
Sebuah mobil sedan hitam terlihat menepi di pinggir jalan yang sepi dari keramaian pusat kota.
Seorang pemuda turun dari mobil bersama seorang pria paruh baya yang masih dalam keadaan tangan terikat.
" Lepaskan ikatannya!" Titahnya pada seorang pemuda lain yang juga ikut turun dari mobil.
" Baik tuan!"
" Mulai sekarang hiduplah dengan membuka lembaran baru di jalanan." Ucapnya kepada pria paruh baya meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan raya.
" Cih..." Decak pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah tuan William dengan kasar.
Ya, Akram menyuruh Dafi untuk melepaskan tuan Willian dan membiarkan hidupnya sebatang kara tanpa identitas dan harta. Akram memblacklist identitas dan membekukan sisa aset yang berhasil di simpan oleh tuan William baik berupa apartemen maupun kartu kredit. Selain itu, Akram juga mempersulit baginya untuk mendapat pekerjaan yang layak.
Setelah melepas ikatannya, Dafi bersama seorang pemuda lainnya kembali masuk ke mobil.
" Jaga diri anda tuan William dan semoga beruntung!" Ucap Dafi mengucapkan salam perpisahan sebelum masuk ke mobil.
" Ayo jalan!" Titah Dafi kepada pemuda yang duduk di belakang kemudi.
" Baik tuan!"
" Brengsek kalian semua!" Teriak tuan William saat mobil melintas di depannya.
Suasana yang sepi, gelap karena minimnya cahaya lampu jalan yang redup serta jauh dari pemukiman warga membuat tuan Willian harus berjalan menuju kota.
Ia tidak dapat berbuat apa - apa, tidak ada yang ia bawa kecuali sepotong pakaian yang melekat di tubuhnya. Handphone dan uang telah di ambil semua oleh Akram sebelum ia di buang.
" Ah..dasar sial! Kenapa aku harus berjalan jauh seperti ini sih! Dasar bocah ingusan! Awas saja kau nanti!" Umpat tuan William kesal sambil terus berjalan menyusuri jalan raya pada dini hari.
" Ah haus!" Gumam Freya terjaga dari mimpinya karena tenggorokannya terasa kering.
Ia melirik jam yang ada di atas nakas sebelah ranjangnya.
" Ah masih jam 3 rupanya." Ucap Freya mengucek - kucek matanya dan menutup mulutnya yang menguap lebar.
Dengan jalan yang lunglai membuat Freya harus pergi ke dapur untuk menyiram tenggorokan nya yang sudah paceklik.
Saat melintasi kamar Akram, Freya sempat melirik ke arah pintu yang tidak tertutup rapat. Dengan rasa penasaran, Freya mengendap - endap menuju kamar Akram dan hendak mengintip ke celah pintu yang sedikit terbuka.
" Sedang apa kau hah!" Ucap Akram yang sudah berdiri di ambang pintu.
" Kyaaaaaa...." Teriak Freya terkejut dan spontan ia memundurkan langkahnya ke belakang.
" Kau mengintip?" Tanya Akram.
" Tidak! Anda jangan menuduh saya dengan begitu kejam dong!" Bantah Freya.
" Lalu mengapa kau sampai mengendap - endap menuju kamar ku hah." Serang Akram.
" Ah itu, saya tidak sengaja terbangun karena haus, jadi saya keluar untuk mengambil air minum. Tapi saat saya melewati kamar anda saya melihat pintu anda tidak tertutup rapat, dengan penasaran saya ingin mengeceknya saja kok." Jelas Freya.
" Kau yakin?" Tekan Akram.
__ADS_1
" Tentu saja tuan! Ngomong - ngomong apa anda baru pulang?" Tanya Freya setelah memperhatikan penampilan Akram yang masih mengenakan jubah mandinya.
" Ah, iya aku ada urusan yang mendesak tadi!" Jawab Akram
" Oh.. apa anda ingin makan sesuatu?" Tanya Freya.
" Tidak, namun buatkan saja aku segelas coklat hangat." Ucap Akram.
" Baiklah!" Ucap Freya langsung pergi ke dapur.
" Silahkan tuan!" Ucap Freya menyodorkan segelas coklat hangat ke arah Akram yang sudah duduk di meja makan.
" Terima kasih!" Ucap Akram mengambil cokelat hangatnya dan menyeruputnya langsung.
" Maaf kalau saya lancang tuan! Anda pergi kemana?" Tanya Freya hati - hati merasa penasaran setelah mereka pulang bersama tidak lama ia mendengar pintu kamar Akram terbuka dan keluar lagi.
" Ah, tadi ada urusan yang harus ku selesaikan malam ini!" Ucap Akram.
" Apa ini berhubungan dengan rumor tersebut?"
" Benar!"
" Apa anda sudah menangkap pelaku yang sudah menyebarkannya?"
" Ehm. Kau jangan khawatir masalah itu sudah selesai."
" Siapa?"
" Tuan William. Dia lah dalang semuanya!"
" Dalang?"
" Dalang dari semua drama yang ia buat dua tahun yang lalu."
" Maksudnya?" Tanya Freya berusaha mencerna dengan situasi yang ada.
" Ah.. anda bilang tuan William! Apakah tuan William yang anda maksud adalah orangtua adopsi dari Dara?" Ucap Freya setelah ingat nama dari tuan William yang tidak asing di telinganya.
" Benar! Dia lah dalang dari masalah ini. Sampai ia memanfaatkan anak angkatnya."
" Ahhh, jadi maksud anda masalah tunangan anda!"
" Tepatnya yang berperan menjadi tunanganku!"
" Ah, ya. Apa yang anda lakukan padanya?"
" Menjadikannya seorang gelandangan yang hidup di jalanan." Ucap Akram.
" Haah. Bagaimana bisa?"
" Ehmmm....jangan kau urusi yang bukan urusanmu? Dia pantas mendapatkannya!" Ucap Akram meneguk habis coklat hangatnya.
" Begitu ya! Lalu bagaimana perasaan anda setelah mengetahui kebenarannya? Ah maksud saya, saya tidak mengharapkan imbalan apapun." Ucap Freya hati - hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
__ADS_1
" Lega!"
"Lega?"
" Lega karena masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan gadis kecil yang pemberani melawan bahaya tanpa ragu telah menyelamatkan orang lain padahal bisa saja nyawanya juga ikut terancam." Jelas Akram dengan senyum yang terukir di bibirnya.
" Ah begitu ya!" Ucap Freya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Lalu, apa yang akan anda lakukan terhadap Dara? Apakah anda masih memiliki perasaan padanya?" Tanya Freya.
" Entahlah!"
" Begitu ya!"
" Baiklah tuan! Saya permisi ke kamar! Semoga tidur anda nyenyak!" Pamit Freya
" Ehm..."
" Selamat pagi!" Sapa Arsy yang datang terakhir.
" Ehm pagi." Balas Freya,Cakra dan Darren bersamaan.
" Ah, benar - benar rumornya hilang bagai di telan bumi. Lenyap tanpa tersisa sedikitpun." Keluh Arsy lesu di kursinya.
" Bukankah kau telah menyimpan filenya?" Tanya Freya.
" Iya benar! Kalian tahu, kemarin malam aku di chat oleh nomor yang tak di kenal, ia memperingatiku agar segera menghapusnya. Sampai aku merinding di buatnya bagaimana dia bisa tahu kalau aku berhasil menyimpannya." Ucap Arsy.
" Benarkah?" Ucap " Kalau begitu apa Diandra juga mendapatkan peringatan seperti itu?" Sambungnya dalam hati.
" Benarlah! Kalian tahu, sangking takutnya aku tidak bisa memejamkan mataku hingga aku terjaga sampai pagi." Keluh Arsy.
" Sebelumnya kan sudah ku peringatkan! Kau saja masih berkeras." Cebik Cakra kesal.
" Iya ya! Aku yang salah, untungnya aku masih bisa menghirup udara pagi ini. Ah benar - benar sangat menakutkan tuan Akram itu." Ucap Arsy bergidik ngeri jika membayangkan peristiwa yang mendapat peringatan dari orang - orangnya Akram.
" Syukurlah kau tidak apa - apa!" Ucap Freya.
" Iya benar!" Sambung Cakra.
Freya diam - diam memperhatikan Darren yang sedari tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka. Sambil memicingkan matanya ia menelisik wajah Darren dengan seksama.
Ia pun mengirim chat ke nomor Darren.
[ Ayo makan siang di luar! Ada yang ingin ku tanyakan padamu! Tidak ada bantahan!] Tulis Freya mengirimkannya kepada Darren.
[ Baiklah] balas Darren
Dengan tersenyum ke arah Darren, Freya hanya dapat mengucapkan kata ok dengan isyarat bibir.
" 15 menit lagi kita akan mengadakan rapat mengenai proyek menu makanan baru di hotel jadi saya harap kalian mempersiapkan bahan untuk mempresentasikannya. Saya harap bahan dari kalian tidak mengecewakan berhubung masa tenggat kita tinggal dua minggu lagi." Ucap Gio yang baru masuk ke ruangan divisi pemasaran sebelum ia masuk ke ruangan.
" Baik pak!" Ucap mereka serentak dan bergegas menyiapkan bahan untuk rapat.
__ADS_1