Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 50 Hasrat yang Kuat


__ADS_3

Melihat sosok pria yang ia kenal meski samar - samar membuat Freya semakin berang.


" Kau....lepaskan tanganmu!" Teriak Freya dengan nafas yang memburu.


" Aku bisa membantu mu!" Ucapnya yang tak lain adalah Gio.


Ya, sejak ia bertemu matanya tak lepas mengawasi gerak - gerik Freya. Merasa ada yang aneh pada diri Freya dengan diam - diam Gio mengikutinya.


" Aku tidak butuh bantuanmu! Tolong lepaskan tanganmu dari ku! Haaaaaah." Teriak Freya semakin berang.


Melihat sikap dan ucapan Freya yang bertentangan membuat Gio semakin berani.


" Aku tahu kau menginginkannya! Aku bisa membantumu!" Ucap Gio.


" Tidak. Jangan sentuh aku brengsek. Ughhhhh lepaskan....!" Teriak Freya namun tubuhnya bereaksi lain dan berharap lebih setelah mendapat sentuhan dari Gio.


" Lepaskan.....!" Sambungnya semakin berang dan berusaha sekuat tenaganya untuk melawan hasrat yang begitu besar.


" Ayolah Frey! Tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang. Hanya aku yang bisa membantu mu."


" Kau....." Dengan tubuh yang semakin panas Freya semakin tidak terkendali.


Di saat Freya hampir menyerah dalam ketidak berdayaannya sebuah tangan menggapai lengan sebelah kanan Freya dengan tegas pria tersebut menarik Freya ke dalam pelukannya.


" Lepaskan tangan kotormu dari nya! Begitu kah sikap seorang ketua tim dari divisi pemasaran terhadap wakilnya yang memanfaatkan kesempatan hanya untuk keegoisanmu?" Seru pria tersebut.


"Kau.....! Jangan ikut campur!" Hardik Gio.


" Cih...dasar pecundang!" Ucapnya yang langsung menggendong Freya ala bridal style dan meninggalkan lobi hotel bersama Gio yang masih mematung di posisinya.


" Cih...sial! Kenapa dia selalu muncul hah.." hardik Gio kesal.


Meski kesadaran Freya tidak penuh seutuhnya, ia masih dapat melihat wajah pria yang sedang menggendongnya. Meski pandangannya samar ia dengan jelas mengenali wajah tampan yang selalu menghantuinya.


" Ahh anda! Meskipun ini hanya dalam mimpi tapi tolong aku tuan! Aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku sangat panas!" Gumam Freya yang berada di dalam gendongan pria yang sudah tinggal satu atap dengannya beberapa bulan ini.


" Dasar ceroboh!" Cebik Akram yang melihat ada yang tidak beres dengan Freya. Dengan cepat ia mengambil Freya dari pria brengsek seperti Gio.

__ADS_1


" Ahhhhhh, dalam mimpi pun saya bisa mendengar suara anda dengan jelas tuan! Benar - benar mimpi 3 dimensi ya!" Celoteh Freya.


" Ckk....dasar kau ini!" Cebik Akram langsung membawa Freya ke kamarnya yang juga berada di hotel yang sama di adakannya acara pesta.


Akram pun langsung menekan tombol lift yang langsung menuju lantai paling atas hotel yang merupakan kamar presidential suite.


Setelah membuka pintu kamar, Akram langsung menjatuhkan tubuh Freya di atas ranjang yang berukuran dua kali lipat dari ukuran king size. Dengan berspreikan kain sutra berwarna putih dan ranjang yang super lembut membuat Freya semakin menggeliat seperti seekor cacing yang kepanasan.


Melihat keadaan Freya yang semakin memprihatinkan membuat Akram tidak bisa berdiam diri, dengan segera ia melakukan sesuatu terhadap Freya agar mengurangi rasa panas di tubuhnya.


Dengan tubuh yang terasa remuk redam membuat Freya yang masih berada di bawah selimut membuatnya enggan untuk bangkit. Ia masih menikmati ranjang yang begitu empuk dan lembut yang baru ia rasakan.


Dengan mengumpulkan sisa - sisa nyawanya yang belum terkumpul seutuhnya membuat Freya meregangkan seluruh oto - otot tubuhnya.


Dengan menguap yang lebar, ia berusaha mengumpulkan potongan - potongan memorinya yang merekam kejadian kemarin malam.


" Ah....mimpi yang sangat indah! Bisa - bisanya aku memimpikan berada dalam gendongan tuan Akram ! Sampai - sampai aku bisa mendengar jelas suaranya kemarin malam. Ah seperti kenyataan saja." Gumam Freya yang masih terlena akan kenyamanan ranjang yang ia rasakan.


" Kau sudah bangun?" Sebuah suara terdengar tidak asing di telinganya sontak membuyarkan lamunan Freya.


Setelah mengetahui pemilik dari suara tersebut membuat Freya terlonjak dari posisi tidurnya.


Ctakkkk, sebuah sentilan mendarat sempurna di dahi Freya.


" Auwww, sakit tuan!" Teriak Freya dengan mengusap - usap dahinya yang terasa panas.


" Sadarlah ! Cepat sarapan." Ucap Akram meninggalkan kamar dan meletakkan sebuah paper bag berwarna coklat di atas ranjang.


" Bersihkan badanmu terlebih dahulu dan itu adalah pakaian ganti mu!" Ucapnya dengan menunjuk paper bag.


Dengan mengumpulkan kesadaran Freya dengan sepenuhnya membuat Freya langsung berdiri dari duduknya.


" Kyaaaaa, ternyata ini bukan kamarku?" Pekik Freya setelah mengamati dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar hotel. Kamar yang didominasi warna emas, dan dilengkapi dengan furnitur premium. Di dalam kamar terdapat dua zona yang memisahkan area istirahat dan hiburan. Kamar tidur utama yang memiliki ukuran ranjang dua kali lipat dari ranjang king size. Dengan fasilitas kamar mandi yang tak kalah spektakuler dengan di lengkapi Jacuzzi, sauna, private massage room, shower Sherle Wagner berlapis emas 24 karat, toilet Neorest dan amenitas kamar mandi super mewah. Lokasinya yang berada di lantai paling atas hotel juga memberikan keuntungan tersendiri dalam menikmati panorama laut dan pantai yang spektakuler.


" Wah! Benar - benar kamar hotel presidential suite deh! Kamar mandinya saja showernya di lapisi dengan emas 24 karat. Ck .ck..ckk." Gumamnya


" Pantas saja harga untuk menginap di kamar ini bisa membuat semua kantong koyak terutama bagi karyawan seperti aku ini." Ucap Freya.

__ADS_1


" Eh....tunggu!..Arggggggggggggh" teriak Freya kuat setelah menyadari ada yang salah dengan dirinya. Dengan meraba - raba tubuhnya hingga ke bagian femininmya membuat Freya semakin histeris.


Potongan - potongan ingatannya pada kemarin malam terus muncul dalam benaknya.


Tok...tok...tok....mendengar suara teriakan yang cukup keras membuat Akram menghampiri kamar mandi.


" Kau baik - baik saja?" Tanya Akram.


" Iya...saya tidak apa - apa tuan!" Balas Freya.


" Cepatlah!" Titah Akram meninggalkan kamar mandi.


" Hosh....hosh....apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku bisa satu kamar dengan tuan Akram? Apa kami telah melakukannya? Argggggg benar - benar tidak bisa di percaya. Bagaimana aku bisa menemuinya dengan keadaan seperti ini? Untuk memastikannya aku harus bertanya langsung padanya." Oceh Freya dengan melihat pantulan bayangannya dari cermin.


Kriekkkk.... Dengan pikiran yang tak tenang Freya memaksakan langkahnya untuk menghampiri Akram di ruang makan. Dengan balutan dress berwarna hijau botol sampai ke lutut dengan kerah jas dan sebuah tali pinggang membuat Freya terlihat sangat cantik.


" Makanlah!" Titah Akram melihat Freya masih mematung di depannya.


" Baik tuan!" Ucap Freya tidak dapat membantah.


Suasana di meja makan terasa canggung dan hening. Tak ada suara yang keluar dari mereka hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.


" Kau sudah merasa baikan?" Tanya Akram setelah ia menghabiskan makanannya.


" Suda..ah tuan!"


" Baguslah!"


" Ada yang terjadi di antara kita kemarin malam tuan?" Tanya Freya penasaran meskipun ia malu untuk bertanya.


" Kau tidak ingat?"


" Iya tuan?"


"Ahh....sayang sekali! Aku terpaksa melakukannya karena melihat dirimu seperti seekor cacing kepanasan yang terus menggeliat dan menempel." Jelas Akram.


" Kyaaaaa...benar kah kita melakukannya?" Tanya Freya dengan hati yang begitu kecewa.

__ADS_1


" Ehmmm...."


" Upssssss, benarkah itu!!! Arghhhhh!" Pekik Freya tidak percaya akan perbuatannya yang sudah melewati batas.


__ADS_2