Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 11 Dilema


__ADS_3

“ Dara?” Gumam Freya menatap bayangan sosok wanita yang telah menghilang masuk ke dalam lobi Rumah Sakit.



“ Hei! Kau baik – baik saja? Kenapa bengong di sana? Ayo masuk!” teriak Darren melihat Freya terpaku di posisinya.



“ Ah iya!” ucap Freya tersadar setelah mendengar teriakan Darren, ia pun bergegas berlari menuju mobil Darren.



“ Kau kenapa?” tanya Darren.



“ Tidak ada apa – apa, hanya saja aku seperti melihat bayangan Dara. Tadi ada seorang wanita muda yang tergesa – gesa sampai menabrak ku. Sekilas melihatnya, terintas di benakku itu adalah Dara.” Jelas Freya.



“ Mungkin perasaanmu saja! Hanya kebetulan mirip saja.” Ucap Darren.



“ Iya kau benar!” ujar Freya melihat handphonenya dan membuka media sosialnya.



“ Sampai jumpa besok Freya!” ujar Arsy keluar dari lobi perusahaan setelah jam kantor telah usai.



“ Dah!” jawab Freya membalas lambaian Arsy.


Ia pun berjalan menuju halte bus, angkutan umum yang selalu setia mengantarkannya saat pergi maupun pulang saat bekerja. Namun kali ini, ia harus sedikit lama di dalam bus karena melewati dua halte untuk menuju tempat tinggal barunya.



“ Kau butuh tumpangan?” sapa Darren saat melewati Freya yang sedang menunggu bus.



“ Ah terima kasih! arah rumah kita berlawanan, kau seperti tidak tahu aku saja. Sudah sana pulang!” tolak Freya secara halus ajakan Darren.



“ Baiklah! Hati – hati di jalan. Dah” ucap Darren melajukan mobilnya.



“ Ok...!” balas Freya.



“ Bisa gawat kalau Darren sampai tahu tempat tinggal baru ku. Mulai sekarang aku harus berhati – hati. Huft.” Gumam Freya melangkahkan kakinya memasuki bus yang sudah tiba.



“ Ezra membutuhkan donor jantung segera mungkin, agar kondisinya tidak terus menurun. Tetapi kita terkendala di biaya operasi transplantasi jantungnya. Itu membutuhkan biaya yang sangat besar.” Jelas bunda Syifa masih terngiang – ngiang di kepala Freya.



“ Kira – kira berapa biaya yang dibutuhkan bun?” tanya Freya



“ dokter bilang harus menyediakan lebih kurang 10 miliyar, untuk mendapat penanganan yang lebih cepat kita bisa memberikan uang mukanya sebesar 5 miliyar terlebih dahulu.”

__ADS_1


Jelas bunda Syifa dengan wajah yang sedih.


“ Ah! Uang sebanyak itu darimana di dapat dengan waktu yang singkat?” gumam Freya.



Freya masih terus berpikir bagaimana caranya ia mendapat uang tambahan lagi.



“ Kalau di kumpul – kumpul, tabunganku dengan tabungan Darren masih terkumpul 500 juta, sisanya mau cari kemana lagi.” Hela Freya menopang kepalanya dengan tangannya.



Hingga di pemberhentian di halte terakhir, Freya berjalan hingga ke basment apartemen yang langsung menuju lift dengan pikiran yang kosong.



Sampai di depan pintu apartemen, Freya masih mematung tanpa berniat menekan password pintu apartemen. Ia masih merasa asing dengan kehidupan barunya. Tinggal satu atap dengan seorang pria dengan ikatan pernikahan yang tidak di inginkan.



Bip..bipp...biipp.. pintu terbuka dengan di iringi langkah seseorang yang terdengar begitu nyaring dari sol sepatu.



“ Mau sampai kapan kau berdiri di sana hah....?” ucap Akram yang mendahului Freya masuk ke dalam.



Seketika Freya tersadar dari lamunannya dan dengan cepat ia pun mengikuti langkah Akram.



“ Maaf tuan!” ucap Freya menundukkan kepalanya.




“ Ah dasar! Tidak bisakah ia berbasa – basi sedikit kek! Tanya kabar gitu kek! Ah kau pun aneh Freya mengharapkan hal yang mustahil kepada pria tak berhati seperti itu.” Gumam Freya mempercepat langkahnya agar segera berendam di air hangat yang bisa membantunya menghilangkan rasa penat yang ada di hatinya.



“ Ah! Benar – benar enak ya jadi orang kaya, tinggal di apartemen mahal dengan fasilitas yang super lengkap membuat hidup menjadi tanpa masalah. Tapi tidak berlaku bagiku.” Gumam Freya saat tubuhnya sudah terendam penuh di bath up.



Saat berendam, tiba – tiba Freya mendapatkan sebuah ilham dengan memberikan sebuah jalan keluar yang dapat membantunya. Itu pun jika ia berhasil.



Dengan segera Freya keluar dari bath up dan bergegas menyiram tubuhnya di bawah shower untuk mengakhiri ritual mandinya.



“ Ah itu dia! Kenapa tidak ku coba saja! Kau harus bisa Freya demi operasi transplantasi jantung Ezra. Kau harus berhasil mendapatkan uang itu. Hanya dia yang bisa membantu ku. Kenapa baru terpikirkan sekarang olehku.” Ucap Freya girang.



Tanpa membuang waktu ia pun segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Akram.



Tetapi baru beberapa langkah, nyali Freya menciut membayangkan wajah sangar dari Akram yang memandangnya dengan tatapan tajam.


__ADS_1


“ Ah! Kenapa keberanianmu tiba – tiba menghilang begini sih! Dasar payah!” rutuk Freya yang mondar – mandir di depan kamar Akram.



Ceklek......pintu kamar Akram terbuka dan mucullah sosok Akram dengan memakai pakaian santainya dengan paduan kemeja putih yang melekat di tubuh atletisnya dengan membiarkan kancing bagian atas terbuka dengan bawahan celana jeans hitam.



“ Sedang apa kau di depan kamarku mondar – mandir seperti itu hah?” tegur Akram dengan suara baritonnya memperhatikan gerak – gerik Freya yang mencurigakan.



Freya sangat tertegun melihat sosok yang perlahan berjalan mendekati dirinya dengan wajah yang gugup.



“ Maaf tu..an! ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Freya dengan sekali nafas agar keberaniannya tidak hilang.



“ Tidak ada yang perlu di bicarakan, kau berpikir hubungan kita seperti itu?” tanya Akram dingin tanpa menghiraukan Freya Akram terus berjalan melewatinya begitu saja.



“ Tunggu Tuan! Saya mohon beri saya waktu 10 menit untuk berbicara dengan anda. Setelah itu saya janji tidak akan mengganggu anda lagi.” Mohon Freya dengan menundukkan kepalanya agar Akram dapat luluh melihat kesungguhan Freya.



“ Huft, baiklah 10 menit.” Ucap Akram dingin.


Beberapa detik Freya masih terdiam, ia sangat takut untuk mengutarakan maksudnya.



“ Ehemmm, waktumu tersisa 8 menit lagi.”



“ Ah, iya maaf tuan! Bolehkah saya meminta lebih dahulu uang bulanan saya selama dua tahun ke depan dan di tambah dengan uang kompensasi yang berlaku dalam surat kontrak itu?” ucap Freya dengan cepat karena merasa waktunya sudah menipis.



“ Hah.” Tatap Akram dengan memicingkan matanya.



Freya menaut – nautkan jari – jarinya dengan kepala tertunduk agar tetap mempertahankan keberaniannya saat berhadapan dengan manusia tembok yang ada di hadapannya.



“ Ternyata kau sama saja dengan yang lain langsung memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mendapatkan keuntungan.” Kata Akram sinis.



Deg......dengan menahan amarah Freya harus menekan perasaannya demi mendapatkan uang untuk adiknya bagaimana pun caranya meski harga dirinya jatuh di mata pria yang ada di depannya.



“ Apa jaminannya?” tanya nya.



“ Saya akan melakukan apa pun yang anda perintahkan dan selama dua tahun ke depan saya akan lebih berhati – hati agar pernikahan kontrak ini aman.” Seru Freya dengan wajah yang masih tertunduk.



“ Ini pembicaraan kita yang terakhir. Kau membuang waktu ku saja.” Cebik Akram berlalu begitu saja meninggalkan Freya.

__ADS_1


Bahu Freya berguncang hebat menahan isak tangis yang berusaha pecah. Freya berlari masuk ke kamarnya dan menumpahkan semua uneg – unegnya.


“ hiks....hiks.....maafkan kakak! Kakak tidak berhasil mendapatkan uangnya. Bertahanlah Ezra kakak akan berusaha mencarinya apapun caranya. Dasar payah!” gerutu Freya membaringkan tubuhnya ke ranjang menerawang jauh mengingat anak – anak panti lainnya.


__ADS_2