Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 18 Bertemu di Panti


__ADS_3

“ Permisi bik! Makan malam sudah siap!” ucap gadis kecil sekitar berusia 12 tahun yang bernama Niken.


“ Baiklah! Nanti kami akan menyusul.” Ucap Bik Fatma.


“ Mari tuan, sudi kiranya anda mau bergabung dengan anak – anak panti untuk makan malam bersama!” tawar bik Fatma kepada Akram.


“ Baiklah!” ujar Akram menerima untuk makan malam bersama.


Suasana di meja makan sudah ramai di isi oleh anak – anak panti yang berjumlah sekitar 26 orang. Hanya beberapa kursi yang masih terlihat kosong.


Freya yang dibantu beberapa anak panti yang berusia remaja mengatur dan menyusun piring – piring untuk anak – anak panti yang lain agar tetap menciptakan suasana yang tertib dan disiplin.


“ Ken, sudah kau panggil bik Fatma untuk makan malam?” tanya Freya setelah selesai mengatur adik – adiknya.


“ sudah kak! Ternyata tamu bik Fatma belum pulang.” Jawab Niken.


“ Oh, begitu ya! Berarti akan nambah satu lagi ini piring untuk tamu tersebut. Sebentar akan kakak ambil di dapur ya!” ujar Freya sambil berlalu ke dapur.


“ Mari silahkan tuan!” ucap bik Fatma


mempersilahkan Akram menduduki kursi yang sudah tersedia piring.


“ Terima kasih bu!”


Semua anak – anak panti memberi salam kepada Akram dengan menundukkan kepala mereka. meskipun sosok Akram tidak asing lagi bagi mereka namun kesempatan kali ini merupakan suatu hal yang di luar dugaan.


Mereka bisa berada dalam satu meja dengan sorang donatur terbesar untuk panti ini. Biasanya mereka hanya bisa mengintip – intip sosok Akram saat ia berkunjung ke panti.


Anak – anak panti begitu mengagumi wajah Akram yang terlihat sangat tampan bila di lihat dari jarak sedekat ini.


“ Kau memasak ini semua Niken?” tanya bik Fatma yang memang tugas Niken untuk menyiapkan makan malam anak – anak yang di bantu oleh kedua temannya Andin dan Sabira.


“ Tidak bik. Kami hanya membantu saja.” Jawab Niken.


“ Lalu siapa?” tanya bik Fatma.


“ Halo bik! Maaf baru ini aku bisa mengunjungi anak – anak.” Sapa Freya menghampiri bik Fatma yang langsung mencium punggung tangannya.


“ Ah kau! Apa kabarmu? Dasar anak nakal, sudah berapa lama kau tidak kemari dan sekarang kau tidak memberi kabar terlebih dahulu.” Ucap bik Fatma yang memeluk Freya.


“ Ah, aku lupa. Kita kedatangan tamu Frey.” Ucap bik Fatma menepuk dahinya yang hampir mengabaikan Akram.


“ Aku sudah tahu....ah Anda....” pekik Freya sangat terkejut melihat Akram dengan santai duduk di kursi di depannya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Akram, saat pandangan mereka bertemu sontak membuat Akram terkejut namun ia dapat menutupi wajah keterkejutannya.


Melihat reaksi di antara mereka berdua membuat bik Fatma mengernyitkan kedua alisnya.


“ Kalian saling kenal?” tanya bik Fatma.


“ Tent..u saja bik, siapa yang tidak kenal dengan tuan Akram donatur tetap panti ini.” Jelas Freya


“ Kau benar! meskipun kau sudah lama meninggalkan panti ini tapi kau tetap mengetahui para donatur panti ini.” Ucap bik Fatma.


“ Tentu bik, kan bunda sering cerita tentang keadaan panti ini.” Ujar Freya berusaha bersikap tenang agar tidak membuat kesalahan.


“ Baiklah kalau begitu, mari kita mulai makan malamnya. Maafkan saya tuan yang sudah membuat anda menunggu lama.” Ucap bik Fatma.


“ Tidak masalah!”


Suasana di meja makan terasa canggung bagi Freya, tidak seperti biasanya yang dapat menghidupkan suasana.


“ Ah canggung sekali! Kenapa bertemu dengannya di sini sih!” gumam Freya dengan melirik ke arah Akram. Saat ia mencuri pandang, Akram juga memandang ke arah Freya spontan pandangan mereka saling beradu.


“ Ah, mati aku. Pandangan kami beradu pula. Ah...ku harap waktu berjalan dengan cepat.” Ucap Freya dalam hati.


“ Terima kasih ya kak! Sudah mampir ke panti. Kami kangen tahu gak sih,” ucap Niken setelah mereka menyelesaikan makan malam dan sedang berkumpul di ruang tamu.


“ Bibi mengantar tuan Akram ke depan. Tumben lho kak tuan Akram itu mau berkunjung ke panti selain di jadwal kunjungannya. Itu pun hanya sebentar saja sementara hari ini, tuan Akram bahkan bergabung makan malam dengan kita. Sungguh di luar dugaan.” Sambung Andin.


“ Iya benar! kami bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata tuan Akram sangat tampan.” Ujar Sabira.


“ Dasar kau...ganjen amat sih!” teriak Niken sambil menipuk bantal sofa ke arah Sabira.


“ Ishh biari...”


“ Sudah! Kalian masuklah ke kamar. Belajar lah dengan baik.” Titah Freya melerai perdebatan di antara adik – adiknya.


“ Baik kak! Ohya kak bagaimana keadaan Ezra?” tanya Niken.


“ Mudah – mudahan ia cepat sembuh! Karena minggu depan Ezra akan operasi transplantasi jantung. Semoga cocok dengannya.” Jelas Freya.


“ Amin...semoga Ezra cepat pulang. Selamat malam kak. Assalamualaikum.” pamit Niken yang disusul oleh kedua temannya.


“ Iya. Walaikumsalam.” Jawab Freya.


“ Ah..jadi canggung kalau pulang dan bertemu dengannya.” Gumam Freya menghempaskan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


“ Bagaimana keadaan Ezra?” tanya Bik Fatma yang datang dari arah pintu masuk.


“ Mulai stabil bik, dan minggu depan Ezra akan menjalani operasi transplantasi jantung.” Jawab Freya.


“ Alhamdulillah syukurlah! Tapi bagaimana dengan biayanya Frey.” Tanya bik Fatma.


“ Jangan khawatir bik, aku dan Darren sudah mengumpulkan dari semua tabungan kami di tambah dari bunda Syifa.”


“ Benarkah? Maaf sudah merepotkan kalian.”


“ Bibi bicara apa sih! Merepotkan apanya. Malah kami akan merasa menjadi anak yang durhaka jika kami hanya diam tanpa membantu.”


“ Ohya bik, tuan Akram sudah pulang?”


sambungnya


“ Sudah! Kau juga sebaiknya pulang, ini sudah larut.”


“ Baiklah bik. Aku pulang ya! Assalamualaikum.” Pamit Freya pulang tak lupa mencium punggung tangan bik Fatma.


“ Iya walaikumsalam. Kau hati – hati di jalan.”


Freya pun pergi meninggalkan panti. Hari sudah cukup larut, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam.


“ Ah! Hari yang melelahkan. Belum lagi besok ya! Ish malas sekali datang ke acaranya. Dasar menyebalkan!” pekik Freya meregangkan pinggangnya denga kedua tangan di angkat ke atas.


“ Semangat Freya!” teriak Freya menyemangati dirinya dengan melangkah menuju halte dengan di iringi senandung untuk menutupi kegalauan hatinya.


Baru beberapa langkah melewati pintu gerbang panti, langkah Freya terhenti dengan keterkejutan batin yang tak terduga.


“ Ah...Tuaan!” pekik Freya terkejut melihat Akram berdiri menyandar di mobil sedan Marcy black metallicnya.


“ Kau...”


“ Maaf tuan! Saya sudah izin kepada tuan Dafi kalau saya hari ini pulang telat. Lalu kenapa anda masih ada di sini?” tanya Freya


“ Ckck.. masuklah!” titah Akram.


“ Terima kasih tuan, saya naik bus saja. Masih ada bus terakhir kok.” tolak Freya.


“ Ah kau ini merepotkan sekali.” Ujar Akram yang langsung menarik tangan Freya dan menuntunnya untuk masuk ke mobil.


“ Eh tuan...tung....” ucapan Freya langsung tercekat saat ia mendapat tatapan yang seakan – akan bisa membunuh kapan saja.

__ADS_1


“ Baiklah...” ujar Freya pasrah mengikuti keinginan Akram yang tidak dapat di bantah.


__ADS_2