Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 79 Liburan Bulan Madu


__ADS_3

" Selamat pagi tuan dan nyonya?" Sapa Dafi saat Akram dan Freya keluar dari kamar rawat dengan berpakaian rapi.


" Ehm...."


" Nyonya?" Tanya Freya begitu asing mendengar Dafi memanggilnya dengan sebutan nyonya.


" Ada yang salah nyonya?" Tanya Dafi sudah menebak akan keterkejutan Freya setelah mendengar panggilan barunya.


" Tentu saja? Kenapa anda memanggil saya nyonya bukankah selama ini anda memanggil saya nona?" Tanya Freya ingin mengklarifikasi panggilan barunya.


" Mohon maaf karena saya sudah lancang! Mulai sekarang saya harus memanggil anda dengan sebutan nyonya muda atau nyonya Akram." Jelas Dafi sengaja membuat Freya semakin bingung.


" Ah, sudahlah tuan jangan bertele - tele langsung saja jawab?" Tanya Freya tidak sabar seperti sedang di permainkan.


" Mulai kemarin malam, anda sudah resmi menjadi isteri tuan Akram yang sesungguhnya dan beliau sudah membatalkan serta merobek membuang hingga tak tersisa sedikitpun surat kontrak pernikahan kalian." Jelas Dafi.


" Haaah... Benarkah?" Tanya Freya dengan melirik ke arah Akram, sedang kan yang di lirik hanya mengangkat kedua bahunya.


" Baiklah, sekarang kita harus berangkat ke bandara. Pesawat akan lepas landas dua jam lagi. Dan satu lagi, mohon anda jangan memanggil saya tuan lagi. Panggil saja saya Dafi." Terang Dafi.


" Tapi, saya merasa tidak enak jika hanya memanggil nama begitu saja secara anda kan empat tahun di atas saya!" Ucap Freya.


" Bagaimana kalau saya memanggil anda kakak?" Sambungnya.


" Jangan nyonya, saya tidak pantas menerimanya?" Tolak Dafi.


" Saya tidak perduli, suka - suka saya dong! Kan yang punya mulut saya." Ketus Freya.


" Ck....mau sampai kapan kalian berdebat begini hah..." Potong Akram yang tak tahan melihat ke kukuhan Freya.


" Ehmmm..." Dafi hanya menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal sambil melirik ke arah Akram.


Mengerti akan situasi yang di lihat dari wajah Dafi, Freya pun paham dengan kecanggungan Dafi pada Akram.


" Bagaimana tuan? Apakah saya boleh memanggilnya kakak?" Tanya Freya pada Akram dengan memasang wajah juteknya.


" Lalu panggilanku apa hah! Bukankah sekarang aku adalah suami mu." Cetus Akram yang merasa cemburu pada Dafi.


" Ahhh, benar juga! Kita belum membahas masalah itu ya." Cengir Freya.


" Ehm,, baiklah kalau itu masalahnya. Bolehkah aku memanggil sayang! Suamiku?" Ucap Freya yang langsung bergelayut manja di lengan Akram.


Blush.....seketika wajah Akram merona setelah mendengar panggilan sayang untuknya. Entah mengapa panggilan kali ini benar - benar membuatnya sangat senang. Padahal ini bukanlah yang pertama kalinya.


" Baiklah! Itu juga tidak buruk. Ckkk ternyata kau cepat sekali ya beradaptasi. Awas saja jika kau bersikap begini di depan pria lain." Cetus Akram.

__ADS_1


" Baiklah sayang!" Ucap Freya manja.


" Huft ... Ayo pergi." Ucap Akram yang berusaha keras menahan dirinya agar tidak menyerang Freya dengan melihat tingkah manjanya yang membuat Akram tidak sabar untuk melahapnya.


" Baik tuan!" Ucap Dafi mengikuti mereka dari belakang.


Sepanjang perjalanan, Freya masih bergelayut manja di lengan kekar Akram hingga menuju parkir. Freya sudah perduli dengan pandangan orang lain toh sekarang mereka sudah menjadi suami isteri yang sesungguhnya tanpa takut akan terikat kontrak yang akan merugikan dirinya.


" Eh.... Bukankah dia pemuda itu?" Tanya Freya melihat Zedan sedang mengobrol dengan Dafi.


" Siapa?" Tanya Akram.


" Pemuda yang ku rampas motornya sayang. Bolehkah aku menyapanya sebentar untuk mengucapkan terima kasih?" Tanya Freya untuk meminta izin pada suaminya untuk mengobrol dengan pria lain.


" Baiklah! Aku juga akan berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkanmu." Ucap Akram.


" Menyelamatkan ku?" Tanya Freya.


" Ya, dia yang berhasil menangkapmu saat kau jatuh pingsan." Jelas Akram yang sudah mengetahui semua informasi saat peristiwa kebakaran terjadi.


" Ah, begitu ya." Gumam Freya yang berjalan menghampiri Zedan dan Dafi.


" Selamat pagi tuan!" Sapa Freya


" Ah, syukurlah anda baik - baik saja nona. Saya merasa lega." Ucap Zedan.


" Isteri?" Tanya Zedan tidak percaya akan informasi yang baru ia dapat pasalnya file yang ia terima Freya masih berstatuskan masih lajang.


" Ah, apa aku kecolongan?" Ucap Zedan dalam hati.


" Benar? Kami sudah menikah selama hampir setahun." Jelas Akram memberi penekanan pada pemuda yang ada di hadapannya.


" Ah, kalau begitu selamat nona!" Ucap Zedan mengangkat tangannya untuk berjabat tangan namun hal itu tidak terjadi karena Akram langsung menepis tangannya dan merangkul Freya menjauhkan darinya.


" Ah maaf!" Ucap Zedan menarik kembali tangannya.


" Terima kasih tuan! Maaf saya kemarin tidak sempat mengucapkan terima kasih pada anda." Ucap Freya.


" Ehm tidak masalah, tapi bolehkah saya meminta sesuatu pada anda nona! Alih - alih mentraktir dengan kopi saya lebih penasaran dengan permintaan saya." Ucap Zedan tanpa sungkan dan acuh meski mendapat tatapan tajam dari Akram.


" Ehm, jika itu masih dalam batas kemampuan saya tidak masalah agar saya tidak merasa berutang budi pada anda." Ucap Freya yang tak luput dari tatapan Akram yang terlihat jelas tidak menyukai kesanggupan Freya.


" Baiklah! Tapi tidak sekarang! Panggil saja aku Zedan, mungkin anda lebih tua dari ku. Ini nomor kontakku. Ku harap kita bisa saling lebih dekat lagi." Jelas Zedan.


" Eh....bai..k!" Ucap Freya terbata ragu - ragu menerima sebuah kartu dari Zedan.

__ADS_1


" Baik lah! Semoga waktu anda menyenangkan tuan!" Ucap Zedan pada Akram yang sudah memahami ketidaksukaan Akram.


Akram tak bergeming untuk menjawab ucapan Zedan, dan langsung menarik tangan Freya untuk masuk ke mobil. Freya hanya menganggukkan kepalanya untuk berpamitan.


" Permisi tuan!" Sapa Dafi pada Zedan.


" Ckkkkk.....dasar!" Cebik Zedan setelah mobil Akram meninggalkan parkiran rumah sakit.


" Ah, aku semakin penasaran seperti apa kehidupan yang selama ini ia jalankan. Dia mirip sekali dengan mama. Ih gak kebayang gimana hebohnya mama jika bertemu secara langsung dengan anaknya yang selama 26 tahun terpisah. Ck..ck....ck..dramatis sekali." Gumam Zedan melajukan motornya mengelilingi jalan raya.


Setelah hampir dua jam menempuh perjalanan menuju pulau romantis yang telah di sediakan oleh nyonya Aksara, Freya dan Akram tiba di resort yang berada di pinggir pantai. Tempat menginap mereka selama seminggu di pulau romantis.


Mereka langsung di suguhkan oleh panorama hasil karya Tuhan yang sangat menakjubkan dengan hamparan air laut yang berwarna biru dengan menyentuh pasir putih yang lembut. Suara deru ombak yang saling kejar - kejaran seraya hidup bagai kan di surga.


" Kyaaaaaaaaaa..... Lauutttt....." Teriak Freya dengan lantang melawan suara angin yang bertiup cukup kencang.


" Benar - benar seperti di surga. Ahhh" ucap Freya.


" Kau menyukainya?"


" Tentu saja, ya alih - alih pergi ke pulau cinta selama 2 hari ini lebih sangat menakjubkan terutama pergi dengan seseorang yang spesial. Ah benar - benar nikmat yang tiada terkira." Ucap Freya dengan menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan - lahan.


" Ah syukurlah kau terlihat senang. Ternyata mama sangat peka." Ujar Akram.


" Ngomong - ngomong setelah di pikir - pikir, ada yang aneh dengan sikap mama." Gumam Freya menebak - nebak sikap mama mertuanya ada yang di sembunyikan.


" Kau sudah menyadarinya?" Tanya Akram yang sudah mengetahui perbuatan mamanya selama ini yang diam - diam ia lakukan di belakang Akram.


" Menyadari apa Yang?" Tanya Freya.


" Mama sudah mengetahui dari awal pernikahan kontrak kita dan mama lebih dahulu menyadarinya bahwa Cleona bukanlah gadis kecil yang pernah menyelamatkanku." Jelas Akram.


" Apa? Benarkah itu?" Tanya Freya sangat terkejut mendengar ucapan Akram yang baru ia ketahui.


" Ehm..."


" Tapi, kenapa mama bersikap seolah - olah tidak mengetahui apa - apa?" Ujar Freya.


" Karena akting mama tidak ada duanya, waspadalah dengan sikap tenangnya itu." Ucap Akram mengingatkan Freya..


" Haaa, begitu ya! Sekarang aku baru tahu dari mana anda mendapatkan sikap yang seperti itu." Seru Freya manggut - manggut.


" Sudahlah! Ayo kita makan siang setelah itu aku akan menemanimu untuk menjelajahi pulau ini." Potong Akram mengalihkan pembicaraan.


" Ehm, ide bagus! Dengan senang hati suamiku." Ucap Freya seraya mengangkat kedua tangannya ke atas kegirangan seperti anak kecil.

__ADS_1


Melihat tingkah isterinya yang terlihat imut, Akram pun senyum seringai dan menyusul isterinya ke dalam kamar resort mereka.


__ADS_2