
Mendengar suara yang tidak asing di telinga kedua wanita tersebut, membuat mereka berdua menoleh ke asal suara tersebut. Dengan wajah yang langsung berubah pucat membuat bibir kedua wanita tersebut menjadi keluh dan bergetar.
" Kau.....?"
" Anda...?"
Ucap mereka serentak dengan wajah yang terkejut seperti melihat makhluk astral.
" Jadi, seperti ini cara bermain mu?" Tanya Akram dengan menatap tajam ke arah wajah Cleona seakan - akan siap untuk menerkam mangsanya.
Melihat tatapan yang terasa menusuk langsung ke jantungnya membuat tubuh Cleona bergetar dan berkeringat.
" Itu..aku bisa menjelaskannya?" Ucap Cleona tergagap.
" Aku hanya memintanya kembali setelah ia pinjam selama 15 tahun. Itu adalah hadiah perpisahan dariku agar ia tetap mengingatku." Sambungnya memberanikan diri saat melihat Akram yang sudah menstabilkan tatapannya.
Melihat situasi di antara Dara dan Akram membuat Freya masih mencerna maksud dari perkataan Dara. Mengapa ia mengaku sebagai pemilik dari kalung liontin tersebut. Meskipun mulutnya ingin sekali bertanya tapi niatnya ia urungkan dan hanya menyimak dari situasi yang ada di hadapannya.
" Benarkah?" Telisik Akram menatap satu persatu kedua wanita yang ada di depannya.
" Benar? Maaf aku sudah berbohong padamu yang mengatakan kalau kalung itu aku yang menyimpannya aku takut kalau kau marah jika kalung itu aku berikan pada sahabatku saat di panti 15 tahun yang lalu. Tepatnya setelah peristiwa kebakaran itu." Jelas Cleona dengan pernyataan palsunya.
" Cih....jadi selama 15 tahun ini kau sudah pandai bersandiwara rupanya. Pandai memutar balikkan fakta. Memang pantas kau menjadi seorang model yang pandai berakting." Cebik Freya dalam hati sangat kesal dengan sikap Dara yang bertolak belakang dengan dirinya 15 tahun yang lalu.
" Ehm...begitu rupanya? Baiklah! Kau berhak meminta kembali kalung tersebut dan kembali ke pemilik aslinya.
" Benar! Setelah kami bertemu, aku akan mengambil kembali kalung tersebut." Ucap Cleona masih meneruskan kebohongannya.
" Baiklah! Teruskan saja sandiwara mu Cleona!" Ucap Akram memotong ucapan Cleona.
Seketika Freya berteriak saat ia teringat akan perkataan nyonya Aksara tentang kalung tersebut.
" Kyaaaa...jadi anda anak laki - laki 15 tahun yang lalu?" Pekik Freya begitu syok mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Mendengar ucapan Freya membuat Cleona membelalakkan matanya dan merasa posisinya sudah berada di ujung tanduk kerbau yang sedang berlari menggarap sawah.
" Kau mengenalnya?" Tanya Cleona pura - pura tidak tahu apa - apa.
" Ah itu......"
" Ya, kami saling mengenal dan ternyata kami sudah bertemu 15 tahun yang lalu." Potong Akram.
" Apa....?" Ucap Freya dan Cleona serentak dengan raut wajah yang terkejut dan mulut yang terbuka.
" Mengapa kau berbohong?" Tanya Akram kepada Cleona dengan penekanan kata.
" Aku....." Gagap Cleona tidak dapat berkata - kata.
__ADS_1
" Kau... Jadi ini alasanmu meminjam kalung liontin itu? Mengapa kau melakukannya hah... Aku sangat berharap bertemu kembali denganmu, selama 11 tahun kita hidup bersama di panti aku kira sudah mengenalmu dengan baik. Ah, kenapa aku bisa kehilangan sosok Dara yang penyayang dan lembut." Ucap Freya memotong perkataan Cleona dengan kekecewaan yang mendalam.
" Sekarang aku mengerti! Apa alasanmu Dara? Aku yakin kau pasti terpaksa melakukannya bukan?" Tanya Freya.
Merasa terpojokkan dengan situasi yang tidak menguntungkan, Cleona memutuskan untuk meninggalkan mereka.
" Ck...dasar payah!" Cebik Cleona pergi begitu saja.
" Dara....! " Teriak Freya memanggil Dara yang sudah keluar dari pintu kafe.
" Biarkan saja dia!" Tahan Akram
" Tapi tuan! Saya merasa Dara sedang kacau. Saya takut dia akan..."
" Dia butuh waktu sendiri untuk merenungkan semua perbuatannya." Ucap Akram.
" Ah baiklah! Anda benar." Pasrah Freya duduk kembali ke kursinya.
" Aaahh...benar - benar suatu kenyataan yang mengerikan." Keluh Freya meratapi nasibnya.
Sementara Akram hanya menatap Freya dengan tenang dan membiarkannya untuk memenangkan dirinya.
Sementara kepala Freya sudah merasa pusing memikirkan kejadian hari ini yang telah ia hadapi. Dengan memberanikan diri, ia menatap wajah Akram yang masih menatapnya juga. Tatapan mereka pun saling bertemu untuk sesaat.
Dengan menarik panjang nafasnya, Freya membuka suara.
Melihat wajah Freya yang tidak berani menatap wajahnya membuat Akram ingin tertawa namun dapat ia tahan.
" Puft....."
" Anda tertawa?" Tanya Freya melihat Akram sempat tertawa. Baru kali ini ia melihat Akram tertawa lepas meski di pungkiri.
" Kau salah lihat." Tepis Akram.
"Ckk....dasar! Sudah jelas saya melihat anda tertawa sok jual mahal tidak mau mengakuinya. Padahal anda kalau tertawa terlihat semakin ganteng lho." Cebik Freya dengan wajah yang cemberut.
" Ckkk....hahahahahahhaaha." Tanpa di sadari nya Akram tertawa lepas tanpa menghiraukan Freya di depannya.
" Haah tu kan, kalau mau tertawa! Tertawa saja jangan di tahan - tahan." Ketus Akram.
"Kenapa?"
" Ya karena sebelum tertawa itu di larang dan mahal." Ceplos Akram.
" Ah, kau sangat aneh! Sejak kapan tertawa itu di larang?" Ucap Akram.
" Hanya anda yang tahu tuan! Karena baru ini saya melihat anda tertawa. Mungkin sebelumnya anda di larang tertawa makanya wajah anda selalu terlihat datar tanpa ekspresi." Ceplos Freya begitu lancar mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
" Hah? Benarkah!" Tanya Akram memajukan wajahnya ke depan wajah Freya.
" Kyaaa....." Teriak Freya terkejut.
" Kenapa kau teriak?" Tanya Akram
" Wajah anda terlalu dekat bikin jantung saya sakit." Ujar Freya memegangi dadanya yang berdetak cukup kencang.
" Hahahahahaaha, kenapa kau sampai terkejut begitu? Bukankah kau sudah pernah?" Goda Akram.
" Ah, kenapa anda bicara seperti itu? Yang waktu itu tidak di sengaja kok!" Cebik Freya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Huft.... Aku lega bisa bertemu dengan gadis kecil pemberani yang tanpa ragu menolong seseorang yang tidak ia kenal sama sekali." Ucap Akram menerawang jauh ke belakang.
" Ah, itu...saya lebih bersyukur bisa bertemu lagi dengan anak laki - laki yang begitu tak berdaya saat kakinya terjepit di tengah kobaran api. Ternyata ia sudah tumbuh menjadi pria yang gagah dan tampan." Ucap Freya dengan memasang wajah senyumnya menatap Akram dengan raut yang berseri.
Deg... Saat melihat senyuman manis yang menghiasi bibir isteri kontraknya membuat hati Akram terasa ada yang bergetar dan menghangat. Tidak ingin terlihat wajah merona nya Akram pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Hahahahahahahahahaha....."
Mendengar suara tawa Freya yang tiba - tiba pecah membuat Akram mengernyitkan dahinya dan menatap wajah Freya.
" Kenapa kau tertawa?" Tanya Akram tidak mengerti.
" Ternyata wajah anda terlihat imut juga jika sedang merona. Sama persis saat anda memasang wajah yang memelas saat anda dalam keadaan tak berdaya. Itu mengingatkan saya kepada anak laki - laki tersebut." Jelas Freya mengusap air matanya yang keluar akibat tertawa.
" Ck....dasar kau!" Cebik Akram.
" Sejak kapan anda mengetahui nya tuan?" Tanya Freya merasa penasaran.
" Beberapa bulan yang lalu!" Jawab Akram.
" Haah, pantas sikap anda sedikit lebih ramah kepada saya!" Ucap Freya.
" Mungkin perasaan mu saja. Sikap ku tidak ada yang berubah." Elak Akram
" Ck...dasar! Sok jaim, ya meskipun memang tidak banyak yang berubah sih!" Cebik Freya.
" Baiklah! Karena kita sudah di sini apakah kau mau makan malam sekalian?" Tawar Akram.
" Ah tentu saja tuan! Kesempatan ini harus di ambil! Jangan di sia - siakan." Girang Freya mendapat tawaran untuk yang pertama kalinya.
" Dasar norak!"
" Biari! Yang penting perut kenyang!"
" Ckkkk....." Cebik Akram yang di balas sebuah cengiran dari Freya.
__ADS_1