Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 66 Pelepasan Gio


__ADS_3

" Ah Frey! Tunggu!" Panggil Arsy namun Freya tidak mendengar panggilannya. Dengan langkah kesal Arsy menyusul Freya ke pantry.


Saat Arsy hendak memanggil Freya namun suaranya tertahan melihat Gio telah memanggil Freya terlebih dahulu.


" Pak Gio!" Gumam Arsy


Merasa ada yang aneh, Arsy melihat dari balik tembok dan menguping pembicaraan mereka.


Betapa terkejutnya, Arsy mendengar penuturan Gio yang menyatakan penyesalan telah menyakiti hati Freya.


" Apa maksudnya? Jangan bilang mereka memiliki hubungan yang spesial? Apa mungkin selama ini kekasih pak Gio adalah Freya dan bukan bu Agni?" Tebak Arsy melihat situasi dan suasana yang terlihat begitu serius.


" Frey!" Panggil Gio.


Dengan menarik nafas dalam, Freya menguatkan hatinya di hadapan Gio dan membalikkan tubuhnya menghadap Gio.


" Syukurlah jika kau telah menyadari semua perbuatanmu! Ku harap kau maupun aku mulai sekarang membuka lembaran baru untuk kebaikan kita berdua." Ucap Freya berlalu meninggalkan Gio yang masih mematung di posisinya.


" Frey!" Panggil Gio meskipun Freya sudah pergi.


" Ku harap kau dapat memaafkan ku! Dan hiduplah dengan bahagia bersama pria pilihanmu!" Sambungnya.


" Ah, maaf tidak ada es batunya jadi aku tidak membuat Teh manis dinginnya!" Seru Freya kembali ke mejanya.


" Yaaah, sayang sekali!" Ucap Cakra.


" Jangan khawatir, biar aku pesan saja." Ucap Arsy yang masih tidak tenang melihat Freya yang berusaha sekuat hatinya menutupi luka yang dalam.


" Dasar kau Frey! Bisa - bisa nya kau menyembunyikan luka mu yang sangat dalam sendirian." Ucap Arsy dalam hati.


" Frey! Kau baik - baik saja?" Tanya Darren yang sedari tadi memperhatikan Freya yang terlihat sedikit pucat.


" Iya, jangan khawatir." Ucap Freya.


" Baiklah! Ayo kita makan sekarang!" Ajak Cakra yang sudah menenteng dua kantong plastik yang berisikan makanan pesanan mereka.


" Frey? Kenapa gak dihabiskan?" Tanya Arsy.


" Udah kenyang!lagi gak nafsu!" Jelas Freya.


" Kau sakit?" Tanya Cakra


" Gak! Hanya kepikiran untuk acara produk kita besok malam." Jelas Freya.


" Oh, tenanglah ada kita semua di sini." Ucap Cakra.


" Iya benar! Jadi kau jangan merasa sendirian menghadapinya." Timpal Arsy.


" Terima kasih!" Ucap Freya.

__ADS_1


" Hoaaaammmm..! Akhirnya selesai juga, meskipun lembur tapi kita tidak sampai menginap di kantor. Ah, punggungku membutuhkan kehangatan ranjang." Ucap Cakra meregangkan otot - ototnya sembari melirik jam yang menempel di dinding.


" Untunglah kita cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Sekarang ayo kita pulang!" Ucap Darren sambil membereskan mejanya.


" Syukurlah!" Puji Freya merasa lega tidak sampai menginap di kantor.


" Baiklah! Sampai jumpa besok guys!" Ucap Cakra setelah mereka berempat telah tiba di pintu keluar kantor.


" Iya! Eh apa pak Gio masih ada di ruangannya? Sedari tadi aku tidak melihat beliau keluar dari ruangannya." Ucap Arsy saat teringat dengan ketua tim mereka.


" Benar juga! Ah mungkin saja dia menginap di kantor. Yok kita pulang saja ya g penting pekerjaan kita sudah selesai." Ujar Cakra.


" Kau butuh tumpangan?" Tanya Darren


" Tidak terima kasih! Aku sudah menghubungi ojol langgananku." Ucap Freya


" Baiklah! Jaga kesehatanmu! Karena besok kau harus terlihat fit dalam mempresentasikannya." Ucap Darren mengingatkan layaknya seorang kakak.


" Iya. Kau jangan khawatir. Dah! Aku duluan ya, ojol ku akan segera datang!" Pamit Freya melambaikan tangannya.


" Dah." Ucap Arsy dan Cakra yang berjalan bersama menuju mobil Cakra.


" Terima kasih mas! Meskipun sudah larut begini anda masih tetap bersedia mengantar saya!" Ucap Freya kepada ojol langganannya sembari memberikan selembar uang berwarna merah.


" Ah, kembaliannya ambil saja mas! Itung - itung uang lembur!" Sambungnya.


" Terima kasih banyak non, saya juga berterima kasih sudah memakai jasa saya selama tiga tahun. Pokoknya mau jam berapa pun nona membutuhkan saya, saya bersedia untuk mengantar nona." Ucap kang ojol.


Dengan langkah yang panjang, Freya bergegas berjalan menuju lift yang menghubungkan langsung ke unit apartemen Akram.


" Ku harap tuan Akram baik - baik saja." Gumam Freya mengkhawatirkan kondisi Akram.


Tringgg,,, ceklek..... Dengan mengendap - endap Freya berjalan menuju ke kamarnya. Saat melewati ruapng kerja Akram, langkah Freya ia seret menuju ruang kerja Akram.


" Pintunya tertutup rapat! Apa sudah tidur ya?" Gumam Freya saat mengintip dari lobang kunci pintu.


" Sedang apa kau di sana hah?" Tegur Akram saat berada di bawah tangga.


" Ah tuan! Saya hanya ingin memastikan keadaan anda!" Ucap Freya


" Kenapa? Kau mengkhawatirkan aku?" Ucap Akram melangkah mendekati Freya.


" Anu...saya merasa tidak enak saja, seseorang yang tinggal dengan saya masa iya bisa sampai sakit." Ujar Freya.


" Ehm....sampai kau tidak menginap?" Tanya Akram.


" Karena pekerjaan kami cepat selesai jadi kami memutuskan pulang ya meski pun sudah sangat larut sih!" Ucap Freya dengan di iringi sebuah cengiran.


" Apa kau tidak memikirkan keselamatanmu hah! Kalau memang bisa pulang kenapa tidak menelpon ku?" Ucap Akram.

__ADS_1


" Hah! Kalau masalah itu, saya tidak khawatir tuan! Kan ada ojol langganan saya!" Jawab Freya.


" Meskipun langganan seharusnya kau lihat situasinya dan dia juga seorang pria bukan!" Ucap Akram.


" Maaf tuan! Selama dia jadi langganan ojol saya selama dua tahun dia tetap seorang pria." Jelas Freya.


" Tetap saja! Mulai sekarang jika ini terulang kembali kau harus menelepon ku bukan pria lain." Pekik Akram.


Freya kehabisan kata untuk menjawab perkataan Akram yang terlihat memiliki makna penuh dengan kekhawatiran.


" Kenapa kau diam saja?" Tanya Akram menatap tajam ke arah bola mata Freya.


" Maaf tuan! Bagaimana caranya saya menelepon anda sementara saya tidak memiliki nomor anda." Ucap Freya pelan.


" Ckk, dasar kau! Mana handphone mu?" Tanya Akram yang membenarkan ucapan Freya.


" Ini tuan!" Ujar Freya sambil menyerahkan handphonenya.


" Nah! Simpanlah nomor pribadiku, awas kalau kau menyebarkannya!" Ancam Freya.


" Ah, itu anda jangan khawatir! Tidak ada untungnya buat saya menyebarkan nomor anda!" Jawab Freya.


" Ohya, apa anda sudah membaik? Anda sudah makan?" Tanya Freya.


" Ehm...kau jangan khawatir! Aku sudah lebih baik!" Ucap Akram.


" Huuh, syukurlah! Baiklah tuan saya permisi untuk ke kamar!" Pamit Freya melangkah melewati Akram.


" Ohya, kenapa anda belum tidur?" Tanya Freya menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Akram.


" Aku haus! Minum di kamar kebetulan habis." Bohong Akram yang diam - diam juga mengkhawatirkan Freya yang belum pulang juga.


" Oh begitu ya! Saya pikir anda mengkhawatirkan saya!" Ceplos Freya


" Ckk.. percaya diri sekali kau!" Bantah Akram.


" Ah, maaf tuan apakah anda masih ingat saat anda sedikit kesal saat berkata jika kau pulang selarut ini lagi kau harus menelepon ku!" Jelas Freya mengingatkan kembali.


" Ah itu! Kamu mungkin salah dengar." Cebik Akram.


" Benarkah! Tapi sayangnya pendengaran saya masih bagus tuh!" Ucap Freya.


" Kau....!" Kesal Akram sampai kehabisan kata.


" Baiklah saya senang anda sudah lebih baik kalau begitu saya permisi ke atas. Semoga tidur anda nyenyak. Selamat malam!" Pamit Freya berlari kecil menuju kamarnya.


" Eh, tapi...." Akram tidak melanjutkan ucapannya


Karena bayangan Freya tidak terlihat lagi di posisinya.

__ADS_1


" Ckk...dasar!" Cebik Akram melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka 1.


" Dasar! Padahal sudah larut sekali tetap nekat untuk pulang!" Ujar Akram dengan senyuman yang tipis.


__ADS_2