Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 64 Alasan yang Terungkap


__ADS_3

" Ah, akhirnya selesai juga rapat nya!" Ucap Arsy meregangkan ototnya setelah keluar dari ruang rapat.


" Mau makan siang di mana?" Tanya Cakra


" Bagaimana kita coba kafe depan yang baru buka itu?" Usul Arsy.


" Boleh juga! Ayo!" Ajak Cakra yang di ikuti Arsy.


" Maaf! Kami tidak ikut ya! Ada kerjaan yang harus kami siapkan!" Ucap Freya


" Yah, gak seru! Ya sudalah lain kali aja! Kau mau titip apa? Biar aku belikan untuk kalian?" Ucap Arsy.


" Ehm boleh! Aku titip roti isi telur dengan jus jeruk saja 2!" Ucap Freya


" Ok!"


" Ada apa?" Tanya Darren saat mereka tiba di ruangan kantor bagian divisi pemasaran.


" Kau sudah tahu alasan Dara melakukan ini semua kan?" Tanya Freya sambil menunjukkan sebuah foto.


" Kenapa kau tanya seperti itu?" Tanya Darren balik


" Aku tahu belakangan ini kau sering menemui Dara setelah pertemuan kita bertiga di apartemennya! Bahkan selama ini kau yang terus memantau gerak - geriknya." Jelas Freya.


" Kemarin aku bertemu dengannya?" Sambungnya.


" Huft....baiklah jika kau ingin mengetahuinya. Pulang dari kantor ikut denganku!" Ucap Darren.


" Baiklah!" Ucap Freya beranjak dari kursinya menuju pantry.


" Kau mau minum teh?" Sambungnya.


" Boleh!"


Tanpa sengaja Freya bertemu dengan Gio saat melewati ruang kerjanya, Freya hanya menundukkan kepalanya dan berlalu melewati Gio hang masih berdiri mematung.


Ia sangat tahu bagaimana perasaan Freya, dengan kejamnya ia telah menyakiti hatinya dengan tuduhan yang hina. Gio menyesali akan perbuatannya yang lebih mementingkan egonya dari pada perasaan Freya.


Rasanya ingin ia menggapai tubuh wanita yang ia cintai namun tangannya terhenti di udara. Dengan cepat ia menurunkan kembali tangannya dan terkepal kuat. Kini ia sadar, tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mendekati Freya kembali.


" Haaahh, dasar bodoh!" Rutuk Gio pada dirinya sendiri.


Ia pun langsung meninggalkan ruangan, saat melewati pantry dan melihat tubuh Freya dari belakang yang sedang menyeduh teh, ia hanya bisa memandanginya dari kejauhan.

__ADS_1


" Jika bukan karena pekerjaan, mungkin aku tidak pernah melihatmu lagi Frey! Maafkan aku!" Gumam Gio menyesali perbuatan yang ia ambil sendiri.


Kini ia benar - benar kehilangan wanita yang ia cintai untuk selamanya. Jika saja ia tidak menerima tawaran dari tuan Pramudya tentunya saat ini ia masih bersama dengan Freya dan menutup Freya dari pria lain.


" Haah, semua ini membuatku gila!" Gumamnya meninggalkan pantry.


" Untuk apa kita kemari?" Tanya Freya mengikuti langkah Darren dari belakang.


" Kau akan segera tahu." Ucap Darren terus berjalan menuju ruang rawat melati kelas II.


Langkah Darren terhenti tepat di sebuah ruang yang memiliki dinding kaca yang cukup lebar. Di dalam ruangan terlihat seorang wanita paruh baya tengah terbaring tak berdaya dengan banyaknya selang dari alat - alat yang menempel di tubuhnya.


Wajah yang sangat tirus dan pucat membuat wanita tersebut terlihat seperti boneka yang tidak bernyawa.


" Siapa wanita itu?" Tanya Freya menatap lurus ke depan.


" Wanita itu lah yang menjadi alasan Dara melakukan semua ini!" Ucap Darren


" Maksudmu apakah dia ibu adopsi Dara?" Tanya Freya.


" Benar! Nyonya William mengalami koma selama setahun, dan saat nyonya William sakit keras, Dara di manfaatkan oleh tuan William untuk mengambil keuntungan dari masa lalu kalian. Agar mendapatkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaannya yang terancam bangkrut." Jelas Darren.


" Tetapi belakangan ini tuan William berhenti untuk mendanai perawatan nyonya William, hal itu membuat Dara kesal dan menghilang dari hadapan tuan Akram." Sambungnya.


" Lalu bagaimana nasib nyonya William jika biayanya tertunda?" Tanya Freya.


" Perawatannya akan di hentikan, tentu saja itu tidak akan di biarkan oleh Dara. Bagaimana pun caranya ia berusaha untuk tetap membiayai perawatan ibunya." Jelas Darren.


" Apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Freya.


" Itu bukan urusan kalian! Jangan ikut campur!" Ucap seorang wanita dengan tegas dan tatapan mata yang tajam yang baru tiba di depan ruang pasien.


" Dara?" Pekik Freya terkejut.


" Apa yang kalian lakukan di sini hah!" Berang Cleona melihat kedua sahabat kecilnya telah mengetahui kondisinya selama ini.


" Kau...bukan berarti selama ini aku mau menemui dengan seenaknya kau mengumbar masalahku hah!" Sambungnya menunjuk ke arah Darren.


" Ini bukan salah Darren, aku yang telah memaksanya untuk memberi tahuku masalah mu!" Ucap Freya.


" Lalu, apa kau akan bertingkah seperti pahlawan yang akan menyelamatkan ku!" Ujar Cleona.


" Cih,,,naif sekali!" Sambungnya.

__ADS_1


" Baiklah! Maaf sudah terlalu ikut campur dengan urusanmu, semoga kau berhasil menyelesaikannya sendiri." Ucap Freya berjalan melewati Cleona.


" Maaf! Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kalian, aku juga tidak tinggal diam jika itu menyangkut dengan Freya." Ucap Darren.


" Kau sudah mengetahuinya?" Tanya Cleona.


" Ya, jika bukan karena rumor tersebut aku tidak akan memberitahu Freya apa alasanmu melakukan hal tersebut. Dan pastinya Freya akan mencari terus jawabannya." Jelas Darren.


" Lalu! Apa kau tahu siapa pengantin pengganti dalam rumor tersebut?" Tanya Cleona.


" Entahlah! Itu bukan urusanku." Ucap Darren


" Lalu bagaimana nasib tuan William?" Ucap Cleona mulai mengkhawatirkan keselamatan dirinya.


" Kenapa? Kau khawatir jika tuan Akram mencarimu? Jika itu terjadi kau bisa mengandalkanku. Kau dan Freya sudah ku anggap seperti adikku." Ucap Darren.


" Haahh, sudahlah! Urus saja masalahmu sendiri biarkan ini menjadi masalahku." Ujar Cleona.


" Dasar keras kepala! Baiklah akan ku kasih kesempatan kau menyelesaikan masalah biaya perawatan ibumu! Sampai berapa lama kau bertahan." Ucap Darren sebelum meninggalkan Cleona sendiri.


" Sial! Aku tidak mau kalian kasihan padaku. Itu sangat menyedihkan." Teriak Cleona meskipun Darren sudah hilang dari pandangan.


" Tuan! Berhubung proyek kerjasama antar perusahaan anda dengan tempat saya bekerja bolehkah saya bermalam ke lokasi untuk mempersiapkan acara pembukaannya hingga acara peluncuran produknya?" Tanya Freya setelah mereka selesai makan malam.


" Ehm...terserah kau saja." Ucap Akram.


" Terima kasih tuan! Kalau begitu selamat malam! Semoga tidur anda nyenyak!" Pamit Freya bergegas menuju ke kamarnya.


" Ck..dasar!" Decak Akram juga meninggalkan meja makan menuju ruang kerjanya.


" Ah, selesai packing dan menyiapkan bahan untuk acara peluncuran produknya! Besok pasti hari yang sangat melelahkan, kenapa harus sampai lembur sih!" Gumam Freya bersiap - siap untuk menempati ranjang empuknya.


Pagi hari yang cerah, Freya penuh semangat memulai aktivitas yang ia lakukan setiap hari. Selesai menyiapkan sarapan di meja makan. Freya kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya.


Selesai dengan ritualnya, Freya keluar kamar sudah dalam keadaan rapi. Ia berjalan melewati kamar Akram, namun suasana di dalam kamar begitu hening. Dengan rasa penasaran ia memberanikan diri untuk mengintip dari lobang kunci.


" Aneh! Kenapa tuan Akram belum keluar! Kamarnya pun sepi banget!" Gumam Freya merasa ada yang aneh tidak seperti biasanya.


Dengan perlahan ia membuka gagang pintu kamar dan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Dengan perlahan ia berjalan masuk ke dalam untuk melihat keadaan Akram.


Untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Akram setelah hampir setahun ia tinggal dengannya. Kamar yang di dominasi berwarna hitam dan putih menggambarkan karakter Akram yang dingin.


" Ah, kamarnya saja sama seperti orangnya." Gumam Freya terus mendekati ranjang Akram dengan perlahan.

__ADS_1


__ADS_2