
“ Hahahhahahaha....kau benar – benar membuat perut mama sakit Frey karena kebanyakan tertawa.” Gelak mama Aksara tak henti saat menantu dan mertua sedang mengobrol di gajebo taman belakang setelah selesai makan siang.
“ Benarkan Ma! Freya gak bohong lho. Meskipun baru seminggu kami menikah ternyata banyak tingkah absurd mas Akram yang tidak diketahui oleh orang lain.” Ucap Freya bohong agar meyakinkan mertua kontraknya keintiman hubungan mereka.
“ Ah kau benar sayang! Meskipun mama ibu kandungnya tapi hal – hal yang seperti itu bahkan mama tidak mengetahuinya. Namun seorang isteri lah yang sangat berperan penting dalam kehidupan rumah tangga. Sisi terburuk dari suaminya pun ia mengetahuinya. Ah..mama beruntung Akram mendaptakan seorang isteri seperti kamu Frey. Terima kasih!” ucap mama Aksara.
“ Iyaa Ma..” ucap Freya
“ Tapi maafkan saya nyonya, saya telah membuat kesalahan karena sudah membohongi anda yang benar – benar menerima saya apa adanya.” Sambung Freya dalam hati.
“ Ckkkk...dasar bunglon! Dengan mudahnya dia mengucapkan kehidupan rumah tangganya yang fiksi tersebut.” Cebik Akram pelan sambil melirik ke arah Freya yang masih terlihat bersemangat bersenda gurau dengan mertua kontraknya.
Tanpa di sadari, Freya juga melirik ke arah Akram yang membuat pandangan mereka bertemu sesaat. Melihat hal itu dengan wajah yang tenang, Freya melemparkan sebuah senyuman dan mengedipkan sebelah matanya.
“ Cih....bisa – bisanya ia tersenyum seperti itu!” cebik Akram langsung mengalihkan pandangannya ke arah danau buatan yang berada dalam taman.
“ Ah, mama benar – benar kagum padamu yang telah berhasil menjinakkan manusia es itu. Kau sering – seringlah mengunjungi mama ya! Meskipun Akram sibuk, kau bisa datang sendiri dengan di antar sopir. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu.” Ucap mama Aksara.
“ Baik Ma. Freya akan meluangkan waktu untuk mengunjungi mama.” Ujar Freya.
“ Janji ya! terlebih saat jadwal kegiatan amal di panti kau harus menemani mama untuk menghadirinya. Kau tidak keberatan kan?” tanya Mama berhati – hati agar tidak menyinggung perasaan Freya untuk menghadiri kegiatan yang terlihat membosankan bagi kalangan anak muda.
“ Tentu Ma, aku sangat senang bisa turut hadir dalam acara tersebut!” ucap Freya sangat antusias.
Drrttt....drtt....drtt.... ditengah asyik mengobrol handphone Freya terus berdering yang membuat suasana menjadi hening.
“ Kenapa tidak kau angkat?” tanya mama Aksara melihat Freya hanya melihatnya dan enggan untuk menjawab panggilan tersebut.
“ Ah, iya Ma. Aku permisi angkat telepon dulu.” Pamit Freya beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi gajebo.
“ Halo honey!”
“ Kau di mana beb? Kenapa apartemenmu tertutup rapat seperti tak berpenghuni sih!” omel Diandra kesal saat mengunjungi apartemen Freya yang sudah seminggu lebih ia tinggalkan.
“ Ah, kau ke apartemenku? Kenapa tidak memberitahukan aku sebelumnya?”
“ Maksudmu apa? bukankah selama ini aku tidak pernah menghubungi mu?”
“ Ah iya, tapi mulai sekarang kau harus memberitahuku honey.”
__ADS_1
“ Kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan” tanya Diandra penuh selidik.
“ Tidak, aku khawatir kau akan kecewa saat aku tidak ada di rumah! seperti saat ini, aku sedang keluar untuk membeli hadiah buat Ezra.” Bohong Freya.
“ Kau jangan bohong Frey! Kau tidak pandai berbohong. Cepat kau beri tahu aku apa yang sedang terjadi selama seminggu ini hah...?” tanya Diandra menginterogasi sahabatnya.
‘ Ahh, bagaimana ini? Selama ini aku tidak pernah merahasiakan apapun kepada Diandra, jika aku memberitahukannya bisa – bisa aku akan membayar uang pinalty nya dong! Sementara hutang ku pada tuan Akram saja belum lunas.’ Ucap Freya dalam hati dengan perasaan yang begitu kalut.
“ Halo beb, kau masih di sana? Kau baik – baik saja.” Tanya Diandra sedikit khawatir karena tidak ada suara.
“ Iya halo! Aku baik – baik saja honey.”
“ Kau yakin?”
“ Iya.”
“ Baiklah! Kalau begitu kita bertemu di rumah sakit saja. Ok!” ucap Diandra
“ Ah iya honey!"
“ Ok beb, aku juga akan membeli hadiah untuk Ezra. Dasar kau curang kenapa kau tidak mengajak aku malah pergi sendiri.” Omel Diandra.
“ Ehm, baiklah see you beb!”
“ Ehm..”
Klik panggilan telepon sudah terputus saat Freya menggeser tombol merah.
Seketika wajah Freya terlihat murung! Ia sudah berjanji akan menemani Ezra saat ia akan operasi. Sementara ia masih terjebak di dalam rumah utama suami kontraknya. Ia merasa tidak enak jika tiba – tiba meninggalkan nyonya Aksara begitu saja.
Dengan melihat arloji di lengannya berkali – kali membuat Freya frustasi dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul 14.00.
“ Ah, bagaimana ini? Apa alasanku agar bisa keluar dari sini?” gumam Freya mondar – mandir di posisinya.
Grab...sebuah tangan kekar menarik Freya berjalan menuju keluar taman. Melihat hal tersebut membuat mata Freya membulat.
“ eh tuan! Kenapa kita keluar? Saya kan belum pamit pada nyonya.” Bisik Freya saat tangannya di tarik begitu saja oleh Akram.
__ADS_1
Pandangannya tak henti – hentinya melihat ke arah gajebo tempat nyonya Aksara dan tuan Ghazalan duduk bersantai.
Dari kejauhan nyonya Aksara telihat tersenyum dan melambaikan tangannya. Seolah – olah mengerti akan permasalahan Freya.
“ Semoga berhasil!” teriak nyonya Aksara dari gajebo.
Meski sama – samar, Freya masih mendengar apa yang di ucapkan oleh nyonya Aksara.
Dengan senyuman Freya membalas lambaian nyonya Aksara. Dengan mengangkat tangan membentuk tanda ok.
“ Bukankah kita tidak sopan tuan, pergi begitu saja?” tanya Freya tidak mengerti akan sikap Akram.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Freya, Akram terus berjalan keluar dari rumah utama.
“ Masuklah!” titah Akram menyuruh Freya masuk ke mobil setelah membukakan pintu depan mobil.
“ Baik tuan!” ucap Freya tanpa membantah.
Melihat keseriusan di wajah Akram membuat nyali Freya menciut, ia menebak – nebak apakah ia telah membuat kesalahan? Ia merasa saat menerima telepon dari Diandra sikap Akram tiba – tiba berubah.
Akram terus melajukan kecepatan mobilnya menembus jalan raya yang cukup padat. Pandangannya fokus ke depan tanpa melirik ke arah Freya.
“ Ah suasananya horor banget sih! Kenapa wajahnya begitu dingin sih! Membuat orang tidak berani bersuara. Bahkan untuk bernafas saja takut.” Ucap Freya dalam hati.
Saat Akram memperhatikan ekspersi wajah Freya yang langsung berubah menjadi cemas, saat itulah ia berbicara pada mamanya.
“ Ah, aku melupakan janjiku Ma?” ucap Akram.
“ Janji? Ya sudah kau pergi saja, biar Freya nanti kau jemput lagi atau di antar supir.” Jawab mama Aksara.
“ Janji kami berdua, kami sudah membuat janji kepada dokter obgym untuk pemeriksaan rutin pasca menikah.” Bohong Akram agar dapat terlepas dari sang mama.
“ Benarkah? Kalian sudah sejauh itu menyiapkan untuk masa depan kalian. kalau begitu pergi lah kalian sekarang juga, jangan sampai terlambat. Mama sudah tidak sabar untuk mendengar hasilnya.” Ucap mama Aksara dengan mata yang berbinar.
“ Baiklah Ma, kami permisi.” Pamit Akram berjalan menghampiri Freya yang terlihat sedang mondar – mandir di posisinya.
Freya berusaha menebak bagaimana mereka sudah berlaku tidak sopan terhadap nyonya Aksara yang tidak berpamitan sebelum pergi. Bahkan wajah Akram terlihat tidak ada rasa bersalah sama sekali.
Ckieeettt.....mobil Akram berhenti di pertigaan jalan, yang membuat Freya semakin tidak mengerti akan maksud dari tindakannya. Freya melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil. Dan betapa terkejutnya ia melihat di sekitar tempat mereka berhenti.
__ADS_1
“ Ini....?” refleks Freya menutup mulutnya tidak percaya.