
" Dasar anak tak tahu diri! Begini kah balasan mu setelah aku memungut mu dari panti dan membesarkan mu di dalam keluarga William hah." Hardik tuan Willian dengan emosi yang cukup tinggi kepada Cleona.
" Memangnya apa yang saya lakukan? Bukankah anda sendiri yang memutuskan hubungan ini. Jika terjadi sesuatu pada anda itu bukanlah kesalahan saya lagi tapi itu kesalahan anda sendiri." Teriak Cleona.
Plaaakkkk....sebuah tangan yang masih terlihat kekar telah mendarat sempurna di pipi kanan putih mulus Cleona. Dengan rahang yang telah mengeras dan meninggalkan sebuah cap lima jari di atasnya.
Dengan menahan keseimbangan tubuhnya, Cleona berusaha kuat menahan rasa sakit yang sudah tak ia rasakan lagi.
" Hahahahaahahhaa..... Sekarang anda melampiaskan kesalahan anda pada saya hah! Setelah tuan Akram berhasil menghancurkan perusahaanmu?" Cebik Cleona yang sudah merasa muak akan pria yang pernah ia anggap sebagai ayahnya.
" Kau.... Beraninya kau!" Berang tuan William sambil menunjuk jarinya ke wajah Cleona.
" Kenapa? Anda sudah putus asa! Rencana anda selama ini telah terbongkar haah...sekarang bersiaplah untuk kehancuran dirimu tuan William." Pekik Cleona yang juga sudah putus asa akan kelangsungan hidupnya.
Ia sangat tahu, seperti apa sosok Akram Mazhar Ghazalan yang di kenal sebagai pengusaha muda berhati dingin dan bertangan besi. Siapa pun yang berani mengusik hidupnya tidak ada ampun baginya.
Dengan menelan salivanya, Cleona berusaha tegar jika mengingat nasib pria yang ada di hadapannya. Orang - orang Akram dengan mudah dan cepat langsung menghancurkan perusahaannya berkeping - keping seperti debu yang berterbangan.
Melihat dirinya masih tidak terjadi apa - apa membuat Cleona tetap selalu waspada. Ini malah semakin membuatnya semakin was - was, apa yang akan di rencanakan Akram padanya.
" Kau.....!" Berang tuan William dengan emosi yang memuncak telah mengangkat tangannya ke udara dan mengarah ke wajah Cleona.
Cleona hanya pasrah jika tangan tersebut akan mendarat juga ke wajahnya, ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menghindar. Namun, setelah beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Dengan membuka matanya perlahan, Cleona mengintip apa yang telah terjadi. Dengan mata yang langsung membulat, membuat Cleona tidak menyangka tangan yang kekar tersebut masih menggantung di udara.
Sebuah tangan yang lain, telah berhasil menahan tangan tuan William di waktu yang sangat tepat.
" Kau...!" Pekik Cleona dengan menutup mulutnya.
" Beraninya kau...!" Hardik tuan William dengan guratan wajah yang mengeras dan memerah.
" Begini kah cara anda memperlakukan seorang wanita yang telah anda anggap sebagai anak sendiri hah.." ucap pria muda tersebut dengan nada yang tinggi.
" Siapa kau hah..berani - beraninya ikut campur urusanku." Pekik tuan William.
" Darren, hentikan! Lepaskan tanganmu!" Pinta Cleona kepada pria yang telah menahan tangan papa angkatnya.
Ya Darren datang ke apartemen Cleona di saat yang ( tidak ) tepat dimana ia harus menyaksikan di depan matanya sahabatnya yang ia cintai telah di perlakukan secara kasar oleh orang tua asuhnya.
__ADS_1
" Saya peringatkan kepada anda tuan William! Jangan pernah muncul lagi di hadapan Cleona untuk selamanya." Ancam Darren dengan tegas dan mata yang menyala.
" Ciihhh, dasar bajingan! Kau mau sok menjadi pahlawan hah..." Bukannya takut tuan William malah semakin memprovokasi Darren.
" Hahh, ternyata anda masih memiliki nyawa cadangan rupanya? Baiklah kita lihat saja siapa yang akan bertahan sampai akhir." Ucap Darren memberi peringatan.
" Kau...... ! Cihhhhhh...awas kalian!" Ucap tuan William sambil menunjuk wajah Akram dengan telunjuknya sebelum ia pergi dari hadapannya.
" Ayo masuk!" Ajak Darren menarik tangan Cleona ke dalam apartemen.
Darren mendudukkan Cleona di sofa, dan mengambil kotak obat yang ada di laci lemari dekat dapur.
Dengan sigap dan cekatan, Darren mengoleskan salep pereda nyeri agar tidak membekas.
" Apa kau butuh sandaran! Bersandarlah padaku!" Ucap Darren mengambil posisi di sebelah Cleona dan menarik kepala Cleona ke pundaknya.
" Menangislah, anggap saja aku tidak ada!" Ucapnya.
Hiks...hiks.....hiks......air mata Cleona lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Ia tidak sanggup lagi menahan air mata yang telah membeku selama ini kini langsung mencair seketika.
" Tuan Akram?" Seru Agni dan Freya bersamaan.
Tanpa menghiraukan sepasang suami istri di depannya, Akram langsung menarik tangan Freya dan membawanya pergi.
" Jaga sikap mu tuan Gio!" Ancam Akram memperingati Gio sebelum ia melangkah.
Melihat sikap Akram yang terlihat membela seorang wanita di depan umum membuat mereka berdua menyimpan pertanyaan di hati masing - masing.
" Ah, tuan Akram untuk pertama kalinya ikut campur dengan urusan orang lain dan membela seorang wanita? Ckkk, tidak biasanya! Apa mereka memiliki hubungan?" Gumam Agni melihat sikap Akram yang terkenal dengan berhati dingin kepada orang lain terutama wanita membuat kejadian di depan mereka merupakan hal yang sangat langka.
" Tuaaann....!"
" Tuan....!
" Tuaaaaaaaan....!" Teriak Freya yang ketiga kalinya dengan suara yang kuat.
" Ckkk, kenapa? Kau kesal hah!" Cebik Akram melihat raut wajah Freya yang kesal.
__ADS_1
" Iya,,, saya sangat kesal dan capek mengikuti anda." Pekik Freya.
" Cih.....pergi lah kalau kau kesal!" Cebik Akram yang terlihat menahan emosi.
" Haishhhh,,, anda sadar gak sih! Anda tu terlalu cepat berjalan, sementang memiliki kaki yang panjang tidak memikirkan orang lain yang ada di belakangnya. Selain itu, sedari tadi tangan saya tu di pegangi terus jadinya terpaksa saya harus melajukan langkahnya agar tidak terseret oleh anda." Kesal Freya merasa lelah sejak mengikuti langkah Akram yang terlalu cepat dengan tangan yang di pegang.
" Ah...." Sontak Akram melepaskan genggamannya dari lengan Freya.
" Huft..... Dari tadi gitu kek, kan tangan saya jadi sakit." Keluh Freya mengelus tangannya yang membekas dan memerah.
Melihat, tangan Freya yang memerah membuat Akram merasa bersalah telah menariknya dengan kuat dan membentaknya.
" Maaf! Aku tidak tahu, jika tanganmu sakit." Sesal Akram dengan suara yang rendah.
" Ehm, sudah lah tuan! Tidak apa - apa." Ucap Freya.
" Lalu bagaimana dengan tanganmu? Haaa, jika bukan karena pria brengsek itu aku tidak akan semarah ini." Gumam Akram.
" Kenapa tuan?"
" Apanya?"
" Ya, yang anda katakan tadi? Kenapa anda sampai semarah itu?" Tanya Freya.
" Aaah, itu ya jelas dong! Siapa pun pasti marah jika melihat seseorang terpojokkan seperti itu." Kilah Akram yang ia sendiri tidak tahu telah berkata apa.
" Ooohhhh, begitu ya. Terima kasih sudah membela saya tuan! Anda telah menyelamatkan saya dari pria brengsek itu, jika bukan karena istri nya sudah saya tonjok tu wajah tampannya." Kesal Freya.
" Tampan kau bilang? Ckkk tampan apanya? Wajah mesum begitu kau bilang tampan?" Hardik Akram.
" Eh,,kenapa anda bicara seperti itu? Dia memang tampan kok. Dia hanya..." Freya tidak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah Akram memerah.
" Maaf tuan! Saya akui dia memang tampan tapi anda jauh lebih tampan di banding dengannya. Meskipun saya tidak mengakuinya tapi saya merasa beruntung bertemu dengan anda. Saya merasa sedikit tenang setelah bertemu dengan anda. Haaah, meskipun awalnya terasa berat menerima ajakan menikah dari anda tetapi setelah beberapa bulan di jalani tidak lah buruk. Terima kasih anda selalu menyelamatkan saya di saat saya terdesak." Ucap Freya dengan tulus sambil tersenyum ke arah Akram.
Deg......sebuah sengatan listrik telah mengalir ke relung hati dan jantungnya.
" Ah, sepertinya aku harus memeriksakan jantungku." Gumam Akram memegangi jantungnya yang terasa sakit dan berdetak kencang.
__ADS_1