Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 73 Obat Hati


__ADS_3

Mendengar suara yang tidak asing baginya, nyonya Aksara menoleh dan menyambut kedatangan pria tersebut.


" Ah, sayang! Kau sudah pulang!" Sambut nyonya Aksara menuntun pria tersebut yang tak lain adalah suaminya tuan Ghazalan.


" Jangan terlalu dalam ikut campur dengan kehidupan pribadinya." Ucap tuan Ghazalan mengingatkan sang isteri.


" Aku tidak ikut campur, hanya mengawasinya dari jauh agar aku selalu mendapat informasi terbaru darinya." Kilah nyonya Aksara.


" Sama saja, itu sudah melanggar privasinya." Dengus tuan Ghazalan melihat sikap isterinya yang berlebihan.


" Yang penting aku kan tidak ikut campur dalam urusan rumah tangganya Pa. Aku hanya tidak sabar saja dan ingin memastikan perasaan Akram kepada Freya, meskipun selama ini ia sempat di tipu oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Jelas nyonya Aksara.


" Haah, kau ini ya! Pandai sekali mencari alasan. Bagaimana kalau kita mengunjungi mereka secara diam - diam!" Ucap tuan Ghazalan sambil mencubit hidung isterinya.


" Auw, sakit tahu. Ehmmm ide yang bagus sayang! Ayo kita mengunjungi mereka." Ucap nyonya Aksara semangat.


" Ckkk....dasar! Kalau sudah senang sama suami sendiri lupa." Cebik tuan Ghazalan dengan wajah yang di murungkan.


" Eh....maaf sayang! Ehm baiklah aku akan membalasnya dengan....." Ucap nyonya Aksara tanpa melanjutkannha.


" Dengan apa hah?" Tanya tuan Ghazalan penasaran dengan ucapan isterinya yang terpotong.


Melihat suaminya penasaran, nyonya Aksara tersenyum licik dan membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Tanpa membuang waktunya tuan Ghazalan langsung menggendong isterinya menuju kamar mereka.


" Auwww sayang hati - hati dong! Ingat pinggangmu!" Ucap nyonya Aksara terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba - tiba.


" Kau meragukan aku?" Bisik tuan Ghazalan di telinga isterinya.


" Tidakkkk...." Jawab nyonya Aksara dengan wajah yang merona.


Melihat wajah isterinya yang merah merona, tuan Ghazalan melajukan langkahnya sambil sesekali mengecup bibir ranum isterinya.


Akram menghentikan mobilnya di sebuah kedai makanan yang bertuliskan Ayam Penyet Gak Ada Obat yang berada di pinggir jalan.


" Keluarlah? Ayo kita makan!" Ajak Akram.


Melihat tempat makan yang mereka kunjungi membuat Freya terkejut dan masih memperhatikan sekitarnya.


" Kau tidak keluar?" Tanya Akram lagi yang melihat Freya masih bergeming di bangkunya.


" Ah,,iya tuan!" Ucap Freya terbata.


' Mengapa ia ingin makan di sini? Bukankah ini kedai makan orang biasa seperti diriku?' tanya Freya dalam hati masih bingung.

__ADS_1


" Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Kau tidak suka?" Tanya Akram tidak mengerti melihat Freya seperti enggan untuk masuk.


" Tidak tuan! Saya sangat suka. Saya tidak menyangka anda membawa saya ke tempat ini. Sudah lama saya ingin kemari tapi tidak ada waktu." Jelas Freya cepat agar Akram tidak salah paham.


" Ah syukurlah!" Ucap Akram.


Seketika jiwa Freya kembali berkobar tidak sabar untuk menyantap ayam penyet langganannya yang memiliki level sambal yang berbeda - beda. Tanpa sadar ia berjalan mendahului Akram.


" Ayo tuan! Kita eksekusi ayam penyet mang Hasim." Ajak Freya dengan semangat.


" Ck...dasar, akhirnya dia menjadi dirinya sendiri." Gumam Akram sambil tersenyum melihat tingkah Freya yang begitu bersemangat.


Akram teringat dengan obrolan Freya dengan temannya lewat telepon beberapa hari yang lalu.


Akram menghentikan langkahnya untuk menguping pembicaraan Freya.


Dengan nada sedih, Freya mengucapkan ingin sekali makan ayam penyet favoritnya di kedai mang Hasim yang berada di pinggir jalan tidak jauh dari kantornya tempat ia bekerja.


Ya, semenjak Freya menikah dengan Akram ia tidak banyak memiliki waktu untuk sesuka hatinya.


" Ah, dasar kenapa kau tidak pernah bilang padaku." Decak Akram meninggalkan Freya yang masih mengobrol dengan temannya.


" Halo mang Hasim!" Panggil Freya kepada pemilik kedai ayam penyet langganannya.


" Maaf mang! Selama ini pekerjaan saya sangat padat. Jadi sulit untuk mencari waktu luang." Jelas Freya.


" Ehm begitu ya, baiklah untuk mengembalikan semangatmu kali ini mamang akan mentraktirmu makan." Ucap mang Hasim.


" Eh,,, jangan mang! Aku tidak mau merepotkan mamang!" Tolak Freya.


" Rezeki jangan di tolak mbak! Lagi pula sekalian juga untuk mentraktir pacar mbak Freya." Jelas mang Hasim yang masih ingat tadi siang langsung di datangi oleh Akram agar menu dagangannya langsung di borong semua khusus untuk Freya. Dan tentunya sebelum itu sudah ada kesepakatan di antara mereka berdua.


" Eh, mamang jangan salah paham! Tuan ini bukan pacar ku tapi...."


" Suaminya!" Potong Akram dengan santai langsung menuju ke meja yang kosong.


" Apa.....?" Ucap Freya dan mang Hasim bersamaan dengan mata yang membulat dan mulut yang sedikit terbuka tidak percaya akan pernyataan pria tinggi tersebut dengan santainya berjalan meninggalkan mereka.


" Ah hahahahahahaaa, maaf mang beliau memang suka bercanda.." ucap Freya canggung.


" Ah iya mbak! Tapi wajahnya sangat seriussaat bicara seperti itu mbak? Benar mbak sudah menikah?" Tanya mang Hasim.


" Sudah pun, tidak apa - apa mbak, mamang senang mbak Freya dapat menemukan seseorang untuk tempat bersandar." Ucap mang Hasim dengan seulas senyuman di wajahnya.

__ADS_1


" Ah mamang." Freya terharu akan sikap hangat mang Hasim yang selama ini sudah ia anggap sebagai ayahnya.


" Sudah sana! Tuan itu sudah menunggu mbak! Akan segera mamang hidangkan ayam penyet spesial buat mbak Freya." Ujar mang Hasim melirik ke arah Akram yang sibuk dengan ponsel yang ia mainkan.


" Baik mang!" Jawab Freya canggung dan mau tidak mau harus menghampiri Akram yang sudah berada di mejanya.


" Maaf sudah membuat anda menunggu lama tuan!" Ucap Freya terasa canggung setelah mendengar Akram mengaku sebagai suaminya.


" Ehmmm...jangan kau pikirkan! Ayo duduklah!" Titah Akram.


" Iyaaa... Tuan!" Ucap Freya.


" Ayam penyetnya datang!" Ucap mang Hasim mengikis kecanggungan Freya.


" Selamat makan tuan dan mbak Freya!" Sambungnya.


" Ehm.."


" Terima kasih mang!"


" Makanlah!" Titah Akram.


" Baik tuan!" Ucap Freya


Setelah melihat hidangan yang sudah lama ia nantikan kini telah berada tepat di hadapannya sikapnya langsung berubah drastis. Tanpa rasa sungkan, ia pun langsung menyantap hidangan tersebut.


" Selamat makan!" Ucap Freya senang langsung mengambil bagian paha ayam favoritnya.


Melihat sikap Freya yang langsung berubah membuat Akram tersenyum dan terus menatapnya saat menyantap makanan kesukaannya dengan senang.


" Ckk, cepat sekali sikapnya berubah." Gumam Akram dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


" Anda tidak makan tuan?" Tanya Freya menghentikan makannya melihat Akram tidak menyentuh makanannya.


" Aku sudah kenyang! Makanlah, jangan hiraukan aku." Ucap Akram.


" Maaf tuan!" Ucap Freya dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah karena hanya dia yang menikmati makanannya.


" Kenapa kau minta maaf?" Tanya Akram


" Aku merasa bersalah, saat kita makan bersama tapi hanya kita sendiri yang menikmati makanan tersebut sementara orang yang sedang bersamamu tidak dapat menikmatinya. Saat itulah, aku merasa diriku egois." Jelas Freya.


" Ehmmm, begitu ya! Baiklah aku akan menemani mu makan." Ujar Akram mengerti maksud Freya. Dengan cepat ia langsung menyantap makanan yang yang ada di depannya.

__ADS_1


" Selamat menikmati tuan! Semoga anda menyukai makanannya!" Ucap Freya senang melihat Akram juga ikut menikmati makanannya.


__ADS_2