
Melihat sang CEO pergi begitu saja, membuat mereka terperangah dan menjadi kaku.
“ Rencana kalian sudah bagus. Hanya ada sedikit yang harus di perbaiki di bagian promosinya.” Ucap Dafi selaku penanggung jawab.
“ Terima kasih Tuan, kami akan lebih berusaha keras lagi agar menjadi lebih baik dan memuaskan.” Seru Gio.
“ Dan kau! Terus lah berusaha menjadi lebih baik.” Ucap Dafi yang di tujukan kepada Freya dan menyusul Akram keluar ruangan.
“ Baik tuan!” ujar Freya menundukkan kepalanya.
“ Baiklah pak Gio dan nona Freya, untuk pertemuan selanjutnya akan kita adakan 2 minggu ke depan, semoga tuan Akram menyukai presentasi kalian yang baru.” Ujar pak Agra mengakhiri pertemuan mereka sambil berjabat tangan.
“ Terima kasih pak Agra, kami akan lebih berusaha lagi.” Balas Gio
“ Sampai jumpa!” pamit pak Agra yang hanya dibalas anggukan kepala dengan tubuh sedikit membungkuk oleh Gio dan Freya.
“ Kerja bagus! Kau boleh pulang lebih awal. Untuk bahan berikutnya, saya yakin kau pasti bisa.” Ucap Gio.
“ Baik pak. Terima kasih masih mempercayai saya.” Jawab Freya.
“ Ehm... Ayo kita keluar!”
“ Bapak duluan saja, masih ada yang ingin saya lakukan.”
Melihat Freya hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap langsung wajah Gio membuat hati kecilnya seperti tersayat silet. Gio jelas melihat raut kesedihan yang masih terlihat jelas olehnya . Tapi karena ego nya , ia menepis rasa tersebut.
“ Maaf.” Gumam Gio berlalu meninggalkan Freya.
“ Maafmu tidak berlaku Gio. Dasar brengsek.” Rutuk Freya yang masih mendengar ucapan Gio.
Freya melihat arloji di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan ke angka 15.16.
“ Masih jam segini, ah lumayan bisa pulang lebih cepat! Aku harus mengabari Darren agar ia langsung ke rumah sakit saja.
Tuutt...tuutttt....
“ Ehm..bagaimana pertemuannya?” tanya Darren dari seberang telepon.
“ cukup bagus meski ada hambatan sedikit tapi aku bisa mengatasinya.”
“ Syukurlah, aku tahu kau pasti bisa. Sekarang kau sudah makan?”
“ Belum, ini mau cari makanan sekalian menuju ke rumah sakit. Kita bertemu di sana saja.”
“ Ehm baiklah! Apa kau pulang lebih cepat?”
“ Benar, pak Gio mengizinkan aku pulang lebih cepat. Dah! Aku mau menikmati waktu ku.”
__ADS_1
“ dasar kau ya! Ok sampai jumpa nanti.”
“ Ehm.”
Tut....
“ Ternyata begini kelakuanmu di luar?” tanya seseorang dengan suara yang datar.
“ Ah! Tuan. Terserah apa yang anda pikirkan tentang saya, yang penting tidak merugikan anda. Dan satu lagi, saya akan pulang telat! Saya permisi tuan!” ucap Freya dengan sedikit kesal.
“ Kau....” wajah Akram memerah menahan kekesalan yang membantah ucapannya.
“ Ohya, terima kasih anda sudah memberikan saya pinjaman.” Pamit Freya berlalu melewati Akram dengan wajah yang sulit dimengerti.
Melihat keberanian Freya yang tidak menganggap penilaiannya buruk di matanya, entah mengapa membuat Akram begitu kesal telah di abaikan.
“ Dafi, kau periksa untuk apa uang itu.”
“ Baik Tuan.”
Dengan langkah yang panjang, Freya merutuki dirinya dengan situasi yang ia hadapi hari ini.
“ Ah sial sekali sih hari ini! Tapi kau harus semangat Freya, apapun yang terjadi padamu tidak ada apa – apanya bila di banding dengan adik – adikmu yang ada di panti. Terutama untuk Ezra, kau harus memprioritaskan kesembuhannya. Semangat!” ujar Freya menyemangati dirinya.
Sebelum ke rumah sakit, Freya membeli makanan untuk dirinya dan bunda Syifa.
“ Bagaimana dengan keadaan ibu saya dok?” tanya seorang wanita muda berambut panjang dengan di balut dress selutut berwarna hitam.
“ Apa tidak ada cara lain dok? Untuk pemulihan kesadarannya?”
“ Maaf! Tubuhnya sudah lelah!”
“ Huft....terima kasih dok!”
“ Anda harus melunasi tunggakan rumah sakit ini nona!”
“ Baik Dok!”
“ Ah, maafkan aku Bu! Tidak bisa berbuat apa – apa untuk ibu? Aku sudah lelah dengan kelakuan pria itu? Aku akan berusaha mencari biaya meski tanpa bantuannya.” Seru wanita muda tersebut dengan menitikkan airmatanya.
“ Freya! Maafkan aku, dan terima kasih kau sudah menyelamatkan aku. Semoga kau cepat sembuh dan aku berjanji akan sering mengunjungimu.” Ucap Dara kepada sahabatnya yang masih koma setelah kejadian kebakaran beberapa hari yang lalu.
“ Kau jagalah dia!” lanjutnya kepada anak laki – laki yang seumuran dengannya.
“ Ayo sayang! Kita harus berangkat sekarang agar kita tidak ketinggalan pesawat.” Ucap wanita berumur 30 tahun yang merupakan orangtua adopsi Dara.
Semoga kau betah dan mendapat teman baru di lingkungan dan keluarga baru mu nak! Bunda akan selalu mendoakanmu!” ucap bunda Syifa.
“ Terima kasih bun! Dara akan selalu ingat pesan – pesan bunda. Dan ini kalau Freya telah sadar tolong berikan padanya.” Pinta Dara yang langsung memeluk bunda Syifa dengan isakan tangisnya.
“ Awas kalau kau melupakan kami ya!” ancam anak laki – laki tersebut.
__ADS_1
“ Kau jangan khawatir Darren, nah aku juga punya sesuatu untukmu! Tolong kau tetap berada di sisi Freya setelah kepergianku agar ia tidak bersedih.” Pinta Dara sambil menyerahkan sebuah kotak kecil ke tangan Darren.
“ Kau tenang saja! Pergi lah, kau juga harus mendapat teman baru di sana ya!” titah Darren.
“ Ehm.....”
Keluarga baru Dara pun berpamitan meninggalkan Rumah sakit tempat Freya di rawat.
“ Freya.” Wanita tersebut tersentak dari mimpinya.
“ Ah! Ternyata hanya mimpi.” Ucap wanita
tersebut tidak lain adalah Dara atau Cleona Andara Keshwari
“ Assalamualaikum Bun! bagaimana rencana operasinya?” sapa Freya setelah mereka berada di taman rumah sakit.
“ Kau baik – baik saja Nak!” tanya bunda Syifa.
“ Kenapa bunda bertanya seperti itu? Sekarang yang utama Ezra harus bisa mendapatkan transplantasi jantung itu bun.”
“ Terima kasih nak! Bunda sudah konsultasi dengan dokter, besok Ezra akan di rujuk ke rumah sakit khusus penyakit Jantung, setelah menyelesaikan administrasinya mereka akan segera mungkin mengadakan operasinya jika keadaan Ezra tetap stabil.” Jelas Bunda.
“ Alhamdulillah, syukurlah bun. semoga Allah memperlancar dan mempermudah operasinya.”
“ Amin... lalu uang itu?"
“ Ah, bunda jangan mengkhawatirkannya, Freya mendapat pinjaman dari perusahaan, dari tabungan – tabungan Freya dan tabungan Darren selama ini di tambah Freya menjual apartemen Freya dan memilih tempat tinggal yang sederhana saja.” Bohong Freya.
“’ Ah, sampai segitunya kau!” isak bunda Syifa.
“ Sudahlah bun, sekarang bunda fokus menjaga kesehatan bunda agar tetap menemani Ezra selama massa perawatan.” Ucap Freya memeluk bunda untuk menenangkannya.
Bunda Syifa tidak dapat menahan tangisnya, di dalam pelukan Freya ia menumpahkan segala beban yang selama ini ia tanggung sendiri.
“ Apa aku ketinggalan?” tanya seorang pria.
“ Darren? Kenapa lama sekali kau datangnya?” omel Freya
“ Maaf, aku harus mengerjakan pekerjaan karyawan yang pulang lebih cepat.” Sindir Darren.
“ Apa sih! Aku juga baru selesai mengerjakan pekerjaanku ya!” oceh Freya tidak terima.
“ Sudah! Ini di rumah sakit jaga ketenangan kalian.” tegur bunda Syifa menengahi perdebatan anak asuhnya.
“ Maaf bun!” ucap mereka serentak.
“ Ayo kita masuk ke dalam!” ajak bunda Syifa.
“ Ehm...”
__ADS_1
Mereka pun menggandeng lengan kanan dan kiri bunda Syifa menuju kamar rawat Ezra.