Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 71 Pemakaman Nyonya William


__ADS_3

Melihat tubuh ibu angkat Dara yang sudah terbujur kaku membuat Freya langsung menutup mulutnya dan tubuhnya sedikit limbung karena kakinya tidak kuat menopang tubuhnya.


Freya jatuh terduduk dengan isakan tangis yang tidak dapat ia tahan lebih lama lagi.


" Innalilahi Wainnailaihi Roziun." Ucap Freya berusaha menguatkan dirinya agar dapat berdiri dan melangkah menuju posisi Dara.


" Kau urus lah pemakaman nyonya William, aku akan menemani Dara di sini." Ucap Freya kepada Darren.


Freya sudah tidak menghiraukan penolakan dari Dara yang bersi keras menjaga egonya. Dengan tegas ia mendatangi Dara dan berusaha menenangkannya.


" Aku turut berduka cita! Semoga kau tabah menghadapinya!" Ucap Freya.


" Terima kasih Frey! Dan maafkan aku." Ucap Cleona.


" Ehm, sudahlah! Itu sudah berlalu. Aku senang kau baik - baik saja dan tidak semakin terjerumus ke dalam jurang. Apakah persahabatan kita sewaktu kecil dapat kita jalin kembali?" Tutur Freya.


" Kau masih menganggapku seorang sahabat meskipun aku telah menusukmu?" Tanya Cleona.


" Kenapa tidak? Bagiku kau adalah Dara yang aku kenal selama ini. Manusia adalah tempatnya khilaf asal kau tidak mengulanginya lagi. Selain itu, kau hanya lah sebuah boneka yang di manfaatkan oleh tuan William untuk memenuhi keegoisannya. Aku yakin tuan Akram juga telah memaafkanmu bukan?" Ucap Freya.


" Hiks...hiks...hiks.... Terima kasih Frey! Ku harap hubungan mu dengan tuan Akram berjalan baik dan kau bahagia bersamanya." Seru Cleona.


" Semoga saja, aku juga senang mengetahui


Kabar anak laki - laki tersebut tumbuh menjadi seorang pria yang gagah." Ujar Freya.


" Ya kau benar! Awalnya aku ragu untuk mendekatinya karena rumor tentang kepribadiannya yang sangat tertutup dan dingin. Tetapi berkat sebuah foto gadis kecil dengan mengenakan sebuah kalung liontin dia dengan mudah membuka hatinya. Awalnya aku menikmati peranku menjadi dirimu, karena aku sudah terlena dengan kehangatan dirinya. Tapi itu semua tidak bertahan lama dan kebenaran itu pun pada akhirnya terungkap juga. Haaah." Jelas Cleona mengenang masa pertama kalinya ia bertemu dengan Akram.


" Syukurlah! Kau sudah menyadari kesalahanmu! Aku berharap ke depannya persahabatan kita tetap terjalin tanpa memandang masa lalu." Ucap Freya yang memberanikan diri memeluk tubuh Dara.


" Menangislah! Aku akan meminjamkan tubuhku untuk tempat bersandarmu." Ucap Freya sembari menepuk - nepuk pelan punggung Dara.


" Hiks...hiks...hiks......" Dara meluapkan semua air matanya di dalam pelukan Freya.


" Terima kasih!" Ucap Dara di sela - sela isaknya.


" Apa semuanya sudah selesai? Bisa kita berangkat sekarang?" Ucap seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang membalut di tubuh atletisnya.


Mendengar suara yang begitu asing di telinga Cleona, dengan sekejap ia menarik tubuhnya dari dekapan Freya.

__ADS_1


" Anda siapa?" Tanya Cleona mengusap sisa air matanya yang telah mengering di pipinya.


" Anda?" Panggil Freya terkejut dengan sosok pria yang sangat familiar baginya.


" Maaf! Saya hanya di perintahkan oleh tuan Akram untuk mengurus pemakaman nyonya William." Ucap pemuda tersebut yang tak lain adalah Dafi.


" Maaf tuan! Jenazah ibu saya sudah di urus oleh teman saya. Jadi sebentar lagi akan selesai." Tolak Cleona.


" Masalah itu sudah saya tangani. Teman anda sedang memberi kabar kepada seseorang. Jadi tugas saya untuk membawa kalian berdua ke rumah duka." Ucap Dafi.


" Baiklah! Ayo Dara." Ajak Freya yang sudah paham akan watak Akram.


" Tapi...kita mau kemana?" Tanya Cleona bingung.


" Sudah, kau jangan khawatir semua sudah di urus oleh tuan Akram, kita hanya mengikuti perintahnya." Jelas Freya.


"Lalu bagaimana dengan teman saya?" Tanya Cleona masih tidak melihat sosok Darren.


" Teman anda akan segera menyusul." Ucap Dafi.


" Baiklah! Terima kasih tuan!" Ucap Cleona yang di anggukkan oleh Dafi.


Mereka berdua mengikuti langkah Dafi dari belakang. Dafi membukakan pintu belakang mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah duka yang sudah di persiapkan oleh Akram.


" Mari silahkan!" Ucap Dafi mempersilakan tuannya untuk memasuki rumah duka.


" Ini rumah siapa tuan?" Tanya Cleona yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke rumah tersebut.


Sementara, Freya merasa tidak asing dengan rumah yang ia lihat. Pandangannya menyapu ke semua sudut rumah.


Saat memasuki halaman belakang, Freya dan Dara sangat terkejut dengan sosok wanita paruh baya yang ada di depannya.


Dengan mata membulat, keduanya langsung menghampiri wanita tersebut dan menghambur ke dalam pelukannya.


" Bunda...." Ucap Freya dan Cleona serentak.


" Syukurlah kalian tetap bersama. Kau Dara kenapa kau tidak pernah memberi kabar bunda kalau kau sudah pindah kemari." Oceh bunda Sifa yang telah hadir terlebih dahulu di rumah tersebut.


" Kami turut berduka cita atas meninggalnya nyonya William Dara." Ucap bik Fatma yang di ikuti beberapa anak - anak panti lainnya yang turut hadir.

__ADS_1


" Terima kasih! Sudah bersedia menghadiri pemakaman ibu saya." Ucap Cleona yang sangat terharu akan orang - orang yang masih perduli dengannya.


" Kami juga sangat terkejut saat Darren memberi kabar duka ini. Dia langsung menyuruh kami kemari." Jelas bik Fatma.


" Bunda senang bisa bertemu kembali denganmu Dara. Bunda kangen sekali." Ucap bunda Sifa yang kembali memeluk anak asuhnya 16 tahun yang lalu.


" Terima kasih bunda!" Ucap Cleona.


" Apa semua ini juga perbuatan tuan Akram tuan?" Bisik Freya kepada Dafi.


" Menurut anda?" Tanya Dafi balik.


" Ish....dasar kau...ya sudah jelas lah perbuatannya. Dengan kekuasaannya apa yang sulit baginya. Hanya dengan menjentikkan jarinya semua masalah akan beres." Jelas Freya menjawab pertanyaannya sendiri.


" Nah, anda sudah tahu kan. Kenapa bertanya lagi." Ucap Dafi.


" Ish...kau...apa salahnya sih menjawab." Kesal Freya yang memukul pundak Dafi untuk melampiaskan kekesalannya.


" Auw...." Pekik Dafi mengelus pundaknya yang terasa sakit.


Freya hanya tertawa senang telah membalas perbuatan Dafi. Dengan mengejek mengulurkan lidah ke arah Dafi Freya langsung berlari menjauh dari Dafi.


Bruk.....tubuh Freya menabrak seseorang saat berlari, tubuhnya hampir terjatuh jika sebuah tangan kekar tidak menarik pinggangnya ke dalam dekapannya.


" Au...wwww." teriak Freya yang terkejut saat melihat tubuhnya sudah berada di dalam pelukan pria tersebut.


" Tuan!" Pekik Freya menatap wajah tampan yang selalu memenuhi pikirannya.


" Kau sudah lancang sekarang ya!" Ucap Akram yang berhasil menangkap tubuh Freya.


" Maaf tuan! Saya tidak sengaja dan tidak melihat anda." Ucap Freya yang langsung tersadar akan posisinya yang akan membuat orang lain salah paham. Dengan cepat ia menarik tubuhnya dari dekapan Akram.


" Maaf tuan!" Ucap Freya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Akram yang menatapnya dengan tajam.


" Ckkk, berani - beraninya sekarang kau menggoda pria lain di depan ku hah.." cebik Akram menatap tajam ke arah Dafi. Merasa di tatap dengan mata elang, Dafi hanya mengangkat kedua pundaknya.


" Haaah, menggoda pria? Kapan saya seperti itu?" Tanya Freya tidak terima akan tuduhan Akram.


" Cih...." Decak Akram berlalu melewati Freya begitu saja.

__ADS_1


" Eh, tunggu tuan!" Ucap Freya bingung sambil melihat ke arah Dafi, yang hanya di sambut dengan kedikan bahu.


" Ish apaan sih! Kenapa sikapnya seperti anak kecil begitu. Ada apa sih dengan mereka berdua?" Gumam Freya juga mengedikkan kedua bahunya dan bergabung dengan kumpulan bunda Sifa.


__ADS_2