Isteri Pengganti Sang CEO

Isteri Pengganti Sang CEO
BAB 34 Pertemuan Setelah 15 Tahun


__ADS_3

Suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam, meskipun rasa kecanggungan yang biasa di rasakan oleh Freya saat berdua dengan Akram yang berada dalam satu mobil. Kali ini rasa canggung itu terasa berbeda. Entah apa yang ada dalam pikiran Akram saat ini. Wajahnya terlihat semakin dingin dan datar, pandangannya hanya fokus ke depan. Tidak ada suara yang keluar dari mereka berdua sejak beberapa jam yang lalu.


" Kau mengenalnya?" tanya Akram tiba - tiba.


" Hah...! siapa tuan?" tanya Freya balik.


" Wanita itu?"


" Ohhh, dia sahabat saya sewaktu di panti. Namanya Dara. Kami sama - sama di buang oleh kedua orangtua kami yang tidak menginginkan kehadiran kami. Kemudian setelah kami berusia satu tahun, masuklah Darren ke panti yang sudah berusia tiga tahun. Sejak saat itu kami bertiga menjadi sahabat sekaligus saudara. Kemudian, setelah peristiwa kebakaran tersebut, Dara bernasib baik, ia di adopsi oleh orangtua angkat yang pergi di tinggalkan oleh anak mereka. Namun Dara pun harus ikut bersama orangtua angkat yang tinggal di luar negeri. Setelah itu, sampai sekarang kami tidak pernah bertemu sama sekali." Jelas Freya panjang lebar masih mencerna situasi yang masih membingungkannya.


Freya masih berusaha menemukan motif kehadiran Akram di apartemen Dara. Entah suatu kebetulan atau takdir, mereka di pertemukan di satu tempat.


" Kenapa dia bisa ada di sana? apa dia kenal juga dengan Dara?" ucap Freya dalam hati banyak menimbulkan berbagai pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban.


Tiba - tiba terbesit ingatan Freya yang langsung membuatnya terlonjak kaget


" Apa dia tunangan anda tuan?" tanya Freya spontan menebak sambil menatap Akram dari samping.


Melihat Akram tidak menghiraukan pertanyaan Freya,membuatnya menebak - nebak akan kemungkinan besar itu benar.


Flasback on


" Cleona...?" panggil seseorang dari arah lain.


Mendengar suara yang terasa tidak asing di telinga mereka bertiga membuat mereka menoleh ke arah asal suara.


Deg....sontak membuat mereka bertiga membulatkan mata dengan sempurna dengan sosok yang telah berdiri tidak jauh dari mereka.


" Tuan Akram....?" ucap Freya dan Darren serentak.


" Kau....?" ucap Wanita pemilik dari kamar apartemen tersebut tidak kalah terkejutnya dengan dua orang yang ada di depannya.


Dengan langkah yang tegas Akram menghampiri mereka bertiga yang berdiri mematung.


" Ah... ternyata kalian. Maaf aku salah orang!" Ucap Akram setelah mengetahui keberadaan Freya yang juga ada di lokasi tujuannya.


Akram sekilas menatap wanita yang ada di depannya yang tak lain adalah Calon tunangannya Cleona yang kabur saat H-1 hari pernikahannya.


Cleona hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Akram yang menatapnya dengan tatapan dingin. Meskipun hanya beberapa detik, namun Cleona merasakan ketidaknyamanan akan tatapan Akram yang mengintimidasi.

__ADS_1


Melihat situasi yang tidak mendukung, Akram berbalik badan meninggalkan mereka bertiga begitu saja.


" Kenapa dia ada di sini? apa dia mengikuti ku?" ucap Freya dalam hati menatap punggung Akram yang semakin menjauh.


" Eeh..." sontak Freya mengalihkan pandangannya ke arah Cleona.


" Cleona? kau mengganti namamu? sepertinya nama itu tidak asing di telingaku?" gumam Freya yang pandangannya masih melekat ke arah Dara.


" Kenapa kau menatapku seperti itu? aku tidak nyaman dengan tatapanmu." cetua Dara memperingati Freya.


" Cleona atau Dara?" tanya Freya semakin penasaran.


" Itu tidak penting! selama ini kenapa kau menyembunyikan dirimu hah? bahkan kau tidak pernah mengunjungi panti?" cerca Darren kesal.


" Percuma saja kau mengelak Dara. Aku sudah tahu semuanya." sambungnya.


" Apa maksudmu? kenapa kalian mencampuri urusanku hah..." berang Dara.


" Aku tidak menyangka Kau benar - benar sudah berubah!" sesal Darren.


" Buang - buang waktu saja, ayo pulang!" ajak Freya dengan kasar.


" Aah, kelihatannya kau dan pria tadi saling kenal. Maaf sudah mengganggu waktu mu." Sambungnya.


Melihat sikap Freya yang terlihat tenang dalam menghadapi situasi membuat Darren sangat memahami watak Freya kalau sudah marah. Ia pun hanya dapat mengikuti langkah Freya. Mungkin Dara juga masih butuh waktu sendiri dalam memahami situasi yang sedang terjadi.


Terbesit rasa yang menyesakkan di dada Dara saat melihat kepergian kedua sahabatnya. Meskipun ia berusaha menahan egonya tapi rasa sayang kepada sahabatnya yang ada di lubuk hatinya tetap terasa. Terlebih kepada Freya yang selalu banyak membantunya bahkan sampai rela menyelamatkan dirinya yang terjebak di kamar saat peristiwa kebakaran 15 tahun yang lalu.


Tanpa keraguan sedikitpun Freya menerobos api yang berkobar untuk dapat menyelamatkan sahabatnya. Ia benar - benar sudah berhutang nyawa kepada Freya.


Pertemuan pertama mereka setelah 15 tahun tidak pernah bertemu membuatnya harus menguatkan hati untuk mulai menghadapi permasalahan ke depannya. Meskipun ia menyangkalnya tetapi ia selalu di hantu oleh rasa bersalah karena sudah membohongi semua orang termasuk sahabatnya. Ia berharap suatu saat dapat terlepas dari jeratan yang sudah menangkapnya selama 5 tahun.


Tanpa di saudari, air matanya telah mengalir di kedua pipinya bersamaan isakan tangis yang tertahan.


" Maafkan aku." lirih Dara mengusap air matanya.


" Keterlaluan banget sih! untung aja gak ku gampar tu wajah mulusnya. Seenak jidatnya saja berkata tidak kenal dengan kita." oceh Freya meluapkan emosinya ke udara.


" Baguslah! sudah ada perkembangan kau tidak sembarangan menonjok orang." puji Darren.

__ADS_1


" Ahhh,,baiklah! aku ingin secepatnya tiba di rumah untuk menjinakkan emosi ku ini." ucap Freya.


" Butuh tumpangan?" tawar Darren.


" Tidak terima kasih! aku naik ojol saja. kalau jam segini masih ada kok." tolak Freya seperti biasa tidak pernah mau menerima tawaran Darren kecuali dalam keadaan terdesak.


" Ah baiklah! kau selalu seperti itu?" cebik Darren.


" Heheehehe, baguslah kau memahamiku!" cengir Freya.


" Hati - hati lah! telepon aku jika kau tiba di rumah!" titah Darren.


" Ish, cerewet banget sih! iya nanti ku telepon. Dah!" Ucap Freya sambil berlalu menuju jalan raya. Sementara Darren berjalan menuju mobilnya.


" Ahh,,,benar - benar menyebalkan! memangnya seperti apa sih kehidupannya selama 15 tahun ini sampai membuatnya berubah begitu." Omel Freya sepanjang jalan.


" Memang hobi mu selalu mengomel begitu ya!" ucap seorang pria yang telah berdiri di pinggir jalan menyandarkan tubuhnya di mobil.


" Eh,,,ternyata anda tuan? kenapa masih ada di sini?" tanya Freya dengan menatralisirkan keterkejutannya.


" Dan ternyata hobi anda suka membuat orang terkejut dengan kehadiran anda yang tiba - tiba." balasnya tak mau kalah.


" Kau ini...? masuklah!" cebik Akram.


Flashback off


" Jadi benar?" ucap Freya melirik ke arah Akram yang masih bergeming.


" Kenapa kau menyimpulkannya seperti itu?"


" Habisnya kenapa anda diam saja. Di tambah saat anda memanggilnya dengan nama yang sama seperti pada malam itu. Dan jika di perhatikan dari ekspresi Dara juga sama terkejutnya dengan saya dan Darren." oceh Freya panjang lebar.


" Cerewet banget sih!" cebik Akram yang memang tidak menyangkal perkataan Freya.


" Ups...maaf tuan!" Ucap Freya menutup mulutnya rapat - rapat.


" Ckk..."


Dengan perasaan yang kacau, Akram melajukan kecepatan mobilnya menembus jalan raya yang masih ramai akan kendaraan lalu lalang.

__ADS_1


__ADS_2