Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 47 Bayangan yang Menghantui


__ADS_3

" Selamat pagi Frey! Cepat juga kau datangnya!" Sapa Agni saat mereka bertemu di bandara.


" Oh nona! Selamat pagi juga! Anda juga ikut?" Tanya Freya merasa lega karena mereka tidak hanya berdua.


" Iya, kebetulan aku juga ada pemotretan di pulau Bali. Kau merasa terganggu?" Ucap Agni melihat wajah Freya terlihat sedih di matanya.


" Aku tidak akan memberikan kalian kesempatan untuk berdua apalagi menjalin kembali hubungan kalian." Gumam Agni dalam hati benar - benar tidak ingin melepaskan pujaan hatinya.


" Ah, tidak sama sekali nona! Justru saya senang ada yang menemani. Saya berpikir akan merasa canggung dalam perjalanan dinas kali ini. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman." Jelas Freya merasa lega dengan sebuah senyuman yang di paksa.


" Ah syukurlah, kalau begitu ayo kita masuk! Kami duduk di kelas bisnis. Jadi sampai jumpa di bandara Bali Frey." Pamit Agni masuk duluan dengan menggandeng tangan Gio.


" Baik nona!" Seru Freya.


Sementara Gio tidak bisa berkutik karena Agni selalu ada di sampingnya. Ia berpikir akan mendapat kesempatan kembali untuk mendekati Freya. Namun kenyataannya tidak lah sesuai dengan harapannya.


" Tersenyumlah! Apa kau merasa keberatan jika aku ikut? Lagian memang jadwal ku sangat kebetulan bisa berbarengan dengan jadwal dinas perjalananmu. Jadi sekalian saja kita pergi bersama dan berbulan madu." Ucap Agni.


" Terserah kau saja." Ujar Gio malas.


" Ah, kau payah!" Cebik Agni.


" Hufttt...syukurlah isterinya ikut juga meskipun hatiku masih sakit melihatnya bermesraan dengan wanita lain. Setidaknya tidak ada rumor yang aneh antara ketua divisi pemasaran yang sudah menikah dengan wakilnya yang masih singel. Haaah kenapa malang sekali nasibku ini." Keluh Freya sambil berjalan menuju ruang check in.


" Ah sementang anak CEO, bisa memilih kelas bisnis yang lebih lengkap fasilitasnya. Lah, aku ini apa lah hanya seorang karyawannya saja. Yang selalu berada di kelas ekonomi. Ah! Sadarlah Frey, seharusnya kau bersyukur masih di beri nafas hingga saat ini. Berhenti mengeluh! Setidaknya dia tidak di kelas yang sama denganku. Jadi selama perjalanan aku bisa santai." Gumam Freya setelah mendapat kursinya. Dengan segera ia menghempaskan bokongnya di kursi yang terdiri dari lima kursi dalam satu baris. Ia beruntung kursinya berada dekat jendela.


" Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, perjalanan membutuhkan waktu 2,5 jam. Kalau begitu aku tidur saja deh! Gara - gara begadang nonton drakor jam segini sudah mengantuk." Ucap Freya langsung memasang kacamata kudanya untuk menutupi matanya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah pergi menjelajahi alam mimpinya.


" Permisi nona!" Ucap Akram saat melewati kursi yang di tempati seorang wanita muda yang berada di samping kursi Freya.

__ADS_1


Seperti terhipnotis wanita tersebut tidak dapat berkata - kata saat melihat wajah tampan Akram dengan balutan setelan jas hitam yang terlihat sangat mahal telah menyapanya.


Bagaikan di hampiri malaikat membuat wanita tersebut terbuai akan pemandangan yang ada di hadapannya.


" Bisa kah aku bertukar kursi dengan anda?" Tawar Akram memberikan nomor bangku nya dan sebuah cek yang bertuliskan nominal jumlah uang dengan delapan digit angka nol setelah angka 1.


" Benarkah ini untuk saya tuan?" Ucap wanita tersebut dengan mata yang berbinar saat melihat isi cek yang di sodorkan pria di sebelahnya.


" Tentu saja, jika anda mau bertukar tempat duduk dengan saya. Cek ini akan menjadi milik anda." Ucap Akram.


" Ini asli? Anda tidak menipu saya?" Tanya nya meragukan keaslian dari cek tersebut.


" Anda jangan khawatir saya menjamin cek ini asli." Ucap Akram meyakinkan wanita tersebut.


" Ehm...baiklah saya terima tawaran anda. Apa anda butuh nomor telepon saya." Tawar wanita tersebut.


" Tidak." Ucap Akram cepat dan tegas.


" Cih...sombong sekali. Untung ganteng." Cebik wanita tersebut dan menyambar cek yang ada di tangan Akram..


" Ehm, sama - sama tuan!" Balas wanita tersebut.


Setelah berhasil mendapatkan tempat duduk yang ada di sebelah Freya meskipun dengan negosiasi yang cukup alot. Akram menatap wajah polos Freya yang sudah terlelap.


Dengan di iringi sebuah senyuman yang terukir di bibirnya, Akram memindahkan posisi kepala Freya yang menyandar di dekat jendela dan menyandarkannya di pundaknya yang kekar.


" Ckk, dasar! Bisa - bisa nya dengan mudah tertidur di sembarang tempat. Ceroboh sekali." Cebik Akram melihat tingkah Freya yang gampang tidur di mana pun ia berada.


Sementara wanita yang ada di sebelahnya hanya bisa menelan salivanya melihat sikap Akram yang begitu hangat dan lembut kepada wanita yang ada di sisi kanannya.


" Sayang sekali dia sudah ada yang punya. Sungguh beruntung wanita itu." Gumamnya sedikit merasa iri.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Freya merasakan tidur yang nyenyak. Ia merasakan kepalanya mendapat sandaran yang hangat dan terasa nyaman. Ia tidak menyadari bahwa tempat sandarannya adalah sebuah pundak dari Akram.


Ya tanpa sepengetahuan Freya, Akram diam - diam mengikuti Freya pergi ke Bali. Akram merasa ada yang aneh pada dirinya, kenapa ia sampai sejauh ini dan begitu konyol telah mengikuti Freya secara diam - diam.


Meskipun awalnya ia tidak dapat mendapatkan kursi di sebelah Freya namun ia masih bersyukur masih bisa di kelas yang sama dengannya.


Ini pertama kalinya dalam hidup Akram melakukan perjalanan dengan pesawat kelas ekonomi. Suatu hal yang tidak biasa bagi Akram mengalami hal yang tak pernah ia bayangkan sama sekali.


Entah mengapa hatinya terasa nyaman saat melihat wajah tenang Freya dalam lelapnya.


" Ah, entah bagaimana aku mengungkapkan perasaan ini, setelah 15 tahun lebih aku di beri kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu kembali denganmu. Wajah yang sama ia seperti 15 tahun yang lalu." Gumam Akram sembari tersenyum.


Terdengar informasi yang bergema dari operator yang memberi tahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas.


Mendengar suara pengumuman, sontak membuat Freya terjaga dari tidurnya. Dengan mengucek - ngucek matanya, Freya meregangkan otot - ototnya.


" Hoaaaammmm...rasanya untuk pertama kalinya tidurku lelap banget dan terasa nyaman. Sampai - sampai aku bermimpi tidur di sandaran tuan Akram." Gumam Freya.


Saat wajahnya mengarah ke sampingnya, Freya mengernyitkan dahinya merasa heran dengan wanita yang duduk di sebelahnya yang hanya berbatas kan satu kursi yang kosong.


" Hemmmm, kenapa wanita itu pindah di kursi sebelah sana. Seingat ku tadi tempat duduknya tepat di sebelahku deh!" Gumam Freya menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara wanita tersebut hanya tersenyum melihat tingkah Freya yang terlihat seperti orang linglung.


" Kenapa dia dari tadi senyum - senyum gitu sih! Memangnya ada yang lucu ya di wajahku." Gumam Freya yang juga terpaksa membalas senyuman wanita tersebut.


Setelah pesawat landing dengan sempurna, Freya bersiap - siap untuk keluar dan langsung menuju hotel yang telah di check in terlebih dahulu.


Dengan memanggil taksi, Freya memberikan alamat hotel yang ia tuju.


" Sudahlah! Mereka pasti sudah bersenang - senang. Masih ada waktu ku dua jam lagi sebelum bertemu dengan klien. Setelah check in di hotel jalan - jalan dulu deh!" Gumam Freya merasakan kehampaan di hatinya dalam perjalanan dinas kali ini tanpa kekasihnya di sisinya.

__ADS_1


" Huffft...." Freya menghempaskan nafas dengan kasar. Pandangannya melihat pemandangan pinggir laut yang sangat indah. Dengan membuka kaca jendela lebar - lebar Freya menghirup oksigen sedalam mungkin untuk melepaskan kepenatan dan kehampaan di hatinya.


" Ah, di saat seperti ini kenapa bayangan wajah Akram muncul di pikiranku sih! Memangnya apa yang ku harapkan darinya. Sadarlah Freya! Mimpi mu terlalu jauh." Rutuk Freya memukul - mukul kepalanya untuk mengusir bayangan Akram dari pikirannya.


__ADS_2