Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 15 Segelas Cokelat Hangat


__ADS_3

“ Ah! Ternyata sudah larut! Sangking keasyikan ngobrol jadi lupa waktu deh!” gumam Freya melihat waktu di arloji yang melingkar di lengannya sudah ke angka 23.15.


Dengan cepat, Freya menekan tombol lift menuju lantai 17 yang langsung tersambung tepat di depan unit apartemen tempat tinggalnya.


Saat pintu lift hendak tertutup rapat, secara tiba – tiba sebuah tangan kekar menahan pintu lift agar tidak tertutup.


Melihat kejadian tersebut membuat Freya terkejut dan memundurkan langkahnya ke belakang sambil memasang kuda – kuda.


Setelah berhasil masuk, wajah Freya berubah menjadi lega mengetahui siapa yang menahan pintu lift dan masuk ke dalam.


“ Huft....ternyata anda tuan!” ucap Freya lega dengan mengelus dadanya yang sudah berdegub sangat kencang.


“ Memang kau pikir siapa?” tanya Akram datar.


“ Ya saya pikir orang iseng gitu.”


“ Kau pikir unit apartemen ini sembarangan apa?”


“ Iya maaf! Tidak mungkin juga orang lain bebas keluar masuk ke sini.”


Suasana menjadi hening dan canggung. Freya menggenggam tali tasnya dengan kuat.


‘ Ah, kenapa lama sekali sih sampainya. Kenapa aku bisa satu lift dengannya sih’. Ucap Freya dalam hati dengan sesekali melirik ke arah Akram.


Ting..pintu lift terbuka saat tiba di lantai 17. Dengan cepat Freya keluar dari lift mendahului Akram yang masih mematung di posisinya.


“ Anda tidak keluar tuan?” Freya terpaksa bertanya saat melihat Akram tidak bergeming dari posisinya.


Tersadar dari lamunannya, Akram segera keluar tanpa menghiraukan Freya yang sedari tadi memperhatikannya.


“ Cih dasar! Basa – basi gitu kek! Tumben sekali dia gak fokus. Ah bukan urusanku.” Gumam Freya kesal melihat Akram berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.


“ Ah! Segarnya sehabis mandi. Sebelum tidur, buat susu dulu ah!” ucap Freya setelah selesai membersihkan tubuhnya.


Saat Freya keluar dari kamarnya, ia berpas – pasan kembali dengan Akram yang juga keluar dari kamarnya.


Dengan memberanikan diri Freya bertanya meskipun ia sudah menebak itu akan sia – sia saja.

__ADS_1


“ Anda butuh sesuatu tuan? Kebetulan saya ingin ke dapur untuk membuat susu. Apa anda ingin saya buatkan? Maaf kalau saya sudah lancang.” Ucap Freya.


Beberapa saat tidak ada jawaban, Akram pergi dahulu turun ke lantai satu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata yang terpejam.


“ Sudah ku duga!” oceh Freya yang mengangkat kedua bahunya juga turun ke lantai satu menuju dapur.


Saat melewati ruang tamu, Freya melirik Akram yang terduduk menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Entah mengapa, ia merasa Akram sedang tidak baik – baik saja.


“ Ah! Hari ini dia terlihat aneh.” Gumam Freya melanjutkan langkahnya menuju dapur.


“ Baiklah! Mungkin segelas coklat panas akan mengembalikan mood mu tapi ya jangan berharap di sentuhnya dong.” Gumam Freya sambil mengaduk coklat panas yang ia buat dua gelas sekaligus.


“ Ah dapur semegah ini membuatku ingin berlama – lama berkreasi. Baiklah Freya karena kau sudah mendapat izin untuk menggunakan dapur ini, besok aku akan belanja mingguan. Mulai besok aku akan memasak kembali. Lumayan juga untuk penghematan. Hihihihi.” Oceh Freya sambil mengamati sekitar dapur.


“ Ok selesai. Mudah – mudahan ia tidak marah dengan kelancangan ku ini.” Lanjut Freya berjalan menghampiri Akram di ruang tamu.


“ Segelas susu coklat yang hangat dapat mengembalikan mood menjadi ebih baik lagi setelah seharian beraktivitas.” Ujar Freya meletakkan segelas coklat hangat di meja.


“ Anda tidak perlu berterima kasih Tuan! Anggap saja saya sebagai pelayan anda untuk mencicil membayar utang saya.” Sambungnya meskipun tidak ada tanggapan dari Akram yang masih tetap dalam posisinya.


“ Selamat malam! Semog tidur anda nyenyak tuan!” pamit Freya langsung pergi menuju ke kamarnya.


“ Huft.....benar – benar dingin dan datar sekali sih jadi orang. Bersahabat sedikit kek! Apa selama hidupnya dia tidak pernah bersosialisasi apa.” omel Freya kesal dengan menyeruput coklat hangat.


“ haaaahhh, memang segelas coklat hangat obat yang ampuh untuk mengembalikan mood, tapi bagi dia berlaku gak sih! Lihat nanti saja lah. Disentuh apa tidak.” Freya menghabiskan coklat hangatnya.


Sebelum ia ke alam mimpi, Freya menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Setelah selesai Freya duduk di pinggir ranjang dan membuka laci meja untuk mengambil sebuah kotak kecil yang terlihat sudah usang dimakan usia.berwarna coklat


Sebuah kalung dengan mainan liontin yang berbentuk bintang dengan sebuah matahari yang berada di tengahnya dan sebuah jepitan rambut berwarna hijau dengan motif kupu – kupu yang sudah terkelupas.


“ Ku harap pemilik dari kalung ini masih hidup dan selalu sehat. Wajah paniknya selalu terbayang jelas di benakku. Apa kabar kau Tuan!” gumam Freya memperhatikan dua benda yang di anggapnya sebagai harta karun yang tak ternilai.


Ah! Jika melihat benda ini, langsung teringat musibah kebakaran Panti 15 tahun yang lalu. Dan kau Dara bagaimana kabarmu sekarang? apakah kau bahagia dengan keluarga baru mu? Setelah aku sadar kau sudah pergi meninggalkan aku dan Panti. Dasar kau jahat.”


Drrrrtttt....drttt.......lamunan Freya langsung buyar saat melihat handphonenya berdering.


“ Halo....kau masih hidup hah?” teriak seseorang dari seberang.

__ADS_1


“ Hei, kecilkn suaramu? Kau bisa merusak telinga ku tahu?” omel Freya menjauhkan handphonenya dari telinga.


“ Ah, kenapa kau tidak pernah menghubungiku sih! Apa kau tidak membutuhkan ku lagi hah....” omelnya yang tak lain adalah sahabat Freya, Diandra sejak di bangku kuliah


“ Maaf Di, aku kan tidak tahu kapan jadwal kosong mu! Lagi pula perbedaan waktu di sana dengan di sini kan cukup jauh.” Bela Freya.


“ Ah sudahlah! Kalau seperti itu alasanmu dah payah bilang. Gimana kabarmu? Kenapa jam segini belum tidur?” tanya Diandra.


“ Iya! Tadi telat pulangnya. Habis menjenguk Ezra, minggu depan dia akan operasi transplantasi jantung.” Jelas Freya.


“ Syukurlah! Bagaimana keadannya? Lalu biayanya gimana?”


“ Kondisinya stabil dan masalah biaya, aku patungan dengan Darren.”


“ Kau mendapatkan uang sebanyak itu dari mana hah? Kau tidak menjual dirimu kan?”


“ Dasar kau ya! Kenapa terus berburuk sangka sih! Ya gak lah. Aku dapat pinjaman dari perusahaan dan menggadaikan apartemenku di tambah dengan tabunganku selama ini.”


“ syukurlah! Ohya aku dengar Gio akan menikah hari sabtu ini! Apa kau baik – baik saja?”


“ Entahlah! aku masih menata hati dan memulai hidup baru lagi. Yang paling utama aku akan berusaha menerima kenyataan ini.” Jelas Freya.


“ Ehm, baguslah. Sia – sia saja aku mengkhawatirkanmu. Apa kau butuh pasangan untuk ke pesta?”


“ Apa kau sudah pulang?”


“ Mungkin kalau sesuai jadwal.”


Baiklah! Sampai ketemu nanti honey! Aku sudah ngantuk. Dah....” pamit Freya.


“ Ehm.. semoga tidurmu nyenyak beb... see you..” balas Diandra.


Panggilan terputus, Freya pun bersiap – siap untuk tidur, namun ia tidak bisa membiarkan gelas kotornya yang masih berada di meja kamarnya. Dengan langkah yang malas, ia pergi ke dapur untuk mencuci gelasnya.


Saat melewati ruang tamu, langkah Freya terhenti melihat Akram sudah terlelap dengan nyenyak..


Mata ekor Freya tertuju pada sebuah gelas yang terletak di atas meja.

__ADS_1


" Eh.....?" Ucap Freya terkejut...


__ADS_2