
Akram merutuki dirinya yang sedari tadi begitu ketus terhadap Freya. Entah mengapa ada perasaan tak tenang jika melihat Freya begitu lepas dan gampang tersenyum kepada orang lain. Sementara bila berhadapan dengannya memasang wajah yang kaku.
Saat ia keluar dari ruang kerjanya, ia menatap ke segala ruangan yang begitu terasa sepi.
" Apa dia sudah tidur?" Gumam Akram melihat arloji di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul 21.25.
Matanya tertuju ke meja yang terdapat segelas susu. Ia pun menghampiri meja dan meraih gelas tersebut.
" Masih hangat!" tanpa ragu ia meneguk habis tanpa menyisakan setetes pun di dalam gelas.
Langkahnya menuntunnya untuk keluar mencari angin. Dengan memakai pakaian rumahan, Akram memutuskan pergi ke minimarket mencari minuman.
Langkahnya terhenti saat ekor matanya menangkap bayangan sepasang insan yang terlihat sedang bertengkar. Dengan mengamati secara seksama ia pun langsung mengenal akan sosok wanita tersebut.
Tanpa berpikir panjang, ia pun berteriak dari posisi tempat ia berdiri yang hanya berjarak sekitar beberapa meter dari mereka.
" Lepaskan tanganmu darinya!" Teriak Akram dengan suara bariton yang terdengar tegas dan mendiskriminasi.
Mendengar sebuah teriakan dari arah belakang mereka, Freya dan Gio menoleh secara bersamaan dan dengan wajah yang terkejut membuat mereka membulatkan mata.
" Tuaannn!"
" Anda...!"
Ucap mereka bersamaan, tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Freya.
" Ah, jadi seperti ini kelakuan seorang menantu dari CEO HVZ Group yang terhormat." Ucap Akram dingin.
" Haah, Maaf tuan Akram! anda jangan ikut campur dengan urusan saya." Balas Gio.
" Saya tidak perduli dengan urusan anda, urusan saya belum selesai dengan wanita ini.. bukankah tidak pantas seorang pria beristeri berduaan dengan wanita lain di tempat sunyi seperti ini?" Ucap Akram dingin dan menarik lengan Freya dengan menatap tajam ke arah Gio yang memerintahkan agar melepaskan genggamannya.
Melihat tatapan yang begitu tajam, membuat Gio tidak punya pilihan untuk melepasnya.
Grab, Akram menarik tangan Freya dan membawanya pergi begitu saja meninggalkan Gio yang mematung si posisinya.
" Hah sial! kalau tidak karena proyek kerjasama dengannya,aku sudah membawa Freya pergi darinya." Rutuk Gio dengan tangan yang terkepal memukul udara.
Sepanjang jalan Akram memegang tangan Freya tanpa berniat untuk melepasnya. Sementara Freya hanya pasrah tidak berkutik tanpa berani membuka suara. Ia hanya bisa menatap punggung Akram yang terlihat sangat lebar.
" Ah, ternyata punggungnya sangat lebar apalagi bagian dadanya ya! pasti sangat nyaman untuk di sentuh. hihihihi...." gumam Freya.
" Ah....apaan sih, apa yang kau pikirkan, keluar dari sana..." rutuk Freya sambil memukul - mukul kepalanya mengusir pemikirannya yang negatif.
__ADS_1
" Sedang apa kau?" tanya Akram menghentikan aksinya..
" Ah, tidak apa - apa tuan! terima kasih!" ucap Freya.
" Untuk apa?" tanya Akram menghentikan langkahnya dan melepas genggamannya.
" Tentu saja saya harus berterima kasih dengan anda, berkat kedatangan anda saya bisa terlepas dari pria brengsek itu." kesal Freya mencebikkan wajahnya.
" Dasar lemah!" cebik Akram.
" Maaf tuan! saya tidak selemah yang anda pikirkan, saya hanya takut wajah tampannya akan tergores oleh jari - jari indahku ini! lalu jika jari ku lecet siapa yang akan bertanggung jawab!" ucap Freya menatap jari - jari tangannya.
" Hah, wajah seperti itu kau bilang tampan? payah sekali seleramu." Ejek Akram.
" Terserah anda menilainya seperti apa." kesal Freya menjatuhkan bokongnya di kursi taman.
" Haaa, hari yang melelahkan!" keluhnya tanpa sadar menghabiskan minuman kalengnya.
Melihat kelakuan Freya, membuat Akram memicingkan sebelah matanya yang melirik ke arah Freya.
" Kau baik - baik saja?"
" Sebenarnya tidak, tapi di depan orang lain aku harus kuat. Anda tahu, betapa sulitnya menenangkan hati ini. Selama lima tahun merasakan damai tiba - tiba di serang oleh bom atom yang meluluh lantakkan hati ini menjadi butiran - butiran debu yang sudah terbang jauh terbawa angin menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Apakah anda tahu, butuh berapa lama untuk menyatukan hati yang telah hancur berkeping - keping tersebut!" tanya Freya mencurahkan uneg - unegnya. Entah mengapa ia begitu percaya pada pria yang tidak berperasaan di sampingnya untuk menceritakan semua permasalahan yang sedang ia hadapi.
" Cari angin. Ayo!" Ajak Akram spontan menarik tangan Freya.
"Eh.."
Kejut Freya yang mengikuti langkah Akram dengan tergopoh - gopoh.
" Tuan! bisa kah anda berjalan pelan? saya sulit mengikuti langkah anda." omel Freya
" Dasar kau ini merepotkan saja! siapa suruh punya kaki pendek." dengus Akram melambatkan langkahnya.
" Ah, sementang anda memiliki kaki yang panjang seenaknya saja menghina kaki saya yang pendek. Begini - begini kaki ini pernah membawa saya ke dalam kejuaraan lari nasional lho di tingkat SMA." ucap Freya bangga dengan membusungkan dadanya.
" Ehm...terserah kau saja lah."
" Ngomong - ngomong kita mau kemana tuan?" tanya Freya yang penasaran akan sikap Akram yang terlihat perduli dengan Freya, namun ia menepis rasa tersebut takut salah paham.
" Naik lah!" titah Akram setelah mereka tiba di basemant apartemen dan menyuruh Freya masuk ke mobil.
__ADS_1
" kenapa masih berdiri disana?" teriak Akram yang sudah duduk manis di belakang kemudi.
" Anu.. tuan..sa..ya duduk dimana?" tanya Freya celingak - celinguk.
" Ish...dasar kau ini, merepotkan sekali sih! tentu saja duduk di sini." ucap Akram menunjuk bangku di sampingnya.
" Ah,,begitu ya... baiklah!" ujar Freya membuka pintu depan dan duduk manis di samping Akram dengan sebuah cengiran.
" Kau berharap duduk di belakang dan aku menjadi supir mu gitu." Cetus Akram.
" Hehehhehehe, kalau bisa kenapa gak tuan! jarang - jarang lho bisa dapat kesempatan naik mobil dengan supir seorang pria tampan." ucap Freya dengan tingkah konyolnya.
Blushhhh,,entah kenapa mendengar sebuah pujian dari mulut Freya membuat wajahnya merona dan di hatinya terjadi sebuah desiran dan getaran yang tiba - tiba melanda. Meskipun sudah beribu kali ia mendengar pujian tersebut.
" Ckkk,,dasar norak." cebik Akram yang melajukan mobilnya.
Akram sangat fokus mengendarai mobilnya tanpa berani melirik ke arah Freya. Sementara Freya melihat keseriusan di wajah Akram membuatnya tidak berani mengeluarkan suara. Entah kenapa ia merasa canggung berduaan dengan Akram di dalam mobil.
Drtt...drtttt......
" Assalamualaikum, kau di mana?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Darren.
" Walaikumsalam,, sedang di jalan!" jawab Freya.
" Kau mau kemana malam - malam begini? cepat beritahu aku agar ku jemput."
" Tidak perlu, memangnya aku masih anak kecil apa? berhentilah mengkhawatirkan aku. Cobalah kau beri waktu pada dirimu sendiri. Mau sampai kapan kau akan menunggu cintamu yang tak pasti. Dasar bujang lapuk!" oceh Freya.
" Ckkk ,dasar kau...itu bukan urusanmu."
" Baiklah! terserah kau saja. Aku baik - baik saja. kau jangan khawatir, aku hanya butuh waktu tuk menenangkan diri."
" Kau yakin?"
" Ehm,,,ohya besok my honey ngajak ketemuan tapi ku bilang di rumah sakit saja sekalian menjenguk Ezra."
" Baiklah! kau hati - hati ya!"
" Asiiapp pak bos, iya Walaikumsalam."
Setelah panggilan terputus, Akram terlihat semakin dingin.
" Kau benar - benar seperti bunglon." ucap Akram
__ADS_1
" Yah, begitu lah tuan jika tidak seperti itu kita akan kalah dalam kerasnya hidup ini." ucap Freya santai.
" Ckkk...dasar kau!" cebik Akram tetapi di lubuk hatinya ia mengakui ketangguhan wanita yang ia pilih sebagai pengganti Cleona. Dengan menghembuskan nafas yang dalam Akram menambahkan kecepatan mobilnya menembus jalan raya yang masih terlihat padat meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 malam.