
Freya terus melajukan kecepatan sepeda motornya tanpa menghiraukan pengguna jalan lainnya.
Ciieeeeeettttt......... Freya mengerem motor secara mendadak setelah tiba di lokasi pabrik mebel yang sebagian besar sudah di lahap oleh si jago merah.
Mata pemilik motor tersebut membelalak sempurna melihat Freya langsung menerobos masuk ke area pabrik.
" Apa yang dilakukan wanita itu? Apa dia sudah tidak waras?" Decaknya melihat kenekatan Freya.
Freya terus berlari masuk ke dalam berusaha mencari sosok yang berhasil mengganggu pikirannya.
" Halo tuan! Akhirnya anda mengangkat telepon saya? Sekarang anda dimana?" Tanya Freya setelah teleponnya di angkat oleh Dafi.
" Maaf nona, saya sedang sibuk! Ada apa anda menelepon saya?" Jawab Dafi.
" Sekarang anda dimana?" Teriak Freya.
" Eh....saya di...!" Dafi tidak melanjutkan ucapannya karena terkejut melihat Freya telah berada di depannya.
" Di mana tuan Akram?" Tanya Freya menghampiri Dafi.
" Tuan masih di dalam nona! Petugas sedang menyelamatkannya." Jelas Dafi.
" Bagaimana bisa dia masih terjebak di dalam? Apa anda tahu posisi tuan Akram?"
" Tadi saat kami selesai rapat, tuan keluar terlebih dahulu tapi saat api langsung menyambar saya tidak melihat tuan di luar nona!" Jelas Dafi.
" Arghhh."
Tanpa memikirkan keselamatannya, Freya berusaha menerobos api yang masih melahap bangunan.
" Nona!" Panggil Dafi tapi tidak berhasil mencegah Freya untuk masuk.
" Hoshh...hosh....." Suara sesak dari seorang pria yang masih berada di dalam ruangan terjebak oleh kobaran api yang mengelilinginya.
" Siapapun tolong aku!" Gumamnya dengan tubuh yang lemas, ia tidak menyangka akan terjebak dalam situasi yang sama saat dirinya masih berusia 15 tahun.
Seketika rasa trauma langsung menghinggapi pikiran yang menghambat logikanya untuk berpikir.
" Tuannn!" Panggil Freya terus mencari keberadaan Akram.
Terdengar secara samar - samar seseorang memanggil namanya. Akram berusaha melawan rasa takutnya agar seseorang dapat menemukannya.
" Tuaaaan, anda di mana?"
" Aku di sini...." Teriak Akram yang berasal dari sebuah ruangan.
Freya menajamkan pendengarannya yang menangkap suara meski terdengar samar - samar.
Freya mendatangi satu persatu ruangan yang sudah di selubungi oleh api.
" Tuan!"
Braaakkkkk....... Dengan sekuat tenaga Freya mendobrak pintu dengan kakinya.
__ADS_1
" Tuaaann! Bertahanlah!" Teriak Freya langsung menghampiri Akram yang masih terduduk lemas dengan memeluk kedua lututnya.
Freya segera melepas sweternya dan membalutkannya ke tubuh Akram yang terlihat gemetaran.
" Ayo tuan! Anda pasti bisa melawannya!" Teriak Freya berusaha memapah tubuh Akram yang tidak bisa ia gerakkan.
" Ada saya di sini! Semua akan baik - baik saja." Ucap Freya meyakinkan dengan memegang kedua pipi Akram.
Melihat wajah Freya yang tidak berubah seperti wajah 16 tahun yang silam. Dengan tersenyum Akram menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk berdiri.
" Ayo tuan! Ruangan ini akan segera terbakar." Ucap Freya memapah tubuh Akram dan membantunya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Kobaran api berhasil di padamkan oleh petugas pemadam kebakaran, sebagian petugas juga mengevakuasi para pekerja yang masih terjebak di dalam gedung.
Melihat Akram dan Freya berhasil keluar dari dalam gedung dengan melewati pintu belakang membuat Dafi merasa lega. Dengan berlari ia menghampiri kedua tuannya dan langsung membawa Akram ke dalam mobil.
" Tuan!" Panggil Dafi khawatir dan mengambil alih untuk memapah tubuh Akram yang terlihat lemah.
" Anda baik - baik saja nona?" Tanya Dafi.
" Saya tidak apa - apa tuannn.." ucap Freya lega
Dan bruk...tubuh Freya hampir terjatuh jika tidak di tangkap oleh seorang pemuda yang entah dari mana asalnya.
" Nona..."
" Kita harus membawanya ke rumah sakit tuan!" Ucap pemuda tersebut yang menggendong Freya.
" Ah baik lah! Tolong bawa masuk ke dalam." Ucap Dafi.
" Tentu tuan! Aku akan mengingatnya." Jawab pemuda tersebut.
" Kalau saya boleh tahu, mereka di rawat di rumah sakit mana tuan!" Tanya Pemuda tersebut.
" Maaf!" Ucap Dafi yang langsung melajukan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan pemuda tersebut.
" Ck..dasar payah! Baiklah, aku akan mencarinya sendiri." Decak pemuda tersebut.
Drrrttttt.....drtttt.....sebuah handphone miliknya bergetar, seperti sudah hapal siapa si penelepon tersebut ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
" Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengannya?" Tanya seorang wanita dari seberang telepon.
" Sudah Ma!" Jawab pemuda yang memiliki usia 24 tahun tersebut.
" Lalu! Apa yang terjadi selanjutnya?"
" Dia merebut motorku dan masuk rumah sakit." Jelasnya.
" Apaaaa? Kenapa bisa begitu Zedan?" Teriak wanita tersebut yang di panggil mama oleh Zedan.
" Ceritanya panjang ma! Pokoknya dia benar - benar wanita terbodoh yang pernah kutemui." Cebik Zedan dengan sebuah senyuman yang menyeringai.
" Kau mengatainya bodoh hah...dasar anak bandel awas kalau kau menyakitinya." Teriak Mama Zedan.
__ADS_1
Mendengar teriakan mamanya Zedan menjauhkan handphone dari telinganya.
" Pokoknya kau cari tahu keadaannya!" Ancam nyonya Reya mamanya Zedan.
" Iya ma!" Ucap Zedan menutup panggilannya.
" Haaahhh, belum bertemu saja sudah seperti itu reaksinya. Baiklah saatnya untuk bekerja." Gumam Zedan langsung menstater motornya dan melaju ke jalan raya.
Pesawat sudah lepas landas yang membawa rombongan tim divisi pemasaran. Arsy, Cakra dan Darren mendapat kursi yang berdampingan.
" Freya sudah mengabarimu?" Tanya Arsy kepada Darren.
" Belum."
" Ah, anak itu apa sih yang sebenarnya terjadi tiba - tiba kabur begitu saja." Cetus Arsy.
" Pasti ada sesuatu yang urgen sampai ia merelakan liburannya begitu saja." Timpal Cakra.
" Tapi apa? Aaahhh, bikin orang khawatir saja! Awas kalau aku sudah pulang dari liburan ini." Omel Arsy.
" Sudahlah! Jangan di pikirkan. Sekarang nikmati saja liburanmu. Aku yakin Freya pasti baik - baik saja." Ujar Darren.
" Baiklah! Meskipun kurang menyenangkan tanpa Freya." Ucap Arsy lemas.
" Gitu dong! Kau istirahat saja. Nanti kalau sudah mendarat akan ku bangunkan." Ucap Cakra.
" Ehmmm..."
Keesokan hari setelah kejadian kebakaran di pabrik mebel, kamar rawat Freya dan Akram sengaja di letakkan bersebelahan.
" Bagaimana keadaan tuan Akram tuan?" Tanya Freya setelah ia siuman dan mendatangi kamar Akram.
" Tuan masih belum sadar nona! Beliau hanya masih syok akan traumanya." Jawab Dafi yang menjaga di depan kamar rawat Akram.
" Boleh saya masuk?" Tanya Freya
" Silahkan nona!"
" Terima kasih tuan!"
Freya tidak menyangka dapat melihat sosok Akram kembali yang sama persis seperti wajah 16 tahun yang silam.
" Bagaimana kabar anda tuan? Syukurlah anda bisa bertahan sampai saya di beri kesempatan kembali untuk menyelamatkan anda. Terima kasih anda bersedia menunggu saya. Saya mohon bukalah mata anda. Saya janji akan mentraktir anda ke tempat - tempat yang biasa saya kunjungi." Ucap Freya menatap nanar wajah Akram yang masih memejamkan matanya .
Dengan memberanikan diri, ia menggenggam tangan Akram yang masih tersambung dengan selang infus.
" Enak ya! Menjadi seorang CEO, memiliki banyak waktu untuk bersantai - santai. Ahh, kenapa anda curang sih! Padahal karyawan anda saat ini masih tenggelam dengan pekerjaan yang selalu mengejar - ngejar mereka. Akan saya tarik ucapan saya tuan jika anda tidak membuka mata." Seru Freya terus - menerus mengajak Akram mengobrol.
" Aahh, entah mengapa saya tiba - tiba menjadi seseorang yang bodoh pergi begitu saja dari liburan saya. Ckk padahal hanya tinggal chek in saja. Huftttt." Hela Freya.
" Jadi, cepatlah bangun tuan agar anda dapat mengganti hari liburan saya yang terlewatkan begitu saja.Hikkss......" Isak Freya menitikkan air matanya.
" Maaf!" Terdengar suara parau yang keluar dari mulut Akram.
__ADS_1
Mendengar itu, membuat Freya terkejut dan membelalakkan mata.
" Tuaaannnn!" Pekik Freya.