Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 41 Hal yang tak Terduga


__ADS_3

" Halo Sayang!" sambut nyonya Aksara melihat kedatangan Freya dengan pelukan dan cium pipi kanan dan kiri.


" Halo Ma! Apa kabar?" balas Freya.


" Tidak baik!"


" Mama sakit?"


" Mama kesepian, tidak bisa jalan - jalan dan menghabiskan waktu luang!" ucap nyonya Aksara dengan nada sedih.


" Ah,, kenapa mama tidak menghubungi ku jika mama ingin menghabiskan waktu."


" Ah kurang seru, mama ingin seorang cucu! cucu yang gemes dan lucu." ucap Mama berharap.


" Uhuk - uhuk...." Spontan Freya tersedak oleh minumannya sendiri saat mendengar kata cucu dari wanita yang menerimanya tanpa syarat.


" Kau baik - baik saja?" tanya nyonya Aksara sedikit khawatir melihat wajah Freya yang terlihat pucat dan menyodorkan segelas air putih.


" Ehm,, terima kasih Ma!"


" Yang benar aja, memberikan seorang cucu! ah kami hanya suami isteri kontrak nyonya! tidak mungkin kami bisa memberikan seorang cucu. Ah bagaimana kecewanya nyonya ini jika mengetahui kami hanya pasangan bohongan." ucap Freya dalam hati dengan perasaan rasa bersalah.


" Baiklah! jangan terlalu di pikirkan, sekarang ayo kita makan." ajak nyonya Aksara setelah makanan telah di hidangkan di meja mereka.


" Iya Ma!" ucap Freya canggung.


Setelah menyantap makan siang mereka, nyonya Aksara pun menunjukkan sebuah foto yang terlihat sudah usang tapi tetap terawat.


" Apa kau pernah melihat kalung liontin ini?" tanya nyonya Aksara sengaja memancing Freya.


Dengan mata yang membelalak, degub jantung yang tiba - tiba berdetak kencang membuat wajah Freya langsung berubah pucat pasih dengan tubuh yang gemetar.


" I...ni..." raih Freya dengan tangan yang gemetar.


" Ya, itu merupakan kalung warisan keluarga Ghazalan yang di turun - menurunkan kepada anak laki - laki keluarga Ghazalan. Dan kau tahu kalung itu tinggal satu - satunya yang tersisa di dunia ini. Kalung itu merupakan kalung yang menjadi simbol dari kekuasaan dari keluarga besar yang masih bertahan. Saat Akram berusia setahun, kalung tersebut sudah di wariskan kepadanya." Jelas nyonya Aksara.


" Dan mama berharap, kalung ini nantinya dapat di wariskan kepada anaknya Akram." ucap nyonya Aksara.


" Begitu ya Ma! kami juga masih berusaha Ma! lagipula usia pernikahan kami baru beberapa bulan." Bela Freya.


" Ya semoga kalian segera memberi kabar gembira untuk mama. Baiklah! terima kasih kau sudah menyempatkan waktumu menemani mama makan siang!" ucap mama.


" Iya ma. Freya juga senang bisa menemani mama, mama jangan sungkan untuk menghubungi Freya. Freya selalu siaga untuk mama." ujar Freya.


" Baiklah! terima kasih Frey! mama pergi dulu ya!" pamit nyonya Aksara


" Hati - hati Ma!" balas Freya yang di sambut sebuah senyuman nyonya Aksara.


" Huuufffttttt, ya Allah kenapa bisa jadi seperti ini, bagaimana caranya coba, memberikan seorang cucu dari pernikahan kontrak ini. Ah, aku pikir aku ketahuan kalau aku hanya isteri kontrak tuan Akram." keluh Freya.

__ADS_1


" Sudahlah! aku harus balik ke kantor, tinggal janjian bertemu dengan Dara. Apa lagi yang akan ia bahas." sambungnya bersiap - siap meninggalkan restoran.


" Apa? mama menemui Freya?" tanya Akram saat Dafi asistennya memberi laporan yang memang belakangan ini ia menugaskan orangnya untuk mengawasi Freya.


" Benar tuan! nyonya besar membahas tentang seorang cucu dan juga kalung liontin." jelas Dafi.


" cucu dan kalung liontin? Kenapa mama membahas itu?" tanya Akram merasa ada yang mengganjal dari pertemuan mamanya dengan isteri kontraknya.


" Maaf tuan kalau saya lancang! saya menduga bahwa nyonya besar mengetahui sesuatu. Di lihat dari kebiasaan nyonya yang tidak biasa menghabiskan waktunya dengan sia - sia apalagi mengajak nona Freya untuk bertemu bukankah itu suatu hal yang perlu di perhatikan?" ucap Dafi mengemukakan pendapatnya.


" Ya kau benar! aku juga sependapat denganmu! terus kau awasi wanita itu. Aku juga akan mengumpulkan bukti - bukti lainnya." ucap Akram


" Ohya tuan! ini adalah data - data pasien yang menjadi korban saat kebakaran di panti 15 tahun yang lalu." ujar Dafi menyerahkan sebuah amplop coklat.


" Terima kasih!" ucap Akram menerima amplop tersebut.


Dengan teliti Akram memperhatikan halaman tiap halaman yang menerangkan kondisi kesehatan para korban kebakaran dengan seksama.


Di antara para korban yang mengalami luka hampir semuanya luka ringan, namun ada seorang gadis kecil yang mengalami cukup serius di bagian lengan kanannya yang telah mengalami luka bakar 60 persen. Dan ia juga mengalami koma selama tiga hari.


Di sebutkan bahwa, gadis kecil tersebut mendapat luka bakar saat menolong seorang anak laki - laki dari salah satu keluarga donatur.


" Freya Grizelle Atmajaya? Cleona Keshwari Andara kedua gadis kecil ini merupakan korban dari kebakaran panti, yang mengalami koma ternyata wanita itu?Aahhhh....benar - benar mengejutkan! lalu bagaimana penyelidikanmu tentang Cleona?" tanya Akram.


" Ini tuan! semua data - datanya ada di sini!" ujar Dafi juga menyerahkan beberapa lembar dokumen mengenai keterangan Cleona.


Satu persatu Akram membaca laporan yang tertulis pada kertas tersebut. Dengan rahang yang terlihat mengetat sempurna membuat Akram meremas kertas yang ia genggam.


" Apa yang harus saya lakukan tuan!" tanya Dafi.


" kau urus tuan William, aku akan menangani langsung wanita tersebut!" titah Akram.


" Baik tuan! akan saya laksanakan." jawab Dafi dengan menundukkan sedikit tubuhnya.


" Pergilah! kau urus sisanya, aku akan pulang " pamit Akram.


" Baik tuan!" ucap Dafi.


" Aah....kenapa aku bisa ceroboh begini! bisa - bisanya di tipu selama dua tahun ini. Dan takdir telah mempermainkan aku, gadis kecil yang sebenarnya tanpa di sengaja telah hadir di dalam hidupku." gumam Akram menyandarkan tubuhnya di kursi.


" Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu Cleona." sambungnya sambil meneguk habis minumannya.


Dengan penuh keringat yang telah membasahi dahi dan punggungnya, Freya terus berjalan cepat agar tidak terlambat untuk menemui Dara. Di kota yang besar saat jam pulang kerja akan jalan raya akan di padati oleh berbagai macam kendaraan yang melaju. Hanya tinggal beberapa meter lagi, ojol yang menjadi langganan Freya juga tak luput dari kemacetan yang menjebaknya.


Untuk menghemat waktu, ia pun harus turun dan melanjutkan berjalan kaki menuju kafe yang sudah di janjikan.


" Hosh ..hosh...hosh...." dengan nafas yang masih saling kejar - kejaran membuat Freya harus mengatur ulang nafasnya saat sudah tiba di depan pintu masuk kafe.


Ia pun merapikan kembali pakaian dan rambutnya serta menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.

__ADS_1


Dengan langkah yang tenang, Freya berjalan masuk ke dalam. Dengan menyapu di segala sudut ruangan, Freya mencari keberadaan Dara.


" Aku di sini!" teriak seorang wanita yang duduk di sudut ruangan dengan rambut terurai yang di balut dress selutut dengan melambaikan tangannya.


" Ah, hai!" balas Freya dengan melambaikan tangannya juga.


" Maaf, terlambat! kejebak macet." ucap Freya.


" Tidak masalah! kau mau pesan apa?" tanya Cleona.


" Hot Milk chocolate dan roti bakar coklat." ucap Freya.


" Baiklah!" balas Cleona memesankan pesanan mereka kepada pelayan kafe.


Suasana di meja mereka terasa canggung setelah 15 tahun mereka bertemu untuk yang kedua kalinya.


" Maaf untuk yang waktu itu!" ucap Cleona menyesal.


" Tidak masalah, aku tahu kau pasti ada alasannya." ucap Freya berusaha menenangkan dirinya dengan menikmati sepotong roti.


" Aku tahu kau pasti mengerti. Kau tidak berubah sama sekali tetap Freya yang dulu." ucap Cleona tulus.


" Ehm,, kau juga begitu! aku masih melihatmu sebagai Dara yang dulu. Mungkin karena suatu keadaan yang membuatmu menutupi dirimu yang sesungguhnya." jelas Freya.


" Ah, itu biarlah menjadi urusanku. Sekarang aku membutuhkan bantuan mu!" ucap Cleona to the point.


" Apa yang bisa ku bantu?" tanya Freya.


" Pinjamkan aku kalung liontin mu!" ucap Cleona.


Mendengar perkataan Cleona yang langsung pada intinya membuat Freya merasa ada yang tidak beres pada sahabatnya 15 tahun yang lalu.


" Kalung liontin? kenapa kau berpikiran kalau kalung itu masih ada sama ku?" tanya Freya menelisik menatap wajah Cleona.


" Hanya ku pinjam tidak ku jual! aku yakin kalung tersebut adalah kalung yang sangat berharga bagi mu." ucap Cleona.


" Maaf Dara! kau sudah tahu arti kalung itu bukan! dan kau juga pasti tahu apa jawabanku." tegas Freya.


" Aku tidak apa alasan mu meminjam kalung itu, tapi setelah 15 tahun kita tidak pernah bertemu tapi kau malah langsung menanyakan kalung itu? apa ini ada hubungannya dengan peristiwa kebakaran itu?" tanya Freya.


Deg....perkataan Freya telah membuat rencana tersembunyi dirinya telah terbongkar. Cleona tidak bisa berkata - kata lagi.


" Kenapa diam? apa itu ucapan ku benar?" tanya Freya lagi.


" Itu benar!" jawab seorang pria yang berada tidak jauh dari meja mereka yang langsung memotong ucapan Freya.


Kedua mata Freya dan Cleona sontak membulat sempurna saat mengetahui pemilik suara tersebut yang sudah berdiri di belakang mereka.


" Kau...."

__ADS_1


" Anda..."


ucap mereka serentak dengan raut wajah yang begitu terkejut.


__ADS_2