilik dari pita ini merupakan dari keluarga yang tidak sembarangan." Ucap Akram.


" Anda meragukan ucapan saya? Anda pikir saya berbohong? Lalu kenapa jika pita tersebut hanya satu - satunya di dunia ini?" Berang Freya tidak terima akan tuduhan Akram yang telah meremehkannya.


" Puft.....hahahahaahaaaa kau benar - benar wanita yang aneh!" Ucap Akram dengan di iringi suara tawa yang pecah tak dapat ia tahan.


" Kenapa anda tertawa? Bukankah anda yang aneh seenaknya saja menyebut saya aneh. Ckkkk sebelum berbicara anda bercermin dahulu." Kesal Freya melihat sikap Akram yang terlihat tidak seperti biasanya.


" Kau benar - benar membuatku hilang kendali." Ucap Akram.


" Ckkkk...sudahlah! Saya izin keluar tuan, jika saya lebih lama lagi di sini malah saya juga akan tertular aneh." Cebik Freya mengundurkan diri dari hadapan Freya.


" Tunggu!" Panggil Akram yang menghentikan langkah Freya yang sudah berada di ambang pintu.


Tangan Freya ia tarik kembali dari pegangan daun pintu. Ia membalikkan tubuhnya dengan wajah yang jutek.


" Ada apa lagi tuan!" Tanya Freya.


" Ambillah pita tersebut, sebagai balasan kau telah mengembalikan kalung milik ku."


" Haaah! Anda tidak salah tuan? Bukankah pita itu memang milik saya." Seru Freya.


" Ah, baiklah jika anda ingin bukti saya akan membuktikannya." Cebik Freya tidak terima dan melangkah keluar dari ruang kerja Akram.


Ceklek,,,,,selang beberapa menit pintu dibuka oleh Freya dan menunjukkan sebuah pita kupu - kupu yang sama persis dengan pita yang ada di dalam pigura milik Akram.


Tak...." Lihat lah tuan! Ini adalah pasangan pita yang ada di sana. Coba anda lihat di balik pita tersebut ada bertuliskan huruf ya dan pita yang ada sama saya bertuliskan Fre. Jadi kalau kedua pita tersebut di gabungkan akan membentuk nama saya. Mungkin itu adalah nama pemberian dari orangtua saya. Saya tidak tahu alasan mereka sampai membuang saya ke panti asuhan." Jelas Freya dengan raut wajah yang sedih jika mengingat kembali saat ia tumbuh di panti asuhan.


Mendengar penjelasan dari Freya, dengan segera Akram mengambil pita tersebut dari balik kaca yang ada di dalam pigura foto.


Dan benar saja saat ia membalikkan pita tersebut terdapat sebuah huruf ya yang terukir dari tinta emas.


Ia pun menyatukan kedua pita tersebut maka terbentuklah sebuah nama Freya yang terukir dari tinta emas dengan sangat indah.


Setelah mengamati beberapa saat, Akram seperti tidak asing melihat ukiran yang ada di balik pita tersebut.


Ia pun mengirimkan foto ukiran tersebut ke asistennya untuk di selidiki.

__ADS_1


" Aku ingin kau menyelidiki ukiran nama pada foto yang ku kirim." Titah Akram pada Dafi melalui vi telepon.


" Baik tuan!" Ucap Dafi.


" Baiklah! Terima kasih." Ujar Akram memutuskan panggilannya.


Melihat sikap Akram yang semena - mena membuat Freya sedikit mencurigai status pria yang ada di depannya.


" Apa anda seorang mafia?" Tanya Freya tidak bisa menahan rasa penasarannya dengan ekspresi wajah yang was - was.


" Puft...hahahaha!" Seketika tawa Akram pecah melihat wajah Freya yang terlihat menggemaskan di matanya.


" Kenapa anda tertawa?"


" Haahaahaa, kenapa kau berpikir kalau aku seorang mafia? Kau merasa takut sudah berada di sarang mafia?" Gertak Akram yang membuat dirinya terhibur akan tingkah Freya yang terlihat berani tetapi nyatanya ia penakut.


" Ya, karena anda selalu bertindak sesuka hati anda dan menyuruh seseorang dengan mudahnya. Bukankah di film - film seperti itu? Seorang ketua mafia dengan mudahnya membereskan suatu masalah hanya dengan jentikan jarinya." Jelas Freya.


Ctak,.... Sebuah sentilan telah mendarat sempurna di dahi Freya.


" Auw.....kenapa tiba - tiba anda menyentil saya?" Kesal Freya sambil mengusap dahinya.


" Kau terlalu banyak menonton drama jadinya begini kan pikiranmu sudah tidak memakai logika lagi." Ucap Akram.


" Cih.....dasar tembok es! Tidak punya perasaan." Gumam Freya masih merasa dongkol.


" Sudahlah! Hentikan khayalan mu itu. Sekarang kau ambil lah pita milikmu itu. 15 tahun yang lalu aku sengaja mengambil pita tersebut dari ikatan rambutmu. Sebagai gantinya aku memberikan kalung berharga milikku padamu. Sebagai ucapan terima kasih ku karena kau sudah menyelamatkan nyawaku. Meskipun terlambat aku sangat berterima kasih padamu berkat kau aku masih dapat bernafas hingga saat ini. Dan suatu hari, jika aku sudah memiliki segalanya aku berjanji akan mencari mu kembali dan meminta kalung milikku." Jelas Akram dengan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya yang berwarna coklat.


Mendengar perkataan Akram yang baru pertama kali ia dengar secara tulus dan serius membuat Freya terharu dan tidak dapat berkata - kata. Tanpa ia sadari air matanya telah mengalir dari kedua sudut matanya.


Melihat air mata Freya yang jatuh, membuat tangan Akram menghapus air mata tersebut dari pipi Freya dengan lembut.


" Ah maaf tuan! Saya terbawa suasana." Ucap Freya langsung tersentak dari lamunannya saat tangan Akram telah menyentuh kulit pipinya. Dengan suatu perasaan yang hangat telah mengalir di hatinya membuat detak jantung Freya berdegub sangat kencang.


" Saya juga merasa bersyukur anda dengan tulus dan mempercayai saya untuk menjaga kalung liontin milik anda yang merupakan benda warisan dari keluarga Ghazalan. Jika saya tahu nilai dari kalung tersebut saya akan langsung mengembalikan nya agar tidak menjadi beban buat saya." Jelas Freya dengan sekuat hati menetralisir kan detak jantungnya.


" Baiklah! Sekarang sudah jelas sesuatu yang telah menjadi haknya pasti akan tetap kembali kepada pemilik yang sesungguhnya meskipun itu melalui suatu proses yang panjang." Ucap Akram.

__ADS_1


" Anda benar tuan! Saya akan mengambil hak milik saya. Terima kasih sudah menjaga pita ini dengan baik." Ucap Freya dengan sebuah senyuman yang tulus.


" Ehm..." Melihat senyuman di wajah Freya dengan tulus membuat Akram membalasnya dengan sebuah senyuman yang berhasil membuat wajah Freya merah merona.


__ADS_2