
Sebuah senyuman yang terus tersemat menghiasi bibirnya mengiringi langkahnya menuju ke kantor.
" Ah, cerah banget cuaca pagi ini." Gumam Freya sambil bersenandung ria.
" Hai Fre! Selamat pagi! Kau membawa payung?" Sapa Arsy saat tiba di kubikelnya.
" Pagi Arsy cantik! Untuk apa payung? Cuaca cerah begini kok!" Ucap Freya langsung menyalakan komputernya.
" Cerah? Hello...cerah dari mana? Dari hongkong? Kau masih mimpi ya?" Ujar Arsy merasa heran akan sikap Freya yang tidak seperti biasanya.
" Tu lihat di luar! Awan gelap sudah menyelimuti langit." Sambungnya sambil menunjuk ke arah jendela.
" Benarkah?" Sahut Freya cuek.
" Ish..... Ne anak, kesambet setan apa ne bocah!" Cebik Arsy dongkol yang tak di hiraukan oleh Freya.
" Selamat pagi! Ah hujannya deras sekali untung saja dari rumah sedia membawa payung." Sapa Cakra.
" Sudah hujan? Ah enaknya kalau hujan begini santai di rumah dengan selimut dan makanan yang hangat. Ini malah di hadapkan oleh pekerjaan yang menumpuk." Keluh Arsy.
" Ish...dasar kau ini! Mau hujan badai pun tanggung jawab itu harus segera di kerjakan jangan mengeluh saja. Ayo cepat selesaikan waktu untuk proyek kita semakin dekat. Jangan bermalas - malasan!" Seru Freya yang sudah memulai mengerjakan pekerjaannya.
" Ah, kau hari ini sangat aneh! Bukankah selama ini jika jam kerja turun hujan kau yang selalu mengeluh! Pikiran selalu travelling ke makanan yang panas dan pedas." KetusArsy.
" Hei! Ada apa dengan kalian? Pagi - pagi begini sudah ramai sekali seperti di pasar saja." Tegur Darren yang datang terakhir langsung menuju ke kubikelnya
" Ah selamat pagi Durren eh Darren! Untung kau datang! Noh, si Freya entah kesambet setan apa dia pagi - pagi di cuaca yang sedang turun hujan deras dia malah dari tadi bersenandung ria dan semangat sekali. Tolong tuh di pawang biar gak makin parah." Cebik Arsy.
" Memangnya dia kenapa?" Tanya Darren menyelidik Freya ke kubikelnya yang terlihat tersenyum di depan komputernya.
Merasa ada yang aneh pada diri sahabatnya membuat Darren juga penasaran akan tingkah Freya yang tidak seperti biasanya.
Tok...tok...tok... " Kau habis menang lotre?" Tanya Darren mengetuk - ngetuk meja kerja Freya.
" Kenapa?" Tanya Freya menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Darren.
" Ku lihat sedari tadi kau tersenyum terus? Kau sedang jatuh cinta?" Telisik Darren menatap tajam wajah Freya.
" Puft...hahahahahha jatuh cinta? Memangnya harus ya kalau tersenyum itu orang yang sedang jatuh cinta?" Cibir Freya mengabaikan keberadaan Darren dan melanjutkan pekerjaannya.
" Ckkk..... Kau benar - benar aneh! Semoga kau sehat selalu ya!" Ucap Darren kembali ke mejanya.
" Selamat pagi!" Sapa Gio yang beberapa menit sudah berada di ruangan.
" Eh... Selamat pagi pak!" Balas mereka serentak.
Mata Gio menatap lurus ke arah Freya yang terlihat masih tersenyum di depan komputernya. Dengan rahang yang mengeras membuat Gio tidak dapat menerima hasil pembicaraan anggota timnya.
__ADS_1
Dengan raut wajah yang terlihat kecewa, Gio mempercepat langkahnya menuju ruangannya yang hanya tersekat oleh sebuah dinding yang tingginya hanya 1,5 meter.
" Arrrggghhhh, secepat itu kau move on dari ku! Bisa - bisa nya kau dengan mudah berpaling hati ke pria lain. Aku benar - benar kecewa padamu Freya!" Gumam Gio meluapkan kekesalannya dengan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.
Tingg....sebuah email masuk ke handphone Gio. Dengan malas ia terpaksa membuka isi email tersebut.
" Ah, lagi - lagi laporan pekerjaan proyek pemasaran produk baru." Gumam Gio.
" Ah kenapa harus keluar sih! Eh tunggu...ketua dan wakil? Ehmm..." Senyumnya langsung terkembang saat melihat sebuah laporan penugasan keluar kota.
" Apa? Melakukan perjalanan dinas keluar kota selama tiga hari?" Pekik Freya setelah mendapat surat penugasan dari kantor.
" Kan itu sudah menjadi tugasmu bambang? Kenapa baru kali ini kau malah mengeluh sih?" Cebik Arsy kesal melihat ekspresi Freya yang tidak senang mendapat tugas dinas keluar.
" Yoi, malah kami merasa iri kenapa hanya ketua dan wakilnya saja yang selalu pergi. Sesekali anggotanya dong!" Cetus Cakra.
" Udah, kali ini terima saja tugas mu seperti biasanya. Yang kau sambut dengan bahagia dan semangat." Ucap Arsy.
" Yeaahhh, itukan dulu sekarang mah beda." Cebik Freya merasa mendapat tugas dinas keluar kali ini dengan rasa canggung dan tidak semangat.
" Apa bedanya? Kan ketuanya masih tetap pak Gio dan wakilnya adalah kau sendiri." Timpal Cakra.
" Ya beda lah kalau dulu kan aku dan pak Gio masih.....ups." henti Freya tidak melanjutkan ucapannya dengan refleks menutup mulutnya.
" Kenapa? Kau dan pak Gio masih apa hah...?" Tekan Arsy meminta penjelasan dari Freya.
" Ehmmmm, masuk akal. Kalau begitu kau harus berhati - hati, sebisa mungkin hindari kesempatan kalian untuk berdua saja." Ucap Arsy mengingatkan.
Mendengar ucapan Arsy, membuat mereka bertiga menganggukkan kepala untuk membenarkannya.
" Itu tidak masalah! Kau harus profesional dalam membagi pekerjaan dengan pribadi. Kau jangan merasa canggung bersikaplah seperti biasanya saja. Untuk besok bersiap - siaplah dengan materi mu dan jangan terlambat." Ucap Gio yang langsung membuyarkan obrolan mereka berempat.
" Baik pak!" Ucap Freya.
" Ah, kenapa dia tiba - tiba muncul seperti itu sih! Bikin kaget saja." Cetus Arsy.
" Sudahlah! Ayo kita makan siang berhubung di luar masih gerimis kita makan di kantin saja yuk!" Potong Cakra setelah melihat jam makan siang telah tiba.
" Yok lah, aku sudah lapar nih! Karena cuaca dingin penghuni di perutku sedari tadi terus berdemo saja." Sambung Arsy.
" Kau bagaimana Darren?" Tanya Arsy.
" Kalian saja, aku ada janji di luar." Ucap Darren selesai merapikan mejanya dan bersiap - siap untuk keluar.
" Eits, janji? Sejak kapan kau memiliki janji di luar tanpa sepengetahuanku hah...apa sekarang kau sedang memiliki gadis incaran?" Selidik Freya melihat sikap Darren yang tidak seperti biasanya.
" Memangnya aku anak kecil yang masih dalam pengawasanmu hah. Aku juga mempunyai privasi." Tegas Darren.
__ADS_1
" Kau....oh...begitu kau sekarang ya! Awas saja kau nanti. Ckkkk." Cebik Freya merasa kesal dengan sikap Darren yang terkesan telah menyembunyikan sesuatu.
" Aku pergi duluan ya!" Pamit Darren tanpa menghiraukan wajah jutek Freya.
" Ah, sekarang anak itu sudah dewasa." Cetus Cakra.
" Yok kita berdua saja yang makan!" Ajaknya ke Arsy.
" Ehm...ayo lah!" Balas Arsy.
Melihat teman - temannya sudah pergi, membuat Freya merasa jenuh juga. Ia pun pergi ke pantry untuk membuat segelas teh hangat untuk menemani roti isi yang ia bawa dari rumah.
" Kau sudah berhasil move on dariku?" Tanya Gio yang sudah berdiri di ambang pintu pantry.
" Ah pak Gio? Ini di kantor saya tidak ingin orang akan salah paham jika mendengar perkataan bapak." Ucap Freya tenang.
" Aku sudah perduli! Aku sangat menyesal mengapa menyembunyikan hubungan kita selama lima tahun ini." Ucap Gio.
" Itu sudah menjadi masa lalu."
" Tidak, aku ingin kau ada di masa depanku bukan hanya menjadi masa lalu." Tolak Gio.
" Huftttt.. maaf kalau saya lancang! Kau jangan egois Gio! Sekarang raihlah masa depanmu bersama isteri mu yang sekarang. Sesama wanita aku juga dapat merasakan bagaimana rasanya jika pria yang ku cintai masih menyimpan perasaan kepada wanita lain dan menutup hatinya untuk memberi kesempatan baginya." Jelas Freya berusaha menekan kuat perasaannya yang kepada Gio yang masih melekat di hatinya.
" Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau jangan membohongi perasaanmu Frey." Cekal Gio tidak menerima perkataan Freya.
" Sadarlah! Sekarang statusmu sudah menjadi suami orang dan sudah milik wanita lain." Ucap Freya tegas.
" Itu hanya status yang tertulis! Aku tetap menjadi milikmu dan kau akan selalu ada di hatiku Frey." Ujar Gio masih bersikeras mempertahankan ucapannya berharap Freya akan memberi kesempatan baginya.
" Berikan aku kesempatan Frey! Kita bangun kembali hubungan kita yang sempat putus." Harap Gio.
" Hahahahahaahah, bangun lah Gio! Mimpi mu terlalu tinggi. Seandainya kita menjalin kembali hubungan ini, pasti akan terasa asing bagi kita dan mungkin saja perasaanku tidak sama seperti semula." Ucap Freya.
" Baiklah! Semoga kau dapat menerima keputusanmu sendiri Gio! Aku juga ingin melanjutkan hidupku meski tanpa dirimu." Ucap Freya berjalan melewati Gio yang menghalangi pintu.
Greb....tangan Gio telah menyambar tangan Freya yang hendak pergi.
Dengan mata yang melebar membuat batas kesabaran Freya telah habis.
" Lepaskan!" Teriak Freya namun semakin Freya memelas genggaman tangan Gio semakin kuat.
" Gio ku mohon lepaskan! Kau jangan membuat akal sehatku hilang." Pinta Freya.
Meski mendengar rengekan Freya, tak membuat Gio bergeming akan genggamannya. Di saat Freya mulai mengambil kuda - kuda terdengar suara panggilan dari luar.
" Gio....!" Panggil seorang wanita yang membuat Gio dengan terpaksa melepaskan genggamannya. Kesempatan ini langsung di ambil Freya untuk pergi dan dengan sengaja bahunya ia tabrakkan ke dada bidang Gio dengan sekuat tenaganya.
__ADS_1
Saat keluar dari pantry, Freya berpapasan dengan seorang wanita. Mata mereka membelalak sempurna saat melihat Gio muncul di belakang Freya.